Ikutan Eksperimen Flashmob

Hari Jumat malam lalu, terkait dengan Sumpah Pemuda, saya tertarik untuk ikutan acara yang saya tahu infonya hanya dari Facebook. Ini baru sebenar-benarnya flashmob, karena semua yang ikut serta benar-benar atas keinginan sendiri dan tanpa bayaran. Sebenarnya saya suka malas mengikuti acara yang ujung-ujungnya ditunggangi brand. Makanya saya coba tanya sana sini dulu, memastikan kalau perhelatan flashmob ini tidak disponsori brand tertentu. Sejauh yang saya tahu saat itu, memang tidak ada.

Di flashmob ini, semua peserta yang mau ikutan harus terlebih dahulu mengunduh MP3 berdurasi 25 menit. Kita hanya boleh memutar MP3 ini pukul 19:00 tepat di Central Park. Selama 25 menit itu, nantinya akan ada petunjuk melalui rekaman MP3 kegiatan apa yang harus kami lakukan. Peserta yang datang harus mengenakan kaos putih dan merah, sesuai tanggal kelahirannya di angka ganjil atau genap. Peserta juga harus membawa senter dan membawa jaket atau rompi untuk menutupi kaos yang kita pakai.

Barisan Merah dan Putih

Di Central Park saya bertemu dengan Rahne dan Muty (dan temannya yang saya lupa namanya). Ternyata hanya bermodal undangan di Facebook, yang disebar dari mulut ke mulut, banyak sekali yang berdatangan. Hujan rintik-rintik nggak membuat minat para peserta mengendur.

Jam 19:00 tepat kami semua memainkan MP3 di ponsel kami masing-masing. Petunjuk di MP3 mengajak kami semua untuk freeze (diam di tempat), jongkok, meloncat-loncat, mengayun-ayunkan senter ke langit, membentuk bendera Merah Putih berdasarkan kaos yang kami pakai, menyanyikan beberapa lagu wajib, hingga membaca bersama Sumpah Pemuda.

Muty, Rahne, dan temannya Muty

Sayangnya memang meski melalui Facebook, kita sudah diminta untuk mencocokkan waktu di jam kita masing-masing, kenyataannya di lapangan, sinkronisasi susah dilakukan. Saya misalnya, telat memencet tombol play, sehingga ketinggalan dibanding peserta lainnya. Di tengah-tengah aksi flashmob, saya akhirnya mempercepat petunjuk supaya bisa sinkron dengan peserta lainnya.

Di akhir acara, flashmob ini sungguh menyenangkan. Fun yang jelas. Saking besarnya energi para peserta yang ikutan berpartisipasi, hingga acara flashmob berakhir pun, mereka masih asyik berkumpul beramai-ramai spontan di tengah taman di Central Park.

Hmm.. buat saya yang ikut merasakan langsung di dalamnya, aksi flashmob ini sungguh eksperimen sosial yang sangat menarik. Betapa banyaknya orang yang antusias ikutan, meski dalam kemisterian tindakan apa yang harus dilakukan di lapangan. Kegiatan ini pun tanpa promosi heboh, namun bisa mendatangkan lebih dari 100 orang untuk terlibat aktif berpartisipasi.

Siapa yang sudah pernah ikutan flashmob serupa sebelumnya?

Foto-foto usai bubaran flashmob

Malam di Rumah Sakit

Aku terbangun di tengah malam. Rasanya aku berada di sebuah bilik inap rumah sakit. Nuansa kolonial menghiasi isi ruangan. Beberapa cat di dinding terlihat mengelupas. Ruangan ini terasa sumpek, baunya tak mengenakkan. Serasa bangunan lama yang jarang mendapat perawatan.

Aku mendengar langkah kaki di luar kamar. Aku menunggu, berharap ada yang membukakan pintu dan menjengukku. Lama kutunggu, tapi tak ada yang datang ke kamarku. Apakah mereka tak tahu kalau aku sudah terbangun? 

