Dua Pengubur

Bulan purnama bersinar tinggi, menerangi kelam malam yang penuh kabut. Dua orang berbaju kumuh mengayunkan sekop mereka. Tanah tanpa hunian ini akan menjadi tempat pemakaman baru.

“Saatnya kamu terkubur selamanya,” suara berat terdengar dari salah satu pengubur.

“Hahahaha…” pengubur lainnya tertawa keras mengerikan. “Sudah pantas ia mati. Wajah mengerikannya akan hilang selamanya dari muka bumi.”

“Kau ingat, saat kita berhasil menjegalnya tadi?” si pengubur bersuara berat menghentikam ayunan sekopnya. Ia menatap temannya.

“Tentu! Kalau aku ingat wajah ketakutannya tadi, aku jadi ingin tertawa keras.”

“Hahaha, apalagi saat tadi kamu mengayunkan keras sekopmu ke kepalanya. Ia langsung tak berkutik.”

“Lihatlah ia kini terkapar sekarang di lubang. Ayo kita kubur segera, supaya wajah mengerikannya tak membayangi kita lagi.”

Kedua pengubur mengayunkan sekop untuk terakhir kalinya. Tanah merah menutupi bangkai kecoak itu selamanya.

Malam di Rumah Sakit

Aku terbangun di tengah malam. Rasanya aku berada di sebuah bilik inap rumah sakit. Nuansa kolonial menghiasi isi ruangan. Beberapa cat di dinding terlihat mengelupas. Ruangan ini terasa sumpek, baunya tak mengenakkan. Serasa bangunan lama yang jarang mendapat perawatan.

Aku mendengar langkah kaki di luar kamar. Aku menunggu, berharap ada yang membukakan pintu dan menjengukku. Lama kutunggu, tapi tak ada yang datang ke kamarku. Apakah mereka tak tahu kalau aku sudah terbangun? 

Aku mencoba menjerit memanggil perawat, namun tak ada suara yang keluar. Tenggorokanku kering, serasa pasir memenuhinya. Sakitnya menghilangkan keinginanku untuk berteriak lebih lanjut.

Apakah aku yang harus keluar kamar? Aku pun mencoba bangun, dan baru kusadari kalau kedua kakiku sungguh sakit. Tak kuasa aku berdiri, apalagi mencoba berjalan. 

Tak ada jalan lain. Aku harus bisa menyeret sendiri badanku ke luar. Kujatuhkan diriku ke lantai. Geraian rambutku yang panjang jatuh menutupi wajah. Aku mencoba merayap sambil menahan sakit di kedua kaki yang kian menyiksa.

Apa yang sebetulnya terjadi pada diriku? Kecelakaan? Mengapa aku tak ingat apa-apa? 

Aku merayap mendekati pintu. Nyeri di kaki hanya bisa kutahan, sambil aku gerakkan badan dan kakiku perlahan satu demi satu. Dari lantai, aku gapai pegangan pintu dan kubuka. Decitan dari bawah pintu terdengar saat pintu kubuka perlahan.

Aku merangkak ke luar kamar, memasuki selasar dengan pencahayaan yang remang-remang. Rambutku yang berantakan berulang kali jatuh menutupi wajah, meski sudah kusibak berulang kali. Aku menunggu di depan, berharap ada perawat yang lewat mendekat.

Yang kutunggu pun akhirnya datang. Dalam cahaya yang terbatas, aku melihat beberapa perawat berseragam putih terlihat berjalan mendekat. Aku menggapaikan tanganku, mencoba menarik perhatian mereka. Sekali lagi aku mencoba bersuara, berteriak, meski akhirnya hanya geraman suara yang bisa keluar.

Tiba-tiba mereka menghentikan langkah kaki. Mereka seakan ragu untuk mendekat. Aku terus melambaikan tangan. Satu orang perawat berjalan maju, sementara yang lainnya terlihat menunggu di belakang. Aku bertanya-tanya, apa lagi yang mereka tunggu? Kenapa mereka tak segera menghampiriku? 

Si perawat mendekatiku dengan perlahan. Cahaya selasar begitu suram. Mungkin saja ia tak bisa melihatku dengan jelas. Aku saja tak bisa melihat wajah si perawat. Tiba-tiba ia berhenti, lalu memandang ke teman-teman perawat di belakangnya. Entah apa yang mereka bicarakan, hingga akhirnya semua pun ikut bergerak maju.

Syukurlah. Aku mencoba menyeret lagi kakiku, menggeser-geser badanku mendekati mereka. Para perawat itu lalu melangkahkan kakinya dengan cepat. Sepertinya keraguan mereka hilang. 

Saat itulah baru aku sadar. Kalau aku tak sendirian di selasar ini. Aku melihat dalam kesuraman cahaya, bergeletakan benda-benda gelap yang mirip dengan badan manusia. Ada yang aneh dengan suasana ini. 

