Titik Pengambilan Foto Saat Memotret Stage

Memotret stage tanpa akses media punya tantangannya sendiri. Saya bukan orang media, dan hampir nggak pernah punya akses khusus ke media pit. Saya sama seperti penonton lainnya, yang kebetulan membawa kamera untuk memotret artis yang perform di stage.

Bagi saya yang aksesnya sama dengan penonton lainnya, ada dua macam pendekatan memotret tergantung subjeknya, apakah itu JKT48 (dan idol group lain) atau artis/band lainnya. Haha, pembedaannya begitu banget ya.

Untuk gambaran dulu nih. Yang suka meramaikan JKT48 saat live itu lebih dari 50%-nya bawa kamera. Mereka memang datang untuk memotret. Jumlahnya makin ke sini makin banyak, sementara jumlah fans umum yang memang datang untuk menonton mereka live entah kenapa semakin sedikit. Para fotografer penggemar JKT48 ini sudah hadir 1-1,5 jam sebelum jadwal live. Datang lebih cepat demi posisi yang enak, seperti titik tengah paling depan. Kalau sudah duduk diam di titik itu, terutama di deretan depan, sangat kecil kemungkinannya untuk bisa pindah-pindah. Rugi posisi, dan pastinya kalau cari posisi lain, sudah dikuasai oleh orang lain. Alhasil, gambar yang dihasilkan kebanyakan memang berasal dari titik yang sama.

Memotret dari titik yang sama sebetulnya tidak terlalu masalah juga bila subjeknya JKT48. Yang difoto ada banyak pilihannya, 16 member. Saat mereka perform, blocking mereka pun berpindah tergantung lagu yang dibawakan. Biasanya sih meski saya diam di titik yang sama, saya tetap bisa kebagian memotret setiap member. Akan lebih enak memang kalau bisa punya lensa tele 200 mm atau 300 mm, karena akan bisa lebih maksimal mendapatkan jepretan setiap member.

IMG_2063

IMG_9175

Kalau kebetulan saya bisa dapat posisi di titik nol (tengah), dan di paling depan, pasti saya nggak akan melewatkan untuk memotret wide, supaya bisa mendapatkan seluruh member dalam satu frame. Apalagi biasanya idol group punya pose andalan saat penutupan sebuah lagu, yang sangat menarik bila diambil dari titik nol. Kalau pun tidak berhasil dapat di paling depan, tapi panggung yang digunakan tinggi, saya malah akan memilih untuk mundur. Tetap di titik nol, tapi saya berdiri agak jauh di belakang. Biasanya saya akan menggunakan bangku lipat dan berdiri di atasnya. Ini yang saya lakukan waktu saya memotret JKT48 dan Dempagumi, Inc di Countdown Asia Festival beberapa bulan lalu.

IMG_1051

IMG_1304

Jadi saat memotret JKT48 dan idol group, ada dua pilihan yang harus diambil. Memutuskan mengambil wide dengan berdiri di titik nol agak belakang, atau memutuskan mengambil detil 1-3 member dalam satu frame, dengan berdiri bebas di manapun (kalau bisa di barisan paling depan). Saya tidak bisa memilih dua sekaligus karena saya sulit meninggalkan posisi saat JKT48 sudah perform.

Nah, untuk memotret artis lainnya di luar JKT48 dan idol group, seperti band atau penyanyi solo, pendekatan saya lebih fleksibel. Mereka umumnya hampir selalu diam di satu posisi. Kalau pun bergerak, lingkupnya tidak banyak. Mereka juga tidak menggunakan koreografi, sehingga pose yang terlihat hampir selalu sama. Kalau saya hanya diam di satu titik, variasi hasil jepretan tidak akan bisa banyak. Untuk memotret mereka, saya tidak akan mengejar titik nol. Malah kadang saya datang ketika mereka sudah perform di stage.

IMG_7961

IMG_6508

Berdasarkan pengalaman, mereka yang datang untuk khusus memotret band atau artis solo tidak sebanyak JKT48. Kalau pun ada kamera, yang terlihat adalah ponsel, tablet, dan tongsisnya. Mereka umumnya tidak terlalu mengejar untuk berdiri sedekat mungkin dengan stage. Jarak antara penonton pun renggang, meski memadat begitu semakin mendekati titik tengah. Artinya, saya lebih leluasa untuk bergerak ke berbagai titik. Kadang saya ke sayap kiri, kadang saya ke sayap kanan. Saya malah cenderung menghindari memotret dari tengah, karena biasanya wajah si artis akan terlihat tertutup mic. Kalau dari agak samping, mic tidak lagi menjadi penghalang. Tinggal menunggu momen si artis menengokkan kepalanya ke arah samping, lalu saya potret.

