Tantangan: Berapa Teman Twitter yang Kamu Ingat?

Gara-gara tulisan saya sendiri di blog satunya, saya jadi kepikiran, berapa sih sebenarnya teman online yang memang saya ingat dan kenal. Kadang kalau ingat pun suka lupa namanya. Kalau kenal seberapa sering sih saya berinteraksi dengannya.

Nah, jadinya saya iseng nih untuk menguji ingatan saya sendiri. Saya sudah lakukan ini, dan kini mau menantang teman-teman online semua untuk berbuat serupa. Caranya:

  1. Ambillah beberapa lembar kertas A4 dan siapkan pena atau pensil.
  2. Tuliskan semua teman yang kamu kenal di Twitter dan pernah kamu jumpai di dunia nyata.
  3. Akun yang kamu tulis harus akun individu ya. Bukan akun grup, komunitas, brand, atau lembaga lainnya.
  4. Kamu harus menyebutkan id twitter teman kamu dengan benar. Kalau kamu sering ngobrol dengannya, seharusnya kamu ingat.
  5. Selama menuliskan di kertas, jangan menyentuh aplikasi Twitter sama sekali. Jangan ngebet lah ya.
  6. Waktu dibatasi hanya 30 menit.

Dalam waktu terbatas itu, berapa nama akun Twitter teman kamu yang berhasil kamu tulis?

Saya sendiri berhasil menuliskan 228 nama dalam 30 menit. Kalau ada waktu lebih, pasti saya masih bisa menuliskan lebih banyak lagi. Foto di bawah ini sebagai buktinya (di foto ini saya sempat menuliskan 2 akun komunitas, tapi sudah saya coret dari perhitungan, karena bukan akun individu).

Tips: ingatlah lingkaran terdekatmu, siapa saja yang berada di sana, lalu pindah ke lingkaran berikutnya dan lanjutkan serupa, atau ingatlah kopdar terakhir yang kamu datangi, siapa saja yang berada di sana.

Berdagang Kebab

Mulai kemarin saya mencoba membuka bisnis baru. Kecil-kecilan sih. Buka warung/gerobak dorong berlabel Arabian Kebab. Seperti namanya, ya gerobak ini berjualan kebab. Berbeda dengan bisnis warung saya lainnya yang berlabel Naskun, warung Arabian Kebab ini murni franchise dari yang sudah ada.

Jangan berpikir bisnis franchise itu harus mahal dan megah seperti McDonald’s atau Hoka Hoka Bento ya. Bisnis Arabian Kebab ini murah meriah. Jualannya pun nggak di tempat keren seperti mall atau ruko. Ini berjualannya di kompleks perumahan. Targetnya pun masyarakat perumahan. Kalau dijejerkan, ya barenganlah jualannya dengan pedagang bakso, sate, atau gorengan. Bedanya, gerobaknya lebih bagus saja, dan penjualnya berseragam. Yang berjualan pun sudah mendapat pelatihan dari pemilik franchisenya.

Yang saya siapkan di awal ini ya hanya modal saja. Modal untuk membayar franchise fee tahunan. Modal untuk belanja bahan harian. Untungnya, pemilik franchise ini tidak menagih lagi pembagian keuntungan setiap bulannya. Berapapun keuntungan yang saya dapat dari hasil penjualan selama sebulan murni adalah keuntungan pemegang lisensi franchise-nya.

Di Arabian Kebab ini saya patungan dengan teman saya, Catur PW. Ia juga partner saya dalam berjualan di warung Naskun di Mal Ambassador. Lumayan kan patungan, bebannya jadi terbagi dua. Kebetulan lokasi Arabian Kebab inipun berada tak jauh dari rumahnya di Narogong, Bekasi. Dekat dengan rumahnya, tapi sangat jauh dari rumah saya yang berada di sisi lain Jakarta. Kebetulan pula memang Arabian Kebab ini lumayan menguasai area Bekasi. Katanya ada sekitar 80 titik franchise, dan semuanya di dalam Bekasi. Jarak antara titik tetap diatur, minimal 2 kilometer, sehingga antar titik tidak saling bersaing.