Firasat burukku ini datang terlambat. Para perawat sudah sampai di hadapanku. Aku menengadahkan kepala, mencoba melihat wajah mereka. Aku sibak rambut panjangku untuk melihat dengan lebih jelas. 

Seketika itu juga aku menjerit keras, meski kering di leher ini hanya membuat suaraku seperti gumaman. Ketakutanku di ambang batas saat kulihat wajah para perawat yang pucat. Urat nadi biru keluar menonjol dari kulit wajah yang mengering. Gigi tajam bersisakan bekas darah menonjol dari bagian atas mulut mereka. Mata mereka pucat putih kosong. 

Salah satu perawat menyambar leherku, mengoyaknya dengan taring tajam di mulutnya. Perawat lainnya menggerogoti kakiku yang sakit. Belum lagi aku mencoba berteriak, perawat-perawat lainnya sudah mengerumuniku, menancapkan taring-taringnya ke kulit badanku. 

Seketika itu pula pandanganku mulai gelap. Rasa sakit di seluruh badanku tak terasa lagi. Semuanya pun menjadi hitam saat taring tajam itu menancap di kedua mataku.

Terperangkap

Aku terduduk menyendiri. Sekelilingku gelap. Hanya lampu bohlam kusam menggantung di langit. Itu pun sebentar-sebentar padam. Rasanya bulu kudukku tak pernah bisa beristirahat. Tegang, menemani hatiku yang berdebar takut.

Kalau tak terpaksa, tak mau aku menyendiri duduk di kotak sempit ini. Bau menusuk keluar dari salah satu sudut bawah kotak yang terlalu gelap untuk bisa kulihat. Aku menggoyangkan kedua telapak kakiku, khawatir kalau makhluk kecil bersungut dan menjijikkan itu kembali merayap kakiku lagi.

Aku berusaha menahan diri, meski aku sudah tak tahan lagi diam duduk di sini. Saat ini aku hanya bisa berdoa agar cobaan ini segera berakhir. Duh, dengusan angin pun ikut menambah ketakutanku. Suara-suaranya terdengar seperti nafas makhluk yang menakutkan. Aku tahu ini hanya imajinasiku, tapi aku tak kuasa menghilangkannya dari pikiranku.

Sudah. Sudah. Aku tak tahan lagi. Segerakan aku keluar dari ruang sempit ini!

Doaku pun akhirnya terjawab. Rasa melilit di perutku pun berangsur hilang. Sisa energi kukerahkan untuk membuang isi perutku ke lubang hitam di bawahku.

Aaah.. Aku pun bernafas lega. Segera kupakai celanaku, kubuka pintu, dan keluar dari toilet umum celaka ini. Hati ini pun akhirnya bisa merdeka dari rasa takut.

Perjalanan Akhir

Aku menerima helm dari supir ojek, lalu mengenakannya. Setelah aku bilang siap, supir ojek pun mulai memacu motornya. Aku merasakan angin kencang bergerak seiring dengan motor bergerak semakin cepat. Entah karena memang anginnya yang terasa semilir, atau karena aku memang mengantuk.

Sejak semalam memang aku lembur di kantor dan kurang tidur. Salah satu alasanku meninggalkan mobil di kantor pagi ini karena aku khawatir terjadi apa-apa kala menyetir. Ojek langganan kantor lalu menjadi pilihan untuk mengantarku pulang. Supir ojek membawaku melewati kiri dan kanan mobil dengan hati-hati. Di belakang, aku menahan kantuk yang semakin terasa.

Tanpa terasa aku terbawa akan lamunan. Menumpang motor besar mengarungi padang berwarna merah menyala. Motor yang kami tumpangi bergerak cepat menyusuri tepian jurang. Aku ikut waspada saat pengemudi motor membelokkan motornya tajam ke kiri dan ke kanan, melewati tepian jurang yang berkelok-kelok. Sedikit gerakan yang salah bisa membuang kami jatuh ke jurang.

Di kejauhan aku melihat kereta raksasa bergerak menuju kami. Entah bagaimana caranya, kereta itu tetap bisa bergerak lancar di atas tepian jurang. Suara yang dikeluarkannya sungguh menggelegar. Aku bahkan sampai harus menutup telinga setiap kali aumannya terdengar. Suara itu semakin keras saat motor besar kami semakin bergerak mendekatinya.

Kereta raksasa pun bergerak semakin kencang. Tidak ada yang terlihat akan saling mengalah. Seketika itu juga, aku hanya melihat gelap. Hitam kelam. Tanpa suara. Tanpa gambar. Lalu tak lama, semuanya terang. Sangat terang menyilaukan.

