Solitude – Solitary – Hope

SOLITUDE
This place is so distant.
Not there. Not near. Not tomorrow.
Abandoness. That’s what it felt.
Nothingness. That’s what can be seen.
Solitude is where I am now.

A photo posted by Pitra (@pitra.box) on

SOLITARY
I have to hope.
That love can see me here.
That my heart can have its pulse again.
That your light can salvage me.
And bring me out of this solitary.
To have you hold me again for tomorrow.

A photo posted by Pitra (@pitra.box) on

HOPE
Solemn is coming.
It brings me peace through abandoness.
Pulse is flowing through my vein.
The nothingness is escaping.
Hope is felt risen beneath me.
Soon I have the courage to love again.

A photo posted by Pitra (@pitra.box) on

Taken from: instagram.com/pitra.box

instagram story 01

Memotret untuk Instagram L’Oréal Professionel

Beberapa hari lalu saya kembali belajar hal baru di ranah fotografi. Kali ini saya diminta untuk membantu motret untuk kebutuhan Instagram brand L’Oréal Professionel. Brand ini menyelenggarakan event L’Oréal Professionel Style and Colour Trophy 2016, yang menghadirkan para hair stylist dari seluruh Indonesia dan juga luar negeri.

Di hari pertama saya diminta untuk memotret para finalis hair stylist yang menunjukkan keahliannya menyusun tata rambut selama 4 jam. Lokasinya bertempat di ruang besar di kantor L’Oréal Professionel yang disulap jadi salon. Asyiknya, cahaya matahari langsung menerangi ruangan, sehingga cahaya natural bisa didapatkan.


Lihat foto-foto lainnya

Foto yang Dipublikasikan di Akun Instagram Lain

Setiap kali saya memotret aksi panggung (dan backstage-nya), saya sering mempublikasikannya pertama kali di Twitter. Saya selalu tag subjek performer yang saya foto. Lumayan, biasanya saya bisa berkenalan dengan mereka sekalian setelah itu. Nggak semuanya juga sih. 🙂 Untuk yang saya sudah kenal, ada beberapa foto yang saya kirim lewat email.

Lalu kalau ada foto saya yang mereka anggap bagus (entah bagus beneran, atau bagus karena nggak ada yang lain yang motretin), mereka suka reshare kembali fotonya di Instagram mereka. Saya sih senang-senang saja. Buat saya, saat memotret seseorang, adalah hak dia juga untuk menggunakan fotonya di social media. Ada yang menuliskan kredit nama saya, ada yang men-tag saya di Instagram, ada juga yang tidak. Kalau foto itu asalnya dari Twitter, pasti sudah saya berikan watermark, jadi tidak masalah bagi saya ketika di-reshare, saya tidak di-tag lagi. Cuma kadang yang bikin sebal adalah, jumlah likes mereka bisa lebih banyak daripada saya hahaha…

Saya mau embed beberapa foto jepretan saya yang di-repost beberapa hari belakangan ini. Hehe, tapi saya nggak usah tunjukin yang di-reshare member Cherrybelle dan Teenebelle ya, nanti terlalu banyak. Ini performer lainnya saja.

Rissa Gunawan – Juwita Band


Lanjut lihat foto-foto lainnya

Memotret Teenebelle dengan Kostum Terbarunya

Saya sudah lumayan sering datang memotret di Dahsyat RCTI. Biasanya selalu diadakan di studio 1, namun sejak beberapa minggu ini berpindah ke studio 8. Studionya kini lebih besar tapi berbagi setting dengan acara Baper.

Kalau yang difoto Teenebelle atau Cherrybelle, biasanya saya akan ikut ke backstage. Menunggu di sana sambil ngobrol. Atau kadang memotret anak-anak Teenebelle atau Cherrybelle saat sedang menunggu segmen mereka masuk.

Saat di studio 1 dulu, yang dijadikan backstage adalah ruang di belakang studio. Nggak ada latar menarik sih di situ untuk dijadikan background foto. Pencahayaannya juga terbatas. Lebih baik menggunakan flash kalau memotret di sana.

A photo posted by Pitra (@pitra) on


Lanjut lihat jepretan lainnya

Instagram Ramai Lagi Ya?

Dari kemarin jagad internet ribut tentang Terms of Service (ToS) yang berubah di Instagram. Pastinya banyak yang males untuk membacanya, karena seperti biasa ToS itu nggak ada yang pendek. Kalau males (seperti saya yang juga males), mending baca ringkasannya di tulisan berikut:

Lalu seteleh kehebohan dalam sehari kemarin, Instagram memperjelas maksudnya di blognya.