Apa alasan saya mencoba franchise Arabian Kebab? Ya ada rasa penasaran juga sih. Apa sih enak atau nggak enaknya bisnis franchise? Kalau ternyata menyenangkan, ya nanti saya akan coba ekspansi alternatif franchise lainnya. Kalau ternyata tidak enak, alias merugi, ya minimal saya pernah mencobanya dan belajar dari sana. Lagi pula, dana yang dikeluarkan untuk “belajar” ini tidak terlalu besar. Anggap sajalah kursus langsung praktik di lapangan.

Ya doakan saja semoga jualan Arabian Kebab ini laku keras. Syukur-syukur nanti kalau untung besar, bisa ditabung untuk ekspansi mengembangkan lebih banyak gerobak lagi. Yang mau tahu lokasinya, bisa cek kooordinat ini di Google Maps (-6.2812722,107.00640762).

Belanja Impulsif

Kemarin saya jalan-jalan ke Indocomtech. Seperti kebiasaan saya sebelumnya, saya sudah punya rencana, kalau saya hanya akan membeli tinta printer. Niatan ini pun terlaksana. Di sana, meski saya beredar ke mana-mana, tidak membuat saya ingin belanja hal-hal lain di luar yang saya butuhkan. Ada sih, ingin beli hard disk eksternal tambahan, tapi begitu dapat masukan kalau harga hard disk melonjak pesat karena banjir di Thailand, saya pun urung untuk membeli.

Beberapa kali saya sempat berjalan dengan beberapa teman. Ada yang bisa menahan diri, ada yang ternyata bisa belanja barang dengan impulsifnya. Nggak apa-apa juga sih, toh si teman belanjanya pakai duitnya sendiri. Bukan hak saya juga untuk melarangnya. Lalu apa dong masalahnya? Ya nggak ada. Tulisan ini memang sudah selesai. Looh..

Hahaha nggak deng. Yang mau saya sampaikan adalah, seperti para motivator dan financial planner suka bilang, belanja impulsif berakibat boros. Kalau ini sih, semua orang juga sudah tahu ya? Cuma memang kemampuan diri untuk menghentikannya memang sulit. Saya juga pernah mengalami hal seperti ini beberapa tahun lalu.

Jadi sejak tahun 1989 saya itu penggila komik Amerika. Yang import ya. Dari awalnya saya cuma belanja sedikit, makin lama makin menggila setiap bulannya. Naluri mengkoleksi membuat saya sukar menghentikan niatan belanja ini. Untungnya sih masih pakai duit orang tua (eh ini untung atau nggak ya?). Lah ya, pas tahun segitu ya saya belum kerja dan belum pernah punya duit sendiri. Saking gilanya, saya suka nitip ke Ibu atau Bapak saya kalau lagi dinas ke luar negeri. Saya ketik itu list komik yang saya mau, tanpa berpikir berapa uang yang harus dikeluarkan. Begitu Ibu atau Bapak kembali membawakan komik, saya girang setengah mati. Meski sudah dibilang kalau komik saya menghabiskan duit banyak, saya nggak pernah terlalu mikirin.

Lalu datanglah tahun 1998 dengan krisis moneternya. Nilai Rupiah melemah. Kalau awalnya 1 USD = Rp.2.500, maka saat itu 1 USD bisa mencapai Rp.15.000. Dampaknya berasa banget ke diri saya. Mau nggak mau saya harus menyetop kebiasaan boros saya ini. Komik Spawn misalnya, yang saya punya dari edisi nomor 1, dan rata-rata awalnya saya beli dengan harga Rp.7.500, harganya langsung melonjak drastis menjadi Rp.30.000-40.000. Jelas nggak mungkin saya terus melanjutkannya.

Saat itulah saya bisa menghentikan belanja impulsif saya di komik. Hahaha mungkin karena sudah pernah kena tekanan seperti ini, akhirnya saya selalu berpikir 2-3 kali setiap kali membeli sesuatu. Perlu atau nggak? Darurat harus dibeli sekarang atau nggak? Untuk saya pribadi, barang itu didiskon atau nggak bukanlah yang menjadi pemicu untuk saya belanja. Lebih baik saya membeli barang pada saat saya membutuhkannya, meskipun saat itu sedang tidak ada diskon sekalipun.

Kalau ada niatan impulsif saya untuk belanja suatu produk, dan ternyata di toko akhirnya saya bisa membatalkan niatan saya itu, begitu sampai di rumah biasanya saya benar-benar bernafas lega. Huf, pikir saya, untung saja nggak jadi beli. Kalau beli juga buat apa lagi? Namun kalau ternyata saya memang benar-benar membutuhkan barangnya, ya besok toh tinggal datang lagi ke tokonya. Beli barangnya dan selesai.

