Memotret di Rooftop

Salah satu keuntungan punya apartemen di Westmark adalah akses ke rooftop (atap). Biasanya banyak gedung apartemen yang menutup pintu menuju rooftop. Syukurlah apartemen Westmark tidak.

Lokasi apartemen ini berada persis di sudut persimpangan tomang. Lokasinya persis berhadapan dengan Mal Taman Anggrek. Satu sisi apartemen menghadap ke mal, sementara sisi sebaliknya menghadap ke jalan tol yang menuju merak. Gedung apartemen ini terdiri dari 35 lantai (dipotong semua lantai yang menggunakan angka 4 dan 13). Hanya penghuni yang bisa naik. Itu pun hanya bisa ke lantai tempat tinggal huniannya.

_MG_1278
Melihat Jakarta dari ketinggian

Memotret di Kegelapan

Semalam saat makan-makan bareng usai event audisi Cherrybelle di Malang Town Square, ada kebutuhan untuk foto-foto dan rekaman video, karena ada yang barusan ulang tahun. Masalahnya, kita semua makan di ruang luar, dengan cahaya yang seadanya. Nggak mungkin motret dan rekam video dalam kondisi ini. Nggak akan kelihatan apa-apa. Saya sih bisa pakai flash (meski sebetulnya saya menghindari banget pakai flash). Namun tetap saja, untuk video akan butuh lampu tambahan.

Untunglah pihak pengelola bersedia meminjamkan lampu yang bisa dipasang fleksibel. Haha baguslah, jadinya nggak gelap total. Saya tetap memotret tanpa flash.

Foto-foto ini pasti akan diminta saat itu juga untuk di-share di social media. Jadi saya perlu mengantisipasi tone warnanya. Untuk lebih mengurangi warna yang terlalu jingga (yang biasanya terjadi kalau motret malam), saya set white balance di tungsten light 3200K. Biasanya sih saya selalu pakai AWB (auto white balance) lalu saya edit belakangan di Lightroom. Namun karena ini diminta cepat, dan saya nggak bawa notebook, antisipasi awal sebaiknya sudah saya lakukan di kamera. ISO saya set di 8000 dan f 4. Saya usahakan supaya masih bisa memotret di kecepatan 1/125. Untuk di social media, saya nggak terlalu memikirkan noise, karena toh nggak akan terlalu kelihatan untuk ukuran kecil. Setelah foto saya pindahkan ke ponsel, saya edit tone dan angkat sedikit warnanya menggunakan aplikasi VSCO.

Hasilnya seperti apa? Ini beberapa di antaranya.

Update: berikut ini video ulang tahun Angel Chibi 🙂

Memotret Panggung dengan Fujifilm X100S

Coba baca artikel menarik ini deh, tentang kecintaan seseorang akan kamera DSLR-nya lalu bimbang menggunakan kamera mirrorless, tapi akhirnya lebih sering pakai DSLR-nya kembali. Apa yang saya rasakan mungkin nggak jauh berbeda dengan itu.

Sudah lama banget saya pakai Canon 5D Mark II. Kamera ini dengan beberapa lensa yang saya punya sudah sering menemani saya memotret berbagai situasi. Kalau untuk jalan-jalan, memang saya bisa pilih antara 5D saya atau kamera mirrorless Fujifilm X100S saya. Demi kepraktisan biasanya saya cenderung membawa yang mirrorless. Namun kalau untuk kebutuhan motret stage, sudah pasti saya memilih 5D, karena saya butuh lensa zoom untuk itu. Kamera X100S hanya memiliki lensa fix 23 mm yang tidak bisa diganti-ganti.

Lalu apakah X100S tidak bisa dipakai untuk memotret stage? Itu yang saya tantang ke diri saya sendiri kemarin. Kebetulan hari Selasa, 7 Juli 2015 kemarin ada event buka puasa bersama aplikasi Yogrt. Di event ini ada acara ngobrol-ngobrol bareng Raditya Dika, dan ditutup oleh performance grup GAC (Gamal Audrey Cantika). Saya coba memotret aksi GAC dengan X100S.

Kesimpulan yang bisa saya ambil sementara ini:

  • Lensa X100S kan fix, hanya 23 mm, jadi cuma bisa untuk pengambilan jarak dekat. Untuk kondisi stage ala di kafe atau bar sih masih bisa motret pakai ini. Namun untuk memotret stage besar yang biasanya dibatasi oleh media pit, yang akan didapat hanya gambar wide, tidak bisa fokus ke salah satu personil.
  • Jumlah penonton juga berpengaruh. Karena event Yogrt ini bersifat undangan terbatas, maka yang menonton juga tidak banyak. Saya bisa bebas bergerak ke sana ke mari, bahkan bisa mendekati GAC. Jadi tidak masalah memotret mereka dengan lensa fix 23 mm.
  • X100S memiliki bukaan hingga f 2, tapi akhirnya jarang saya pakai. Saya tetap pakai f 4, karena saya khawatir tidak bisa mendapatkan fokus. Apalagi kondisi pencahayaan gelap, bisa menyulitkan auto focus.
  • Saat memotret saya mencoba tanpa built-in flash dan dengan built-in flash X100S. Ternyata hasilnya lebih bagus dengan built-in flash. Terlalu gelap bila tanpa flash. Sebenarnya memang sangat tidak dianjurkan memotret stage dengan flash, karena bisa mengganggu performance musisi. Namun karena ini event undangan terbatas, saya membenarkan diri saya sendiri untuk memotret menggunakan flash. Hahaha sebaiknya jangan ditiru sih ya. Kalau ini di event besar, sudah pasti saya akan urung menyalakan flash sih.
  • Salah satu kesalahan saya kemarin adalah menggunakan ISO 6400. Tadinya saya pakai ISO 6400 demi mengejar tanpa flash. Lalu setelah akhirnya saya putuskan pakai flash, saya lupa menurunkannya. Kalau sudah pakai flash, sebetulnya pakai ISO 400 atau 800 mungkin juga sudah cukup. Konsekuensi penggunaan ISO tinggi adalah noise foto akan lebih terlihat.

Lalu bagaimana hasil-hasil foto GAC di Yogrt? Berikut ini beberapa foto pilihan. Untuk lebih lengkapnya, silakan cek galeri Flickr saya di sini.

DSCF3454

DSCF3466

DSCF3445

DSCF3449

DSCF3489