IMG_8344

Saat memotret band atau artis solo, untuk memperkaya sudut pandang, biasanya saya akan mencoba mengambil suasana penontonnya. Terkadang menceritakan suasana penonton juga bisa jadi asyik. Sudut pandang pemotretan seperti ini belum pernah saya lakukan saat memotret JKT48 atau idol group lainnya, karena biasanya saya lebih fokus mengambil gambar mereka saat melakukan gerakan koreografi. Bukannya nggak mau, tapi kasusnya kembali seperti saya sebutkan di atas. Rasanya sayang meninggalkan titik yang untuk mendapatkannya saya sudah harus di lokasi 1-1,5 jam sebelumnya. Hahaha, dilema ya.

IMG_6616

IMG_7685

Mungkin cerita di atas bisa lebih memberikan gambaran kenapa saya, dan mungkin banyak teman lainnya, jarang bisa berbagi foto JKT48 yang berisi 16 orang terlihat semua. Umumnya hasil jepretan fokus pada 1-2 member saja. Namun apa yang tidak bisa saya lakukan saat memotret JKT48, setidaknya saya coba lakukan saat memotret band atau artis solo. Biar hasil fotonya nggak berkesan seperti “pas foto” semua. Hahaha… 🙂

Workflow Editing Foto

Setiap orang mungkin punya pengalamannya sendiri-sendiri dalam melakukan proses paska produksi pemotretan. Tergantung kebiasaannya masing-masing. Nah, kali ini saya akan cerita workflow versi saya.

Umumnya setiap proyek pemotretan saya buatkan folder dengan format [tahun][bulan][hari][nama event foto], misalnya: 2015.08.30 – Indonesian Jazz Festival. Saat nanti saya punya banyak proyek foto, maka saya akan bisa melihat urutannya berdasarkan tanggal.

image

Di dalam folder tersebut, saya membuat 3 folder baru, yaitu:

  • original: berisikan semua file RAW dan JPG yang murni hasil pemotretan. Ini yang saya copy langsung dari memory card kamera.
  • final: berisikan file final resolusi tinggi yang sudah mengalami proses editing di aplikasi Lightroom dan Photoshop. File ini saya siapkan seandainya sewaktu-waktu saya mau cetak atau kebutuhan lainnya. Semua file di folder ini tanpa watermark.
  • thumb: berisikan file resolusi web dari versi final. File ini sudah cukup jelas untuk dilihat di online namun kualitasnya tidak terlalu bagus kalau dicetak. Semua file di folder ini mencantumkan watermark.

Proses editing pun dimulai dengan menggunakan aplikasi Lightroom. Saya buka semua file di folder original, lalu saya pun mulai mengedit tone dan cropping foto. Saya sendiri sudah memiliki preset tone favorit dengan beberapa kondisi pencahayaan pemotretan. Penggunaan preset ini mempercepat proses editing, dan sangat bermanfaat saat menghadapi proyek yang memiliki ratusan foto dalam suatu kondisi pencahayaan serupa. Biasanya saya tinggal apply preset, lalu melakukan adjustment sedikit saja.

Hehe itu teorinya ya. Kenyataan di lapangan berbeda. Sangat jarang saya mendapatkan kondisi pencahayaan yang sama, terutama kalau yang menjadi subjek pemotretan adalah aksi di stage. Terkadang saya juga ingin bereksperimen menampilkan tone foto yang berbeda. Makanya tidak pernah ada rumusan tone yang pasti. Preset tone saya di Lightroom pun akhirnya makin lama makin banyak.

Saya juga bukan orang yang sangat perfeksionis bahwa hasil editing akhir foto memiliki komposisi yang tidak jauh berbeda dengan saat saya menjepretkannya. Foto yang saya jepretkan landscape, saat editing akhir bisa saja saya crop menjadi portrait. Komposisi subjek yang di kanan, bisa saja menjadi di tengah setelah saya crop banyak sisi kirinya. Hanya saya perlu ingat konsekuensinya, ukuran foto akhir akan menjadi lebih kecil daripada sebelumnya.