Hahaha tapi kan itu saya ya… 🙂

Berkat Ngeblog Sejak Tahun 2005

Hari ini Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2011, hari yang “dirayakan” oleh para blogger semenjak dicanangkan oleh Pak Mohammad Nuh saat Pesta Blogger pertama kali diselenggarakan tahun 2007. Waktu Pesta Blogger pertama kali itu saya masih termasuk golongan yang cupu di semesta blog Indonesia. Hanya kenal sedikit blogger lain, karena kala itu yang namanya kegiatan kumpul-kumpul (kopdar) masih sangat jarang.

Awalnya saya ngeblog di blog Media-Ide.com karena saya terinspirasi oleh beberapa suhu blogger seperti Enda dan Priyadi. Saya waktu itu nggak kenal mereka berdua. Saya mengikuti dari dua blog ini, siapa-siapa saja sih yang suka berkomentar, lalu berkunjung (blogwalking) ke masing-masing blog pengomentarnya. Saya lalu tahu ada beberapa komunitas blog dari blogwalking ini. Menarik, meski saya malu juga untuk ikut bergabung karena saya belum kenal siapa-siapa.

Yang saya bahas di blog Media-Ide.com memang bukan hal yang biasa orang lain tulis. Karena pada dasarnya saya nggak bisa menulis cerita pribadi, akhirnya yang saya tulis adalah pengamatan saya terhadap dunia yang saya gemari dan terjuni, yakni dunia kreatif dan interaktif. Saya terkesan dengan tulisan-tulisan di AdRants dan Adverblog, lalu berniat membuat hal yang serupa, tapi versi Indonesia.

Saya akhirnya sempat bergabung dengan komunitas blog Merdeka, sejak diundang oleh dedengkotnya Andry Huzain. Melalui komunitas inilah saya akhirnya bertemu dengan blogger-blogger senior yang juga saya kagumi setiap tulisannya, Ndoro Kakung dan Paman Tyo.

Berkat ngeblog ini, blog saya ternyata terpilih sebagai salah satu finalis blog kategori marketing di Pesta Blogger 2007, dan akhirnya menang. Dari beragam kategori award di Pesta Blogger 2007, yang dianggap sebagai best of the best waktu itu adalah blognya Enda. Namun karena Enda juga adalah ketua Pesta Blogger 2007, maka dengan ikhlas Enda meneruskan hadiahnya ke terbaik kedua, yaitu blog Media-Ide.com. Lumayan, dapat hadiah lah yang jelas.

Perjalanan selanjutnya biasa-biasa saja. Saya mencoba untuk konsisten berbagi informasi seputar hal yang sama di blog Media-Ide.com. Dalam perjalanannya saya pun akhirnya berkenalan dengan banyak komunitas blog lainnya, seperti BHI (Jakarta), Cah Andong (Jogja), Loenpia (Semarang), dll. Komunitas yang bloggernya tidak hanya asyik menulis, tapi juga aktif bekontribusi terhadap lingkungan sekitarnya. Yang jelas, teman saya di dunia online ini semakin banyak.

Tahun 2008 saya iseng-iseng mengirimkan blog saya untuk berpartisipasi dalam The BOBs Award yang diadakan oleh Deutsche Welle, Jerman. Sejak tahun itu mulai dimasukkan kategori blog berbahasa Indonesia. Salah satu jurinya juga dari Indonesia, Budi Putra, blogger senior yang banyak membahas teknologi. Kebetulan pula, dari sekian banyak blog berbahasa Indonesia yang ikut dalam kompetisi itu, blog saya terpilih sebagai pemenangnya. Hadiahnya sih nggak seberapa penting, radio internet, yang pada masa itu sulit digunakan karena keterbatasan koneksi internet yang saya miliki.

