Memotret Teenebelle dengan Kostum Terbarunya

Saya sudah lumayan sering datang memotret di Dahsyat RCTI. Biasanya selalu diadakan di studio 1, namun sejak beberapa minggu ini berpindah ke studio 8. Studionya kini lebih besar tapi berbagi setting dengan acara Baper.

Kalau yang difoto Teenebelle atau Cherrybelle, biasanya saya akan ikut ke backstage. Menunggu di sana sambil ngobrol. Atau kadang memotret anak-anak Teenebelle atau Cherrybelle saat sedang menunggu segmen mereka masuk.

Saat di studio 1 dulu, yang dijadikan backstage adalah ruang di belakang studio. Nggak ada latar menarik sih di situ untuk dijadikan background foto. Pencahayaannya juga terbatas. Lebih baik menggunakan flash kalau memotret di sana.

A photo posted by Pitra (@pitra) on


Lanjut lihat jepretan lainnya

Instagram Ramai Lagi Ya?

Dari kemarin jagad internet ribut tentang Terms of Service (ToS) yang berubah di Instagram. Pastinya banyak yang males untuk membacanya, karena seperti biasa ToS itu nggak ada yang pendek. Kalau males (seperti saya yang juga males), mending baca ringkasannya di tulisan berikut:

Lalu seteleh kehebohan dalam sehari kemarin, Instagram memperjelas maksudnya di blognya.

Setiap kita menggunakan aplikasi atau servis online (atau manapun sih sebetulnya) kita terikat dengan aturan main di dalamnya. Kalau nggak keberatan ya silakan digunakan. Kalau memang keberatan ya nggak usah setuju dan nggak usah dipakai. Setiap layanan gratis tentu ada konsekuensi yang harus diterima oleh pengguna. Facebook gratis, tapi kita akan berhadapan dengan iklan di sidebar kanan. Twitter gratis, tapi kita akan berhadapan dengan Promoted Tweets (meski masih belum umum dipakai di Indonesia).

Demikian pula dengan Instagram. Sebagai sebuah perusahaan, tentu wajar kalau ia ingin mengambil keuntungan dari layanannya. Oleh karena itu, Instagram mengubah ToS-nya, karena ada kebutuhan untuk menayangkan iklan promosi di dalamnya. Bentuknya kayak gimana, memang belum ada yang tahu. Namun, perubahan ToS ini menjadi salah satu point untuk memuluskan kebutuhan mereka untuk iklan promosi. Bisa jadi, ini bisa jadi loh (masih asumsi), foto yang pengguna unggah di Instagram akan muncul sebagai iklan untuk promosi tema tertentu.

Hal serupa sudah dilakukan oleh Facebook. Kalau di Facebook, brand page bisa mempromosikan dirinya di Facebook Social Ads. Saat promosi ini muncul, kita bisa melihat nama teman kita yang sudah me-like Facebook brand page itu. Ide bodoh-bodohannya adalah, “Ini loh teman kamu sudah me-like page kami. Kamu nggak tertarik untuk me-like juga?” Ini sempat diprotes banyak orang, karena Facebook memanfaatkan nama pengguna untuk mempromosikan suatu iklan. Namun, iklan seperti ini masih tetap berjalan hingga sekarang.

Konsep promosi seperti Facebook ini yang mungkin akan diterapkan di Instagram, bedanya mungkin dalam konteks foto. Formatnya kayak bagaimana, belum ada yang tahu.

Kira-kira banyak nggak sih yang akan keluar dari Instagram karena ToS ini? Kemarin Gen Kanai dari Mozilla sudah menyatakan akan keluar. Lalu kali ini National Geographics juga menyatakan akan menunda postingan terlebih dahulu sampai ada kejelasan baru. Milis iPhonesia pun ramai ngobrolin ini, dan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Beberapa pengguna Instagram lama, terutama yang hobbyist serius atau fotografer semi pro, mulai mencoba alternatif lain. Teman-teman street photographer sejak beberapa bulan lalu sudah aktif di EyeEm, dan kayaknya ini menjadi pilihan terbaik setelah Instagram. Aplikasi ini tersedia untuk iOS, Android, dan Windows Phone. Hahaha, saya pun akhirnya mengunduh dan mendaftar di sana pula. Silakan follow saya ya di www.eyeem.com/pitra. Karakteristik UI-nya berbeda dengan Instagram tapi nggak kalah uniknya.

Yang sudah lama bergelut di bidang berbagi foto online mulai berpikir untuk kembali ke Flickr. Meski sayangnya di Flickr versi gratis hanya dibatasi untuk melihat 200 foto terakhir. Untuk mendapatkan pengalaman lebih asyik, memang harus bayar versi Pro-nya. Namun Fickr juga nggak lepas dari masalah, karena ToS-nya mengikat untuk dipakai di semua channel Yahoo! Namun setidaknya, bila foto kita di Flickr akan dipakai (bahkan hanya untuk dipajang di home page-nya), tim Flickr akan memberitahukan ke kita terlebih dahulu,

Alternatif lainnya, ini yang saya juga pakai, adalah 500px.com. Berbeda dengan Instagram dan EyeEm, situs ini lebih difokuskan untuk para fotografer semi pro dan pro. Buat saya pribadi, foto-foto populer dan terbaru di situs ini jauh bisa memberikan inspirasi daripada foto-foto populer di Instagram (yang isinya kebanyakan gambar kucing, makanan, dan foto narsis). Ada pula kesempatan untuk mengkomersialkan foto yang kita upload. Bisa kita jual sebagai digital download atau dijual dalam bentuk print di canvas. Lumayan nambahin uang (kalau berhasil menjual ya). Sekalian promosi, silakan cek galeri saya di www.500px.com/pitra yaaa!

