Pilihan dalam Kemacetan Jakarta

Siapa yang nggak capai mengarungi lalu lintas Jakarta setiap hari? Pergi berangkat ke kantor dihadang macet. Pulang kembali lagi dihadang macet. Mau lewat tol juga nggak terlalu banyak berbeda. Ongkos tol dalam kota sudah naik menjadi Rp.7.000,00 sekarang. Harga naik tapi kualitas layanan tak berubah. Jumlah mobil di Jakarta memang sudah terlalu banyak, melebihi kapasitas kemampuan jalan yang ada.

Entah siapa yang mau disalahkan. Mau menyalahkan Gubernur DKI juga percuma. Masalah transportasi di Jakarta sudah terlalu kompleks untuk dipecahkan. Jumlah bus Trans Jakarta kurang. Angkutan umum lain pun jjauh dari rasa aman dan nyaman. Saya yakin, kalaupun Ali Sadikin masih hidup dan menjabat sebagai Gubernur, nggak akan seketika itu pula masalah transportasi akan hilang.

Paling enak sih sebetulnya saya menyalahkan diri saya sendiri saja. Kenapa juga saya bawa mobil kemana-mana? Bikin jalan Jakarta yang sudah penuh menjadi semakin penuh. Saya memang nyaman di dalam mobil yang ber-AC dingin. Namun kaki saya juga pegal setengah mati menginjak gas dan rem bergantian. Mau kemana-mana naik mobil memang gampang. Lah ya tinggal menyetir saja kan? Nggak perlu mikir ganti bus Trans Jakarta dan mengantri panjang di halte transitnya. Hanya perlu siap mental dan strategi untuk memilih jalan yang macetnya mendingan.

Buat saya pribadi, ada hal tambahan yang harus diperhatikan saat menyetir. Mobil saya sudah tua. Sudah lebih dari 15 tahun saya membawanya. Saya selalu was-was setiap kali menyetir. Takut kalau radiatornya kembali bermasalah. Kipas mati atau radiator bocor di tengah kemacetan itu sungguh menyiksa. Pernah suatu waktu suhu mobil saya meningkat cepat saat terkena kemacetan parah di depan gedung MPR/DPR. Mau minggir susah. Mau tetap jalan jelas nggak mungkin. Intinya saya jadi punya tanggungan tambahan saat saya bepergian di Jakarta. Tanggungan yang bukan bikin masalah jadi sederhana, malah bisa bikin mumet kepala.

Jakarta sudah terlambat lebih dari 20 tahun untuk keluar dari masalah kemacetan, dan sepertinya tidak akan ada solusi instan untuk memecahkannya. Daripada terus mengeluh, lebih baik saya ikut menyumbang bagian dalam pemecahannya.

Sudah beberapa bulan ini saya pun lebih memilih menggunakan bus Trans Jakarta, Kopaja, bus umum, hingga kalau terpaksa ojek dan taksi. Memang nggak ada yang senyaman, seaman, dan semenyenangkan saat saya menggunakan transportasi umum di negara lain. Sebelumnya saya sudah merasakan nikmatnya berkelana hanya menggunakan angkutan umum di negeri Jerman, Hong Kong, dan Singapura. Jauh banget memang kalau saya membandingkan Jakarta dengan tiga negara itu.

Dengan kondisi ini saya pun punya dua pilihan. Satu, menyetir mobil sendiri dan stres saat menghadapi kemacetan. Dua, sebisa mungkin menggunakan angkutan umum yang masih jauh dari rasa nyaman. Keduanya tidak ada yang enak. Namun kalau boleh memilih yang mendingan, maka saya akan mengambil pilihan kedua. Kalau itu artinya saya harus berdesak-desakan, antri panjang di halte, mendengarkan beragam pengamen di bus, maka buat saya itu adalah pilihan yang lebih melegakan hati, daripada saya stres punya tanggungan mobil yang tak bisa bergerak kala macet merajalela.

Tidak berarti saya lalu tak menggunakan mobil sama sekali ya. Saya masih suka menyetir di akhir pekan. Minimal untuk menjaga supaya mesin mobil tetap awet. Minimal untuk bisa mendengarkan musik mengalun tanpa terganggu bisingnya suara jalan.

Itu pilihan saya untuk menghadapi keruwetan Jakarta. Kalau pilihan kamu?

Hiburan ala Bus Kota

“Aku mau jadi teroris saja. Aku mau bom bunuh diri.”

“Janganlah kau jadi teroris. Buat apa juga? Kau akan mati pula nanti. Banyak orang tak berdosa bisa ikut menjadi korban.”

“Ah, tak ada orang yang tak berdosa. Lagi pula, kalau aku mati, tak ada juga yang peduli padaku. Aku ini kan bukan orang siapa-siapa.”

“Janganlah kau begitu. Lebih baik kita bikin Persatuan Copet saja.”

Percakapan di atas terjadi di dalam bus Kampung Rambutan – Grogol yang saya naiki saat pulang tadi. Dua orang (yang tampaknya seperti) mahasiswa bermain aksi drama sambil bergelantungan di bus kota. Mereka berdua mengenakan kacamata gaul. Salah satunya terlihat sesekali memainkan suling, untuk melengkapi cerita drama berdurasi sekitar 10 menit itu. Mereka memang tidak terlihat seperti anak jalanan pada umumnya.