Yang jadi kejutan adalah saat Deutsche Welle menyelenggarakan Global Media Forum di Bonn, Jerman di tahun 2009. Saya tiba-tiba mendapat undangan untuk hadir, karena di event ini pula, para pemenang dari berbagai negara akan menerima penghargaannya. Tentunya semua tiket dan akomodasi selama 3 hari ditanggung oleh panitia (meski ternyata untuk tiket pulang pergi saya harus membayarnya terlebih dahulu). Saya pun berkenalan dengan blogger berbagai bangsa yang berbagi cerita tentang kondisi kebebasan berekspresi di negara mereka masing-masing. Selama 8 hari akhirnya saya habiskan di Jerman. Perjalanan ke Jerman ini pun saya rangkum semua dalam ebook 8 Hari di Jerman yang bisa dibaca dan diunduh gratis. Lagi pula, apa sih yang bisa dibawa oleh seorang blogger kecuali cerita dan foto?

Di penghujung tahun 2009, saya ternyata masih mendapat kesempatan untuk berjalan-jalan lagi. Saya diundang untuk mengikuti Blogfest Asia di Hong Kong. Saya pun merangkum perjalanan ini melalui ebook Hong Kong yang bisa dibaca dan diunduh gratis pula. Kesempatan untuk menghadiri event internasional yang mengundang blogger dari berbagai negara ini memberikan saya masukan kalau negeri kita ini benar-benar sangat beruntung dalam kebebasan berekspresi. Miris rasanya kalau mendengar pengalaman teman-teman blogger di luar sana yang tak boleh berkumpul dalam jumlah banyak, mendapat tekanan dari Pemerintahnya, hingga ada yang pernah dipenjara.

Berkat ngeblog pun belum berakhir. Di akhir tahun 2009 saya bersama beberapa blogger lain diundang oleh Acer untuk mengikuti workshop (dan jalan-jalan, banyak jalan-jalannya sih) ke Lombok dan Gili Trawangan. Rekor bagi saya bisa menuliskan 3 ebook pada tahun 2009, dengan ebook terakhir bercerita tentang wisata ke Lombok dan Gili Trawangan ini.

Saat itu cukup banyak teman-teman blogger yang akhirnya menelurkan buku baru. Salah satu yang saya kagumi adalah Ollie, yang entah sudah berapa puluh buku yang ia tulis. Rasanya nggak afdol juga ya kalau nggak pernah bikin buku. Tahun 2010 pun saya akhirnya berhasil membuat 3 buku, semuanya berhubungan dengan yang pernah saya tuliskan di blog. Ada E-narcism, F-Marketing, dan Twitter/Plurk. Dibilang sukses sih nggak juga ya, karena yang laku pun sebetulnya nggak banyak. Namun setidaknya saya punya portfolio baru di sini.

Tahun 2011 sebagai blogger, saya pun diajak oleh Acer menjadi salah satu Acer Friendsnya. Berkat ngeblog ini juga, saya pun menjadi salah satu orang yang pertama merasakan memegang Acer Iconia Tab, yang masih saya pakai hingga saat ini. Beberapa kali juga saya diminta untuk berbagi cerita di seminar dan workshop, membahas tentang topik yang sering saya ceritakan di blog. Beberapa kali sebagai blogger, saya diundang untuk hadir dalam beragam acara yang bisa membantu memperluas networking saya. Yang paling penting, berkat ngeblog, teman-teman saya pun semakin banyak.

Hingga saat ini saya masih mencoba untuk terus ngeblog, meski sejujurnya semangat ngeblog ini kadang ada, kadang menghilang. Apalagi blog Media-Ide.com ini membahas hal yang niche, yang kadang membuat saya sering kehabisan bahan ulasan.

Saya kini punya 3 blog lain di luar Media-Ide.com. Masing-masing blog ini menyalurkan obsesi saya menulis di bidang yang berbeda-beda. Blog mataku.media-ide.com lebih membahas tentang kecintaan saya terhadap fotografi. Blog laindunia.media-ide.com berisikan cerita-cerita pendek, yang kebanyakan bergenre flash fiction. Lalu yang baru saya hidupkan adalah blog ini, pitra.media-ide.com, yang berisikan cerita personal yang saya alami. Saya juga masih menulis ebook, dan ebook terakhir saya bercerita tentang perjalanan saya ke negeri Shenzhen, Hong Kong, dan Macau.

Berkat ngeblog, saya pun bisa eksis di dunia online (plus berkat Twitter juga sih). Terima kasih untuk teman-teman blogger yang terus menginspirasi saya (dan memaksa saya) untuk menulis hingga saat ini. Semoga blog Media-Ide.com dan anak-anaknya masih bisa eksis hingga tahun-tahun mendatang.