Semua foto yang sudah saya edit tone dan cropping di Lightroom saya ekspor ke JPG resolusi tinggi 300 dpi. Saya simpan di folder final. Selanjutnya saya buka Photoshop untuk melakukan editing tambahan. Saat saya memotret seorang member JKT48 di stage saat mereka bergerak, terkadang setelah saya crop fotonya, masih menyisakan potongan tangan/jari/kaki/badan nongol di tepi foto. Kalau memang memungkinkan, potongan yang nongol ini saya hilangkan di Photoshop. Kadang saya juga masih suka melakukan adjustment tone tambahan di Photoshop bila ternyata hasil ekspor dari Lightroom kurang memuaskan.

IMG_6188

Versi asli foto Ghaida dan Dhike di atas ada potongan badan member lainnya di sebelah kanan. Di Photoshop saya sengaja hapus supaya Ghaida dan Dhike terlihat menonjol.

Untuk editing di Photoshop yang sangat kompleks, saya akan menyimpan foto dalam versi PSD yang masih ber-layer. Namun kalau editing yang saya lakukan itu mudah, biasanya langsung saya save dalam format JPG 12 300 dpi, menimpa file JPG final hasil ekspor dari Lightroom.

File ukuran web dengan watermark juga saya buat di Photoshop. File ukuran web yang saya buat adalah 1200 pixel untuk sisi terpanjang, dengan resolusi 72 dpi. Setelah itu baru saya tambahkan watermark. Ada dua macam watermark yang saya pakai. Yang sederhana, cukup dengan nama saya di pojok kanan bawah. Ada pula watermark yang menampilkan versi lengkap dengan nama event dan tanggal. Selanjutnya saya save foto ini di folder thumb.

Semua file foto ini saya backup di hard disk eksternal khusus untuk foto. Tidak saya campur dengan file lainnya. Untuk menjaga keamanan data, hard disk eksternal ini hampir tidak pernah saya angkat dan pindah-pindah. Saya juga melakukan backup data JPG versi final dan thumb di Flickr. Yang versi thumb ini yang bisa kalian lihat secara terbuka di Flickr saya, sementara versi finalnya saya private, hanya saya yang bisa mengaksesnya.

Pastinya semua orang memiliki workflow berbeda dalam melakukan proses editing foto, karena kebutuhannya pun pasti berbeda. Nah kalau workflow versi kalian seperti apa?

IMG_6406

Bercerita di dalam Perjalanan

Apa sih yang biasa kamu lakukan kala kamu dalam keadaan menunggu yang super sangat lama sekali banget? Seperti yang saya alami sekarang, berada dalam penerbangan yang memakan waktu 8 jam lebih, dari Jakarta ke Medinah, untuk ibadah Umrah.

Kalau dulu terakhir saya melakukan perjalanan yang lebih jauh dari ini, saya menyiapkan buku bacaan. Nggak ada pilihan lain kala itu. Apalagi kala itu saya nggak punya smartphone. Namun untungnya di penerbangan kala itu saya bisa menikmati suguhan hiburan film di dalam pesawat.

Kali ini di maskapai yang saya naiki ini, tak ada hiburan semacam itu. Untungnya kali ini saya sudah punya iPhone dan iPad. Namun entah kenapa meski ada cukup banyak game di iPad saya, saya nggak terlalu tertarik untuk memainkannya. Saya juga tak membawa buku sama sekali (kecuali buku petunjuk dan doa Umrah yang sudah dibaca di satu jam pertama perjalanan). Mungkin memang kebiasaan saya yang lebih suka untuk “membuat” daripada “mengkonsumsi” yang bikin saya cepat jenuh akan membaca atau bermain game.

Jadi apa dong yang akhirnya saya lakukan? Saya jadinya lalu mencoba menyibukkan diri dengan mengamati sekitar isi kabin pesawat, lalu memotret dan menuliskannya. Seperti kebiasaan saya setiap kali bepergian ke luar negeri (atau ke tempat di dalam negeri yang unik), saya suka berbagi cerita. Kalau dulu setiap kali perjalanan, saya menuliskannya di notebook lalu sekembalinya ke Jakarta, saya olah dan jadikan ebook. Atau saya tulis cerita singkat lalu saya publikasikab di blog (dengan foto menyusul setelah kembali ke Jakarta).