Jadi, semua kembali ke kebijakan kalian masing-masing. Saya sih yakin, untuk yang menggunakan Instagram hanya untuk mengirim foto hobby, nggak akan ada keberatan. Lain soal memang untuk mereka yang benar-benar serius berkarya di fotografi. ToS versi terbaru ini tentu akan terdengar sangat sensitif.

Tentang Instagram Bagian III

58 instagram bagian 2 1

Kemarin sabtu, 30 Juli 2011, untuk pertama kalinya saya ikut acara hunting bareng bersama komunitas Iphonesia. Kebetulan ada operator XL yang menjadi sponsor hadiah kegiatan hunting ini. Lokasinya di IIMS (Indonesia International Motor Show) di JIExpo Kemayoran Jakarta. Acara yang awalnya hanya sekedar motret perempuan dan mobil di area eksibisi pun melebar. Sore hari jam 3 dan 5, kami semua dari Iphonesia mendapat izin untuk ikut serta memoret Car Wash Angels di area GT1. Hmm, kapan lagi coba punya kesempatan motret yang seperti ini?

Aplikasi yang saya gunakan untuk memotret ini tidak banyak. Untuk editing pertama kali, saya menggunakan aplikasi Iris, yang lebih banyak dipakai untuk pengaturan nuansa warna awal dan cropping. Penguatan warna dengan filter pun lalu dilanjutkan dengan menggunakan aplikasi Camera+. Lalu setiap foto-foto di atas dikomposisikan dengan menggunakan aplikasi Squareready, sementara untuk foto-foto di bawah dikomposisikan dengan menggunakan aplikasi Camera Shake.

58 instagram bagian 2 2

 

 

Tentang Instagram Bagian II

57 instagram bagian 2 1

Foto-foto di atas ini diambil hari Sabtu kemarin saat kopdar #30HariInstagram. Hari itu temanya adalah fashion. Teman-teman dari GantiBaju.com ikut mendukung kegiatan ini dengan menyiapkan hadiah kaos untuk 5 orang dengan foto terbaik di hari itu. Berbeda dengan tulisan sebelumnya, dimana kala itu saya masih memotret dengan Galaxy Tab, di foto-foto ini saya sudah menggunakan iPhone 4. Semua pekerjaan dari awal pengambilan gambar, editing, hingga pengiriman ke Instagram dilakukan hanya melalui deviceini. Efek-efek yang paling sering saya pakai di iPhone (dan dipakai di foto-foto ini) adalah: iCamera HDR, Camera+, dan Photoshop Express. Model foto: @rahneputri, @myARTasya, dan @oijaw. Lokasi: Taman Suropati, Menteng.

57 instagram bagian 2 2

Tentang Instagram Bagian I

56 instagram bagian 1

Jadi ceritanya saya lagi punya mainan baru, namanya Instagam. Awal-awalnya sekedar mengamati apa yang dilakukan teman saya di Twitter, sampai akhirnya menulis tentang aplikasi Instagram yang keren ini di blog satunya. Apalagi selama 30 hari ini, ada @30HariInstagram yang mengajak para pengguna aplikasi ini untuk ikut serta mengambil jepretan gambar dengan tema yang telah ditentukan. Sayangnya memang, hanya pengguna device iOS seperti iPod, iPhone, dan iPad saja yang bisa ikut serta, karena memang aplikasi Instagram hanya tersedia di device itu.

Saya tidak punya iPhone, tapi memang punya iPad (bersyukurlah kalian yang punya iPhone). Saya jadi tidak bisa langsung mengambil gambar dan mengeditnya. Yang bisa saya lakukan adalah mengambil gambar dengan ponsel android saya, lalu mentransfer gambarnya ke iPad dan mengeditnya. Awalnya saya hanya menggunakan fitur filter standar yang ada di Instagram. Memang lucu sih, meski lama-lama saya pun bosan karena jumlah fiternya yang terbatas.

Saya akhirnya makin sering mengunjungi App Store, mencari-cari aplikasi fotografi demi mendapatkan efek filter yang keren. Banyak banget ternyata. Banyak yang gratis pula. Untungnya menggunakan iPad adalah, ternyata ada beberapa aplikasi fotografi keren yang hanya jalan di iPad. Ruginya menggunakan iPad adalah, beberapa aplikasi untuk iPhone yang memanfaatkan fitur jepretan kamera tidak bisa saya pakai.

Foto-foto di atas dijepret menggunakan Samsung Galaxy Tab, lalu diedit semua menggunakan aplikasi yang saya unduh dari App Store. Semua hasil jepretan baru, kecuali foto dua perempuan manis yang ada di pojok kanan atas. Dalam beberapa hari mendatang, saya akan tampilkan foto-foto Instagram yang saya anggap terbaik (atau yang cukup banyak diberi likes) di blog ini.