Hai kamu yang…

Hi Kamu!

Teman di Bioskop

Mungkin hanya aku yang mendapat suguhan spesial dari bioskop ini. Bayangkan, aku bisa menonton film apapun dengan bebas. Kamu percaya nggak, kalau setiap ada film baru yang tayang di bioskop ini, aku selalu mendapat kesempatan menontonnya terlebih dahulu. Aku bahkan dengan puas bisa menontonnya berulang kali. Tanpa batas.

Nomor kursi G16 di tengah teater sudah menjadi favoritku. Dengan baik hatinya, pengelola bioskop selalu mengalokasikan nomor kursi itu untukku. Percaya deh, tak akan ada orang lain yang bisa mendapatkannya.

Kepuasan menonton menjadi kebahagiaan, sekaligus kesedihan bagiku. Bangku di kiri kananku selalu diduduki oleh orang yang tak aku kenal. Tak ada teman yang bisa kuajak berbagi cerita ketika film usai diputar. Tak ada teman yang menemaniku tertawa atau menangis ketika film diputar. Kenikmatan yang hanya bisa aku peroleh dalam kesendirian.

Hai kamu, mari sapa aku di nomor kursi G16. Ajaklah aku menikmati kebahagiaan menonton film bersamamu. Aku memang kasat mata di hadapanmu, namun bukan berarti aku tak mendengar perkataanmu. Maukah kamu jadi temanku?

Bus yang Sepi

Saya mau berbagi cerita ke kamu sekalian tentang pengalaman semalam, saat saya pulang dari Bekasi. Sudah lewat pukul 22:00 malam. Bus yang mengarah ke Blok M ini adalah bus yang terakhir. Saya naik dan melihat hanya ada 3 orang di depan, si supir bus, kenek, dan seorang penumpang pria duduk di barisan depan.

Saya melihat ke belakang. Meski lampu suram menerangi, saya bisa melihat kalau semua bangku di belakang terlihat kosong. Mungkin tak ada yang berani duduk di belakang. Cukup membuat bulu kuduk berdiri memang kalau duduk di belakang sendirian. Saya pun duduk di deretan kelima dari depan.

Saya lalu membuka buku, membaca menghabiskan waktu. Bus pun berjalan memasuki tol. Saat saya mulai asyik terbenam dalam bacaan, suara nafas deheman terdengar dari sisi kanan saya. Baru sadar kalau ternyata di deretan saya, di sisi paling kanan dekat jendela sudah ada penumpang baru, seorang perempuan berambut panjang. Saya tak menyadari kapan ia naik ke dalam bus. Mungkin saking asyiknya saya membaca, membuat saya jadi abai akan kedatangannya.

Jujur saja, saya agak bergidik begitu melihat si penumpang. Ia mengenakan gaun putih polos dan sangat bersih, menerus dari atas ke bawah. Ia selalu saja menatap ke arah luar bus. Saya mencoba memperhatikan melalui refleksi jendela, namun poni hitam panjang menghalagi wajahnya terlihat jelas. Berulang kali ia mendehem.

Ah suasana lampu remang-remang dalam bus ini bisa membuat saya berpikir macam-macam. Saya mencoba mengabaikannya dan kembali membaca buku. Sampai tiba-tiba bau melati segar menusuk hidung. Spontan saja pikiran saya langsung membayangkan yang seram-seram. Perlahan saya menengok ke arah kanan, sambil berpikir, jangan-jangan bau ini bersumber dari perempuan berambut panjang hitam itu lagi.

Si perempuan seperti tak bergeming. Ia masih saja menatap ke luar jendela. Saya berdiri mencoba melihat ke depan dan ke belakang. Supir dan kenek terlihat saling mengobrol. Bangku-bangku di belakang saya masih terlihat kosong. Saya semakin yakin kalau bau ini datang dari perempuan ini.

Ah sudahlah, toh sebentar lagi bus akan sampai di tengah kota. Saya kembali duduk dan mencoba mengabaikan bau menusuk itu. Entah kenapa, tiba-tiba saya kepikiran, kenapa nggak iseng saya foto saja dia ya. Saya pun mengeluarkan ponsel, dan mengarahkannya ke sisi kanan. Saya matikan lampu flash, supaya tak membuat si perempuan terkejut. Mudah-mudahan saja sih ia tak melihat saya saat mengambil fotonya (karena toh ia selalu saja menatap ke luar jendela).

Akhirnya saya beranikan menjepretkan gambar. Snap.