Kali ini saya mau mencoba sesuatu yang beda. Inginnya sih bisa live tweet dengan hashtag yang saya tentukan sendiri, biar real time. Namun belum tentu saya dapat koneksi yang memadai di tempat tujuan. Lagian di dalam pesawat seperti sekarang, mana ada internet.

Nah, sekarang saya lagi coba bereksperimen membuat jurnal dengan Evernote. Saya bisa menuliskannya offline, langsung lengkap dengan waktu dan geotag (lokasi saya menulis). Saya juga bebas memasukkan foto yang saat itu saya jepretkan. Nanti ketika saya sudah mendapatkan koneksi internet (entah wifi, entah membeli kartu data di negeri sana), Evernote akan otomatis mempublikasikannya online. Ceritanya pun langsung runut (mudah-mudahan begitu ya, wong ini baru nyoba). Kelebihannya memang di proses sinkronisasinya. Jadi kalau misalnya saya mengetik ceritanya berbeda-beda via iPhone, iPad, web, atau desktop, semua akan tersinkronisasi otomatis seketika saya mendapat koneksi online.

Semua cerita ini tentunya masih dalam draft. Ya minimal sebagai pengingatlah untuk nanti diolah kembali. Bercerita adalah cara yang memang saya lakukan agar saya tidak lupa. Saat saya membacanya lagi tahun depan misalnya, saya akan bisa mengingat cepat memori yang mungkin sudah terpendam di bawah otak. Mudah-mudahan saya masih diberikan waktu untuk merapihkannya nanti sekembalinya saya ke Jakarta.

Untuk teman-teman yang ingin melihat apa yang saya lihat, silakan kunjungi Evernote saya, yang kali ini saya buka untuk publik. Ini URL-nya: https://www.evernote.com/pub/pitra/pitrasnotebook

Oh ya, karena tetap niatan utama saya adalah untuk beribadah Umrah, maka saya tidak akan menuliskan cerita (secara hampir real time), apa yang akan saya alami di Medinah dan Mekah ya. Sayang kan soalnya, sudah bisa berada di sana, tapi nggak memanfaatkannya semaksimal mungkin.

(Tulisan ini saya buat di kala bengong di dalam pesawat, dan masih sekitar 4 jam lagi sebelum tiba di tujuan.)

Kena Lagi.. Kena Lagi..

Sejak beberapa hari lalu, saya sebenarnya menemukan beberapa keanehan di beberapa blog saya yang berbasis WordPress. Jadi, kalau saya bikin link postingan terbaru, lalu saya share link-nya ke Facebook/Twitter, maka orang-orang yang membaca dan mengklik link itu, akan terlempar ke situs lain.

Hal ini juga terjadi pada situs kantor saya (yang juga menggunakan engine blog WordPress). Kalau kita mengklik link situs kantor saya itu di Google, maka akan dilempar ke situs lain. Hmm, saya awalnya berpikir ini masalah di Google, yang mungkin saja salah mengindeks halaman. Beberapa hari kemudian tanda-tanda ini masih saya abaikan, karena pekerjaan kantor yang menumpuk.

Sampai akhirnya saya ada waktu luang untuk mengecek. Saya coba unduh satu blog dulu ke lokal. Daaaan…. betul dong. Ternyata blog WordPress ini tersusupi script malware. Semua file dengan tanda pembuka <?php tersusupi script ini:

eval(base64_decode(“DQplcnJvcl9yZXBvcnRpbmcoMCk7DQ… dst”));

Saya hanya mengambil nafas panjang, lalu mengunduh semua blog dan situs yang menggunakan engine WordPress. Ternyata, semua file dengan ekstensi .php kena semua dengan script itu. Ini pengalaman saya yang ketiga berhadapan dengan hal seperti ini. Pertama kali dulu, blog media-ide.com pernah di-hack dengan ada yang mengganti file index.php di theme-nya. Lalu kedua kalinya, blog ini di-hack juga dengan menyisipkan script serupa di atas, namun saat itu yang kena hanyalah folder theme dan plugin. Kali ini ternyata lebih masif. Yang kena adalah semua file .php.

