Bermain Pokémon GO di Monas

Siapa belum main Pokémon GO? Memang belum resmi ada di appstore Indonesia sih, tapi sudah beredar apk android-nya di banyak website di luaran sana. Untungnya, tidak seperti negara Asia lainnya, di Indonesia, semua lokasi pokespot dan gym sudah aktif bisa dipakai. Jadi meski belum resmi hadir, semua orang di sini sudah bisa memainkannya.

Baru satu minggu lewat, sudah banyak penggunanya di Indonesia. Setiap gym sudah ada penguasanya, dan mereka sudah memiliki Pokémon dengan CP (Championship Points) yang tinggi-tinggi. Kalau datang ke mal besar yang memiliki banyak pokespot, selalu saja ada yang memasang lure module (modul untuk memancing Pokémon datang ke pokespot). Saya jadi menduga, jangan-jangan yang memasang si pengelola mal sendiri, untuk mendorong pengunjung datang meramaikan mal.

DSCF6654
Lihat foto-foto keramaian Pokémon GO lainnya

​Main-main ke Sindu Kusuma Edupark

Jogja memiliki wahana taman bermain baru sejak 2015. Namanya Sindu Kusuma Edupark (SKE). Lokasinya masih di tengah kota. Tepatnya di Jalan Jambon, Sinduadi, yang bisa diakses melalui Jalan Magelang. Cuma butuh 10 menit kalau kalian berangkat dari Tugu Jogja pakai mobil.

Eh tapi tunggu dulu. Jangan kalian berekspektasi kalau SKE ini selengkap Dufan Jakarta ya. Wahananya memang cukup banyak, tapi memang tidak sekomprehensif Dufan. Namun sudah sangat memadai untuk kebutuhan hiburan dan rekreasi bersama anak.

DSCF6207
Apa saja sih wahananya?

Taman di Bintaro Jaya Xchange

Hari Minggu siang kemarin saya memang meniatkan diri untuk pergi ke Bintaro Jaya Xchange Mall, untuk melihat/memotret event Japan Festival 2015. Ini pertama kalinya saya pergi ke sana. Saya mendengar info dari teman, kalau akses menuju mall ini mudah dicapai melalui Commuter Line. Daripada saya membuang tenaga menyetir mobil ke Sektor 7 Bintaro yang pastinya jauh, lebih baik saya coba naik Commuter Line.

Saya menggunakan kereta dari Tanah Abang menuju Serpong. Saya naik dari Palmerah, yang paling dekat dengan rumah saya. Stasiun terdekat Bintaro Jaya Xchange Mall adalah Jurang Mangu, yang hanya berbeda 3 stasiun dari Palmerah. Cukup 15 menit dari Palmerah. Cepat kan?

Keluar dari stasiun tinggal mengikuti jalur pejalan kaki yang sudah disediakan. Melewati jembatan kayu di atas sungai bening (untung nggak bau ya), lalu lanjut melewati jalur yang sudah dipasang paving. Tempat jalannya menyenangkan, meski saya kurang tahu apakah cukup terang dilewati saat malam ya. Tidak sampai 5 menit saya langsung berada di seberang mall tersebut. Wah, ini enak banget. Kalau ke sini beneran nggak perlu pusing nyetir mobil, karena berkereta jauh lebih nyaman.

IMG_0463
Jalur pejalan kaki dari stasiun Jurang Mangu

Sedikit lagi sampai di tujuan nih…

Bee dan Yohana

Hari Minggu kemarin saya bersama beberapa teman ikut meramaikan event hunting di Taman Langsat, untuk penggalangan dana bantuan untuk seorang rekan fotografer bernama Denta Ramdani Siregar. Saya baru pertama kalinya ikutan event hunting bertema seperti ini. Fotografer yang ikutan diminta untuk memberikan donasi minimal Rp. 100.000,00. Banyak model yang juga berdatangan. Mereka berpartisipasi menjadi model tanpa dibayar. Semua dana yang terkumpul akan langsung didonasikan ke yang bersangkutan. Dengar-dengar dari salah satu model, katanya berhasil terkumpul dana 40 juta rupiah.

Sepanjang hari Minggu itu, sejak jam 10:00 hingga sore hari, banyak model dan fotografer yang datang dan pergi. Silakan datang dan lakukan aktivitas foto, tanpa ada batasan waktu dan sesi. Sepanjang yang difoto masih kuat, dan yang memotret juga masih kuat, silakan saja lanjut terus. Saya sendiri hanya memotret hingga jam 13:00. Saat saya pulang, masih terlihat banyak sekali fotografer dan model tersebar di beragam penjuru Taman Langsat.

Meski banyak model yang bisa dipilih, tidak banyak yang kena di hati saya untuk memotretnya. Namanya motret suka-suka kan tetap dong pakai hati. Kalau nggak sreg, nanti motretnya jadi nggak niat. Hahaha..

IMG_7836

IMG_7849

IMG_7884

Akhirnya saya menemukan satu model yang saya sangat suka karakteristik wajahnya. Ia menyebut namanya Bee. Lumayan banyak shot saya habiskan untuk memotret Bee. Anaknya juga asyik. Senyum dengan gigi yang terlihat sedikit itulah yang bikin saya (dan juga banyak fotografer lain) tertarik untuk memotretnya. Nama lengkapnya Beckha Widya. Ia baru kembali lagi di dunia model setelah vakum 2 tahun.