Setiap kita menggunakan aplikasi atau servis online (atau manapun sih sebetulnya) kita terikat dengan aturan main di dalamnya. Kalau nggak keberatan ya silakan digunakan. Kalau memang keberatan ya nggak usah setuju dan nggak usah dipakai. Setiap layanan gratis tentu ada konsekuensi yang harus diterima oleh pengguna. Facebook gratis, tapi kita akan berhadapan dengan iklan di sidebar kanan. Twitter gratis, tapi kita akan berhadapan dengan Promoted Tweets (meski masih belum umum dipakai di Indonesia).

Demikian pula dengan Instagram. Sebagai sebuah perusahaan, tentu wajar kalau ia ingin mengambil keuntungan dari layanannya. Oleh karena itu, Instagram mengubah ToS-nya, karena ada kebutuhan untuk menayangkan iklan promosi di dalamnya. Bentuknya kayak gimana, memang belum ada yang tahu. Namun, perubahan ToS ini menjadi salah satu point untuk memuluskan kebutuhan mereka untuk iklan promosi. Bisa jadi, ini bisa jadi loh (masih asumsi), foto yang pengguna unggah di Instagram akan muncul sebagai iklan untuk promosi tema tertentu.

Hal serupa sudah dilakukan oleh Facebook. Kalau di Facebook, brand page bisa mempromosikan dirinya di Facebook Social Ads. Saat promosi ini muncul, kita bisa melihat nama teman kita yang sudah me-like Facebook brand page itu. Ide bodoh-bodohannya adalah, “Ini loh teman kamu sudah me-like page kami. Kamu nggak tertarik untuk me-like juga?” Ini sempat diprotes banyak orang, karena Facebook memanfaatkan nama pengguna untuk mempromosikan suatu iklan. Namun, iklan seperti ini masih tetap berjalan hingga sekarang.

Konsep promosi seperti Facebook ini yang mungkin akan diterapkan di Instagram, bedanya mungkin dalam konteks foto. Formatnya kayak bagaimana, belum ada yang tahu.

Kira-kira banyak nggak sih yang akan keluar dari Instagram karena ToS ini? Kemarin Gen Kanai dari Mozilla sudah menyatakan akan keluar. Lalu kali ini National Geographics juga menyatakan akan menunda postingan terlebih dahulu sampai ada kejelasan baru. Milis iPhonesia pun ramai ngobrolin ini, dan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Beberapa pengguna Instagram lama, terutama yang hobbyist serius atau fotografer semi pro, mulai mencoba alternatif lain. Teman-teman street photographer sejak beberapa bulan lalu sudah aktif di EyeEm, dan kayaknya ini menjadi pilihan terbaik setelah Instagram. Aplikasi ini tersedia untuk iOS, Android, dan Windows Phone. Hahaha, saya pun akhirnya mengunduh dan mendaftar di sana pula. Silakan follow saya ya di www.eyeem.com/pitra. Karakteristik UI-nya berbeda dengan Instagram tapi nggak kalah uniknya.

Yang sudah lama bergelut di bidang berbagi foto online mulai berpikir untuk kembali ke Flickr. Meski sayangnya di Flickr versi gratis hanya dibatasi untuk melihat 200 foto terakhir. Untuk mendapatkan pengalaman lebih asyik, memang harus bayar versi Pro-nya. Namun Fickr juga nggak lepas dari masalah, karena ToS-nya mengikat untuk dipakai di semua channel Yahoo! Namun setidaknya, bila foto kita di Flickr akan dipakai (bahkan hanya untuk dipajang di home page-nya), tim Flickr akan memberitahukan ke kita terlebih dahulu,

Alternatif lainnya, ini yang saya juga pakai, adalah 500px.com. Berbeda dengan Instagram dan EyeEm, situs ini lebih difokuskan untuk para fotografer semi pro dan pro. Buat saya pribadi, foto-foto populer dan terbaru di situs ini jauh bisa memberikan inspirasi daripada foto-foto populer di Instagram (yang isinya kebanyakan gambar kucing, makanan, dan foto narsis). Ada pula kesempatan untuk mengkomersialkan foto yang kita upload. Bisa kita jual sebagai digital download atau dijual dalam bentuk print di canvas. Lumayan nambahin uang (kalau berhasil menjual ya). Sekalian promosi, silakan cek galeri saya di www.500px.com/pitra yaaa!

Jadi, semua kembali ke kebijakan kalian masing-masing. Saya sih yakin, untuk yang menggunakan Instagram hanya untuk mengirim foto hobby, nggak akan ada keberatan. Lain soal memang untuk mereka yang benar-benar serius berkarya di fotografi. ToS versi terbaru ini tentu akan terdengar sangat sensitif.