Saat aksi drama selesai, salah satunya mengeluarkan kertas yang digulung membentuk kerucut bak tempat menyimpan kacang rebus. Ia beredar dari depan ke belakang berharap ada yang menyumbang. Saya pun ikut memberi donasi, sekedar sebagai tanda apresiasi. Meski sebetulnya konten yang dibawakan garing, tapi setidaknya mereka berdua mencoba membawakan sesuatu yang berbeda di dalam bus. Saya sempat menguping saat mereka berdua berdiri di belakang menunggu bus untuk berhenti. Mereka berdua mengevaluasi performa mereka. Luar biasa.

Tak lama setelah mereka turun, dua orang remaja lain berganti mengisi “panggung” bus. Kalau yang seperti mereka berdua memang bikin orang malas untuk mengapresiasi. Isinya standar, mengaku sebagai anak jalanan yang butuh makan, lalu daripada merampok dan mencuri, lebih baik meminta-minta di bus kota. Jujur saja, saya paling malas melihat yang seperti ini. Bilang butuh makan, tapi di dalam bus malah terlihat merokok. Bilang nggak akan berbuat jahat, tapi membangun persepsi yang tidak enak di mata penumpang, dengan memamerkan tato yang memenuhi masing-masing tangannya.

Dulu malah saya pernah kebagian yang lebih parah lagi. Cerita yang dibawakan tak beda dengan dua remaja di atas, namun yang dipertunjukkan adalah permainan pisau. Saat itu ada dua remaja dengan gaya yang tak beda jauh dengan yang tadi saya lihat. Mereka memain-mainkan pisau silet di lidah dan tangan mereka. Nggak terlihat luka, tapi tetap saja seram yang melihatnya. Yang terngiang di otak saat melihat itu adalah, ini kalau nggak dikasih duit, pisaunya bakal dipakai untuk mengancam nggak ya? Akhirnya saya coba untuk tidak memberikan mereka sepeser pun. Untungnya tidak terjadi apa-apa.

Di antara semua performa yang pernah saya lihat di dalam bus, yang paling unik adalah pertunjukan sulap. Serius, beneran sulap. Menghibur pula. Seorang bapak usia 40 tahunan membawa sejumlah alat peraga di plastik untuk keperluan sulap. Salah satunya adalah sebuah bohlam lampu, yang bisa menyala hanya dengan ia pegang. Kesannya tangannya mengandung listrik, sehingga bohlam bisa menyala.

Saya sudah agak lupa dua pertunjukan sulap lainnya. Yang masih saya ingat, si bapak tetap berusaha bermain sulap di tengah desakan penumpang yang berdiri. Saya juga lihat kalau dia niat dalam menyiapkan segala sesuatunya. Wah, kalau performanya seperti ini, saya pasti apresiasi banget. Memang, jangan bandingkan dengan para jagoan sulap di televisi ya. Namun setidaknya, si bapak sudah berusaha lebih untuk menghibur penumpang, daripada sekedar teriak-teriak nggak jelas bak preman, atau bernyanyi sumbang bak pengamen lainnya.

Itu sebagian cerita pengalaman saya saat “menikmati hiburan” ala bus kota. Apakah kamu punya cerita juga?

Bus Koridor Satu

51 bus koridor satu

Sebenarnya ini foto coba-coba saya dengan kamera pocket baru. Biasanya saya menjepretkan gambar dengan Nikon D80. Kali ini saya berkesempatan hunting foto dengan hanya berbekal kamera pocket Canon Ixus 115 HS. Saya coba versi hitam putihnya dan eksperimen pengukuran kompensasi. Lumayan lah, meski masih banyak yang harus terus dieksplorasi sih. Foto ini diambil di dalam koridor satu bus Trans Jakarta hari Minggu kemarin siang. Pas bus agak sepi, jadi lebih leluasa untuk mengambil gambar. Pengukuran diambil otomatis, dengan kompensasi lebih rendah 0.3 stop. Kalau di meta fotonya sih tertulisnya  f 2.8, 1/30, ISO 320. Plus sedikit modifikasi warna di Photoshop.

Jalur Sepeda

44 jalur sepeda

Masih ingat peraturan yang menyebutkan kalau motor di Jakarta harus berada di sisi kiri jalan? Hihi peraturan itu masih berlaku di setiap titik jalan nggak ya? Yang jelas, yang punya ‘jalur motor’ ya cuma di daerah Thamrin dan Sudirman. Kalau di jalan protokol ini sih jelas, nggak akan ada yang berani melanggar. Entah tapi ya bagaimana ‘jalur motor’ di belahan jalan-jalan Jakarta lain. Sepertinya baik pengemudi motor, maupun polisi pengawasnya sudah lupa. Kalau pengaturan jalur motor saja sudah sulit, apa kabarnya cerita Pemda DKI yang mau membuat jalur sepeda itu ya? Kayaknya kalau soal itu, para pemangku kebijakannya sudah ikutan lupa pula.

Imlek

40 imlek

Perayaan Imlek (Tahun Baru Cina) selalu diikuti oleh kegiatan sembahyang di banyak klenteng. Kalau di Jakarta sih yang paling ramai adalah di Petak Sembilan. Penuh banget. Penuh manusia (baik yang sembahyang maupun fotografer yang ikut mengabadikan) dan penuh asap (sehingga bikin mata pedas). Sekedar tips kalau tahun depan mau ke Petak Sembilan lagi, bawa kacamata renang dan masker. Amankan lensa kamera dengan selalu memasang lens cap setiap kali tidak dipakai, karena abu-abu bekas bakaran menyebar dimana-mana. Oh ya, datang sepagi mungkin saat lebih banyak yang sembahyang daripada para fotografernya. f 5.6, 1/320, ISO 200.