Aku berada di atas awan, melihat jauh ke bawah. Mataku begitu tajam, hingga aku bisa melihat orang-orang berkerumun. Sebuah bus dan sebuah motor terlihat hancur. Dua orang terlihat terkapar tak bergerak. Pikiranku langsung kosong, tak kuasa menatap wajah dua orang itu. Aku mendengar bisikan suara dari atas kepalaku. Aku pun menengadahkan kepala. Seorang perempuan berwajah cantik dan bersayap terlihat menyambutku. Di belakangnya, terlihat gerbang cahaya bersinar terang, mengundangku untuk masuk melewatinya. Silaunya cahaya membuatku tak kuasa untuk memejamkan mata.

Aku buka kembali mataku. Pandanganku beralih kembali ke punggung supir ojek. Rupanya aku tadi terbawa mimpi. Motor masih bergerak ke kiri dan ke kanan melewati mobil. Jalan rasanya terasa tanpa akhir, hingga akhirnya supir ojek memperlambat motornya. Aku melepas helm, mengeluarkan uang untuk membayarnya, dan mengucapkan terima kasih.

Akhirnya aku pun tiba di rumahku. Aku membuka pagar. Pintu rumah tak terkunci dan aku pun melangkah masuk. Suara keras dan tajam langsung menghardik namaku dengan keras. Awalnya aku kira itu suara ayahku. Ternyata suara itu datang dari seorang berbadan merah dan besar. Wajahnya menakutkan dengan tanduk tajam di dahinya. “Selamat datang di kerajaanku,” sambutnya.

Aksi dan Reaksi

Nadya bergegas memasuki restoran. Ia menyapa salah satu pelayan, yang langsung mengarahkannya ke salah satu sudut ruangan. Ini salah satu restoran favoritnya. Bersama Hafid, sahabatnya, ia sudah sering ke sini sejak mereka berdua sama-sama duduk di bangku kuliah. Sejak lama mereka saling berbagi suka dan duka satu sama lain. Kegembiraan ditanggung bersama. Kesukaran selalu dihadapi berdua.

 

Hafid bukan orang yang suka dibiarkan menunggu. Nadya tahu betul itu. Makanya ia selalu berusaha untuk sampai di lokasi lebih dahulu daripada Hafid. Alangkah leganya, ternyata Hafid belum datang. Nadya pun duduk, lalu memesan segelas es jeruk. Kepada pelayan ia bilang, kalau ia masih akan menunggu sahabatnya sebelum nanti ia memesan makanan. Si pelayan pun tersenyum dan meninggalkan Nadya.

 

Nadya menatap jam. Pukul 19:20. Aneh, Hafid bukan orang yang suka datang terlambat. Hafid bisa jadi adalah satu-satunya orang yang dikenal Nadya yang paling disiplin soal waktu. Perasaan takut mulai menghinggapi Nadya. Es jeruk di hadapannya sudah habis ia minum, untuk melawan rasa takut di hatinya. Ia pun tak tahan lagi. Dikeluarkannya telepon genggam dari tasnya, dan Nadya pun menghubungi sahabatnya. Mati. Telepon genggam Hafid ternyata dinonaktifkan.

 

Pukul 19:40, dan Nadya semakin khawatir kalau sesuatu terjadi pada sahabatnya. Ia berulang kali menelepon dan meninggalkan pesan SMS untuk Hafid, namun semuanya tanpa hasil. Nadya mencoba menelepon rumahnya, juga tidak ada yang mengangkat. Ia pun mulai putus asa, tak tahu lagi harus mengontak siapa.

 

Si pelayan kembali datang menghampiri. Bukan untuk menawarkan makan malam, tapi memberikan sebuah amplop cokelat besar. Nadya menerimanya dengan heran. Ia mengambil amplop itu dengan tangan gemetar. Tulisan tertera di bagian depan amplopnya, “Untuk Sahabatku, Nadya.”

 

Nadya mulai berpikir macam-macam. Ini tulisan tangan Hafid. Amplopnya cukup berat. Di dalamnya terlihat sebuah surat dan benda terbungkus kain. Ia pun mengambil surat dan membacanya.

 

“Setiap aksi akan ada reaksi. Setiap perbuatan akan ada yang harus dibayar. Malam ini aku sudah membayar hutangku kepada dunia. Dunia telah melahirkan aku dan orang tuaku. Kini giliranku untuk membalas kebaikannya. Tepat pukul 19:00 aku akan mengirim diriku dan orang tuaku keluar dari dunia ini. Selamat jalan, Nadya. Jangan lupa untuk membayar hutangmu pula.”

 

Nadya berulang kali membaca surat itu, mencoba memaknai kata demi kata. Ia masih berharap dan berdoa kalau yang ia bayangkan adalah salah. Nadya membuka kembali amplop dan mengambil benda yang terbungkus kain. Di dalamnya terbungkus sebilah pisau. Selembar kertas di samping pisau tertulis, “Nadya, pisau ini untuk kamu. Kembaran pisau ini sudah aku pakai untuk membayar hutangku.”

 

Nadya pun terduduk lemas, tak kuasa lagi berpikir apa-apa. Air mata mengalir deras membasahi pipinya. Ia hanya bisa menatap pisau itu dengan lama.