Aku mencoba menjerit memanggil perawat, namun tak ada suara yang keluar. Tenggorokanku kering, serasa pasir memenuhinya. Sakitnya menghilangkan keinginanku untuk berteriak lebih lanjut.

Apakah aku yang harus keluar kamar? Aku pun mencoba bangun, dan baru kusadari kalau kedua kakiku sungguh sakit. Tak kuasa aku berdiri, apalagi mencoba berjalan. 

Tak ada jalan lain. Aku harus bisa menyeret sendiri badanku ke luar. Kujatuhkan diriku ke lantai. Geraian rambutku yang panjang jatuh menutupi wajah. Aku mencoba merayap sambil menahan sakit di kedua kaki yang kian menyiksa.

Apa yang sebetulnya terjadi pada diriku? Kecelakaan? Mengapa aku tak ingat apa-apa? 

Aku merayap mendekati pintu. Nyeri di kaki hanya bisa kutahan, sambil aku gerakkan badan dan kakiku perlahan satu demi satu. Dari lantai, aku gapai pegangan pintu dan kubuka. Decitan dari bawah pintu terdengar saat pintu kubuka perlahan.

Aku merangkak ke luar kamar, memasuki selasar dengan pencahayaan yang remang-remang. Rambutku yang berantakan berulang kali jatuh menutupi wajah, meski sudah kusibak berulang kali. Aku menunggu di depan, berharap ada perawat yang lewat mendekat.

Yang kutunggu pun akhirnya datang. Dalam cahaya yang terbatas, aku melihat beberapa perawat berseragam putih terlihat berjalan mendekat. Aku menggapaikan tanganku, mencoba menarik perhatian mereka. Sekali lagi aku mencoba bersuara, berteriak, meski akhirnya hanya geraman suara yang bisa keluar.

Tiba-tiba mereka menghentikan langkah kaki. Mereka seakan ragu untuk mendekat. Aku terus melambaikan tangan. Satu orang perawat berjalan maju, sementara yang lainnya terlihat menunggu di belakang. Aku bertanya-tanya, apa lagi yang mereka tunggu? Kenapa mereka tak segera menghampiriku? 

Si perawat mendekatiku dengan perlahan. Cahaya selasar begitu suram. Mungkin saja ia tak bisa melihatku dengan jelas. Aku saja tak bisa melihat wajah si perawat. Tiba-tiba ia berhenti, lalu memandang ke teman-teman perawat di belakangnya. Entah apa yang mereka bicarakan, hingga akhirnya semua pun ikut bergerak maju.

Syukurlah. Aku mencoba menyeret lagi kakiku, menggeser-geser badanku mendekati mereka. Para perawat itu lalu melangkahkan kakinya dengan cepat. Sepertinya keraguan mereka hilang. 

Saat itulah baru aku sadar. Kalau aku tak sendirian di selasar ini. Aku melihat dalam kesuraman cahaya, bergeletakan benda-benda gelap yang mirip dengan badan manusia. Ada yang aneh dengan suasana ini. 

Firasat burukku ini datang terlambat. Para perawat sudah sampai di hadapanku. Aku menengadahkan kepala, mencoba melihat wajah mereka. Aku sibak rambut panjangku untuk melihat dengan lebih jelas. 

Seketika itu juga aku menjerit keras, meski kering di leher ini hanya membuat suaraku seperti gumaman. Ketakutanku di ambang batas saat kulihat wajah para perawat yang pucat. Urat nadi biru keluar menonjol dari kulit wajah yang mengering. Gigi tajam bersisakan bekas darah menonjol dari bagian atas mulut mereka. Mata mereka pucat putih kosong. 

Salah satu perawat menyambar leherku, mengoyaknya dengan taring tajam di mulutnya. Perawat lainnya menggerogoti kakiku yang sakit. Belum lagi aku mencoba berteriak, perawat-perawat lainnya sudah mengerumuniku, menancapkan taring-taringnya ke kulit badanku. 