Pas saat itu tepat bus melewati Komdak di Jalan Gatot Subroto, dan saya harus turun dari situ. Kenek di depan sudah berteriak mengingatkan untuk bersiap turun. Si perempuan masih saja tak bergeming. Saya menepis pikiran macam-macam dan buru-buru turun.

Bus kembali melanjutkan perjalanannya ke Blok M, sementara saya menunggu bus berikutnya yang akan mengantar pulang ke arah Grogol. Sambil menunggu, saya buka ponsel untuk melihat hasil jepretan tadi, dan inilah hasilnya.

bus
Pertanyaannya adalah, apakah kamu bisa melihat perempuan bergaun putih dan berambut panjang yang saya ceritakan di atas? Apakah yang saya lihat semalam itu hanyalah ilusi saya belaka ataukah nyata?

Terkurung dalam Kegelapan

Tiga pria terkurung dalam kegelapan gua. Mereka duduk berdekatan, mencoba menatap wajah teman mereka masing-masing, meski sebenarnya yang terlihat hanya hitam kelam di mata mereka. 

Pria pertama dengan suaranya yang penuh ketakutan berkata, “Sampai kapan ada yang datang membebaskan kita dari kurungan gua ini?”

Pria kedua mencoba menjaga suaranya agar tetap tenang. “Mungkin kita bisa bebas. Mungkin juga tidak. Tak ada yang tahu kita terperangkap di sini.”

Tiba-tiba suara gesekan terdengar di belakang mereka. Suara kerikil berbenturan dengan kerikil lainnya.

“Suara apakah itu?” tanya pria pertama.

“Itu hanya suara kerikil. Tidak usah takut,” kata pria kedua.

Pria ketiga mencoba menghibur dua pria lainnya. “Bagaimana kalau kita bermain imajinasi. Kita coba hilangkan ketakutan dalam diri kita.”

“B-bagaimana c-caranya?” tanya pria pertama gugup ketakutan.

Suara desahan tiba-tiba terdengar di belakang mereka. Tipis dan basah menakutkan.

“S-suara a-apa itu?” pria pertama semakin ketakutan.

“Hai.. sudah, abaikan! Kita mulai pertanyaannya ya!” kata pria ketiga mencoba menenangkan.

Pria pertama terdengar mengambil nafas. “Baiklah..”

“Kita berandai-andai seandainya isi gua ini tidak kosong. Kalian akan mengimajinasikan gua ini berisi apa saja?” tanya pria ketiga.

“Aku ingin gua ini berisi ratusan peti berisikan harta emas,” jawab pria kedua. “Aku akan membawanya ke kota, dan aku akan dielu-elukan warga kota sebagai orang terhormat.” 

“Keren…,” kata pria ketiga. “Kalau kamu?”

Suara keresek terdengar mengeras. Suara nafas yang tadi terdengar tipis tiba-tiba mengeras berat, seakan-akan ada sesosok figur di belakang mereka.

Pria pertama mencoba mengabaikan suara itu. Ia mengambil nafas dan bercerita, “Aku mau gua ini berisikan makanan dan minuman yang mencukupi.”

“Kalau kamu mau apa?” kata pria kedua masih mencoba untuk tenang, meski sebenarnya ia ketakutan.

Udara dingin tiba-tiba terasa merayap tengkuk ketiganya. Kerikil terdengar bergeser, seakan-akan ada suara kaki di belakang mereka bertiga.

“Kalau aku..,” jawab pria ketiga. “Aku ingin kalian berdua terperangkap dalam ketakutan di gua ini. Aku ingin agar penunggu gua ini kenyang dengan menyantap kalian berdua.”

Suasana pun hening. Teriakan keras pun tiba-tiba terdengar saat makhluk besar berbadan gelap melayangkan cakarnya ke leher pria pertama dan kedua. Makhluk besar ini mengeluarkan suara menakutkan. Cabikan demi cabikannya menyayat badan pria pertama dan kedua. Teriakan keras pun berakhir dalam kesepian.

“Aku juga ingin kaya dan makmur seperti kalian berdua. Itulah kenapa kalian berdua harus mati demi kebahagiaanku,” kata pria ketiga menatap sisa-sisa badan pria pertama dan kedua yang tersisa dari santapan makhluk gelap mengerikan itu.

Pria ketiga pun berjalan menuju pintu gua. Tangannya menyentuh salah satu dinding, dan seketika batu-batu bergeser. Si pria berjalan ke luar gua. Ia menatap ke dalam gua dan berkata, “aku akan kembali dengan dua orang pria lagi untuk santapanmu esok.”