Dengan sabar dan hati-hati saya hapus semua script malware itu dari semua blog dan situs saya. Makan waktu memang. Akhirnya tinggal 1 blog yang belum saya bersihkan, sampai tiba-tiba pagi tadi Bluehost (penyedia jasa hosting dedicated yang saya pakai) men-suspend domain utama. Daar, mati semua. Nggak ada yang bisa diakses. Bluehost lalu menginformasikan kalau file-file yang ada di server disusupi malware. Ini harus dibersihkan dulu, sebelum nanti Bluehost mengakhiri suspend-nya.

Ternyata oh ternyata… Yang kena bukan hanya situs berbasis WordPress saja. Lebih tepatnya semua file dengan ekstensi .php di server terkena. Untunglah semua berhasil diselamatkan. Sekalian pula saya sapu bersih-bersih file dan aplikasi yang tak lagi terpakai.

Dugaan saya sih, injeksi script malware ini masuk melalui timthumb.php (yang memang terpasang di beberapa blog saya). Dari sini lalu berkembang melebar ke lainnya. Caranya bagaimana? Saya pun nggak tahu pastinya. Sudah kayak semacam virus saja, yang melebar menginfeksi semua file yang berada di akun server yang sama.

Sebenarnya sejak kejadian terkena hack kedua kalinya itu, saya sudah pasang pengamanan yang lumayan kencang di blog saya. Meski sayangnya saya hanya pasang di satu blog, padahal bisa saja si malware ini masuk dari blog lainnya. Akhirnya hari ini, semua situs dan blog dengan engine WordPress yang aktif di server ini sudah saya lengkapi dengan plugin-plugin ini:

1. TAC (Theme Authenticity Checker)

Ini untuk mengecek apakah file theme yang kita pakai terinjeksi script yang mencurigakan atau tidak.

2. Timthumb Scanner

Ini untuk mengecek apakah timthumb.php yang saya gunakan ini sudah versi terbaru atau belum. Kalau belum, maka plugin ini akan langsung meng-update secara otomatis.

3. Exploit Scanner

Ini untuk mengecek total semua file .php yang berada di dalam blog. Plugin ini akan menandai semua file yang dianggap mencurigakan. Harus berhati-hati saat membaca laporan hasil pindah plugin ini, karena tidak semua yang terpindai itu adalah script malware. Ada banyak file yang sebenarnya aman, tapi ikut terbaca oleh plugin ini.

4. WordPress Firewall 2

Plugin ini akan menyetop semua aksi injeksi terhadap URL blog, lalu akan mengirimkan laporannya ke email kita setiap kali terjadi serangan. Saya sudah lama pakai ini dan karena ini saya pun tahu kalau blog saya pernah diserang bertubi-tubi oleh bot. Baca emailnya memang bisa bikin keringat dingin sih. Namun justru setiap email yang saya terima itu adalah pertanda kalau plugin ini telah berhasil menyetop serangan yang terjadi.

5. WSD Security

Ini plugin wajib yang juga perlu ada. Melalui plugin ini saya bisa memahami kelemahan apa saja yang ada di engine WordPress, dan plugin ini memberi petunjuk langkah-langkah apa yang harus diantisipasi, seperti misalnya: mengganti user login dengan apapun selain “admin” atau mengganti penamaan table di database, supaya tidak standar dan lebih aman terhadap serangan.

6. BPS Security

Saya baru tahu ada plugin ini. Dua faktor utama yang membuat blog WordPress rentan terhadap serangan adalah timthumb.php (kalau ada) dan .htaccess. Standar .htaccess dari WordPress belum bisa dibilang aman. Plugin ini akan membantu manajemen .htaccess di folder root dan di folder wp-admin. Plugin ini yang akan menjaga serangan terhadap blog dari IP address yang tidak bertanggung jawab. Karena saya pun nggak paham banget cara membaca .htaccess, jadi ya saya pakai saja versi default yang ditawarkan plugin ini (dan itu panjang banget isi .htaccess-nya).

Nah, apakah setelah ini blog saya aman dari serangan? Hihihi, kita tunggu saja ya. Susahnya menggunakan WordPress itu ya memang harus rajin update, dan jangan sampai terlambat. Ya tapi kalau sudah dengan cara ini, masih diserang juga ya berarti memang penyerangnya yang jago banget.