Seketika itu pula pandanganku mulai gelap. Rasa sakit di seluruh badanku tak terasa lagi. Semuanya pun menjadi hitam saat taring tajam itu menancap di kedua mataku.

60 Menit

50 60 menit

Tanggal hari ini 26 Maret 2011, pukul 20:30 – 21:30 waktu setempat, secara serentak seluruh bumi melakukan Earth Hour, kegiatan tahunan memadamkan listrik selama 60 menit. Untuk “perayaan” ini, banyak kegiatan di pusat kota yang mendukung kegiatan pemadaman ini. Ada yang berpendapat Earth Hour tidak ada gunanya, kalau perilaku orang tidak ikut berubah karenanya. Ada yang berpendapat Earth Hour hanya sebagai ajang popularitas pihak korporasi tertentu untuk menunjukkan kesan kepedulian. Ada yang berpendapat kegiatan Earth Hour yang harus dilaksanakan sebagai perayaan, lengkap dengan konser musik dan hiburan pendukung.

Bagi saya pribadi, Earth Hour sebenarnya hanya sebagai pengingat diri kalau kita harus lebih banyak berhemat. Hemat menggunakan listrik, hemat dalam menggunakan bahan bakar fosil.  Hemat yang sebetulnya bisa menguntungkan diri sendiri dari sisi ekonomis. Nggak usah jauh-jauh memikirkan bumi deh. Dengan kita hidup lebih hemat dalam menggunakan listrik dan lebih banyak menggunakan kendaraan umum, bumi ikut tertolong dengan sendirinya kok. Saya sudah sebulan lebih ini menghindari menggunakan kendaraan pribadi kalau berkendaraan sendirian. Selain mengurangi stres diri karena kemacetan, juga dalam jangka panjang menghemat ongkos bensin pertamax dan pemeliharaan kendaran.

Malam Earth Hour ini saya datang untuk kedua kalinya di kegiatan yang diselenggarakan Coca-Cola. Beberapa teman sempat saya foto di kegelapan malam selama 60 menit ini. Dari kiri ke kanan: @leonisecret, @natalixia, dan @nanathnadia. Modalnya hanya cahaya lilin, ISO 1000, dan menahan nafas agar tidak bergeming saat menjepretkan rana.

Bulan

49 bulan

Tengah malam tanggal 20 maret 2011 katanya bulan akan menunjukkan penampakan terbesarnya di bumi. Fenomena ini hanya terjadi sekitar 18 tahun sekali. Di Jakarta katanya bisa dilihat sekitar jam 1-3 pagi (asal cuaca cerah). Kebetulan saya masih melek jam 2 pagi, dan memutuskan keluar rumah. Kebetulan bulan sedang tak tertutup awan. Memang kelihatan lebih besar sih, meski nggak sebesar yang saya bayangkan. Saya foto 2 kali. Satu kali dengan f 5.6, 1/50, ISO 400 (dengan kecepatan rendah supaya tekstur awan di sekitar bulan masih terlihat). Satu kali lagi dengan f 5.6, 1/500, ISO 400 (dengan kecepatan tinggi supaya tekstur bulannya lebih terlihat). Dua foto itu saya tumpuk dan edit digital. Hasilnya seperti di atas.

Selamat Malam

Selamat malam, kata-kata. Istirahatkanlah kalimatmu sejenak. Taruhlah sebuah koma. Kita lanjutkan sampai kalimatmu berakhir titik esok hari.

Selamat malam, hati. Tenangkan dirimu malam ini ya. Kita lanjutkan pencarian cintanya esok hari lagi. Mudah-mudahan esok kita lebih beruntung.

Selamat malam, pikiran. Kosongkan isimu malam ini. Isilah dengan mimpi indah, agar kamu terbangun segar esok pagi untuk menyerap ilmu baru.

Selamat malam gadis berkostum balerina. Jagakan mimpimu. Percayalah kalau dirimu bisa mencapai apapun yang kamu inginkan. Sekarang, beristirahatlah.

Selamat malam juga untukku. Selamat tidur dan istirahat.