Usai cukup banyak memotret Bee, saya kembali berkeliling. Hingga akhirnya saya melihat beberapa fotografer melakukan pemotretan di salah satu jembatan kecil di taman. Nama modelnya Yohana Kristiani. Senyum tipis dan tubuhnya yang langsing memang menarik perhatian. Apalagi ia sempat mengenakan kacamata saat pemotretan. Siapa sih yang nggak luluh lihat perempuan manis berkacamata?

IMG_8017

IMG_7992

IMG_8029

Saya menggunakan lensa manual Helios untuk sebagian besar shot pemotretan. Hitung-hitung buat nambah jam terbang penggunaan. Repotnya kamera Canon adalah sulit melihat ketajaman fokus melalui viewfinder. Orang-orang sih menyarankan untuk melihatnya melalui live view dan di-zoom 10x. Kalau untuk motret landscape yang diam saja sih nggak masalah pakai cara itu, tapi kalau untuk motret subjek yang bergerak kan repot kalau harus pakai live view. Akhirnya saya mengandalkan mata saja. Hahaha alhasil ya begitu deh, ada banyak yang tidak fokus. Paling sulit itu mengukur fokus bila subjek berada lebih dari 2 meter, karena nggak terlalu jelas di viewfinder.

Untuk seluruh foto Bee bisa dicek di album Flickr ini, dan untuk seluruh foto Yohana juga bisa dicek di album Flickr ini.

Kehidupan Kota Chengdu

Chengdu (dibaca Chengtu) adalah salah satu kota terbesar di China yang sudah pernah saya datangi setelah tahun lalu mampir ke Shenzhen. Chengdu memiliki bandar udara internasional yang menjadi gerbang turis domestik dan internasional ke daerah China utara.

Secara sepintas sih pengaturan kota Chengdu tak berbeda dengan Shenzhen. Pengalaman ruang saat saya berada di jalan tak berbeda antara Chengdu dan Shenzhen. Berlawanan dengan Indonesia, di China menyetir di sisi kanan jalan. Jalan rayanya lebar-lebar, bisa sampai tiga lajur. Jalur paling kanan selalu dipakai oleh bus umum. Masih ada pula jalur lambat untuk sepeda dan motor. Lalu masih ada lagi trotoar yang lebar dan nyaman. Kalau sepintas sih, ruang yang tercipta oleh jalan ini, di antara bangunan yang berseberangan, bisa mencapai 25-40 meter.

Kualitas bus umum yang saya lihat di Chengdu tak beda dengan Senzhen. Sama bagusnya. Nomor bus ditampilkan dalam LED, terlihat jelas di depan dan belakang bus. Jumlahnya lumayan banyak, karena saya sangat jarang melihat bus terlihat penuh. Bisa juga karena ada MRT yang menghubungkan setiap daerah di kota, sehingga orang tetap nyaman saat menggunakan transportasi umum bus atau MRT.

Kalau punya kelebihan uang, bisa pakai taksi yang juga sangat banyak. Semua taksi di Chengdu berwarna hijau. Ada argo yang dimulai dari ¥ 8 dan ada juga yang ¥ 9 (¥ 1 kurang lebih sekitar Rp.1.550,00). Kelipatan naiknya per ¥ 1. Memang lebih mahal daripada Jakarta. Wajar sih, karena harga bensin di sana pun lebih mahal daripada Jakarta. Yang termurah sekitar ¥ 9 per liter. Kalau melihat harganya, sepertinya bensin tidak mendapat subsidi dari pemerintah.

Mobil sebagai kendaraan pribadi terlihat banyak pula di Chengdu. Saya sempat merasakan macet saat berangkat dari pusat kota menuju bandara. Namun tentu skala macetnya di kota ini nggak bikin saya stres melihatnya, berbeda kalau saya terjebak di kemacetan Jakarta.

Alternatif kendaaan lain yang banyak digunakan adalah sepeda dan motor. Motor yang digunakan di pusat kota di China berbeda dengan yang biasa saya lihat di Jakarta. Bentuknya mungkin nggak beda dengan skuter matik yang sering ditemui di Jakarta. Yang berbeda adalah mesinnya. Motor-motor ini menggunakan batere, bukan bensin, yang harus diisi ulang setiap malam. Karena batere, maka motor-motor ini tidak bisa dipakai untuk jarak yang jauh. Penggunaan motor batere ini juga bisa ikut mengurangi polusi di China.

Sayangnya kelakuan pengemudinya nggak beda jauh dengan di Jakarta. Beberapa kali saya lihat motor yang naik ke trotoar, lalu ke jembatan penyeberangan, atau bergerak berlawanan arah. Yang saya bingung, sepertinya motor ini lebih diperlakukan sebagai sepeda daripada kendaraan bermotor. Jadi saat mereka naik trotoar, atau ikut menyeberang di zebra cross, atau nggak pakai helm, seperti sudah menjadi hal yang lumrah.

Saya sempat merasakan jalan-jalan di trotoar tengah kota. Yang bikin suka kaget di sini adalah suka tiba-tibanya motor muncul melewati saya di trotoar. Karena menggunakan batere, motor-motor ini tidak terdengar bunyi mesinnya. Mendadak lewat menyelonong saja.

Menyeberang jalan di zebra cross yang sudah memberi kita lampu hijau, tidak berarti kita aman saat menyeberang. Saya tetap harus melihat ke kiri dan ke kanan, karena suka tiba-tiba muncul motor yang berbelok dari arah tujuan lain, melewati zebra cross. Kalau nggak terbiasa mungkin akan cepat stress. Namun tetap sih nggak akan bisa membuat saya stress seperti yang saya alami setiap hari di Jakarta.

Kalau untuk urusan trotoar sih, Chengdu nggak kalah dengan kota lainnya. Lebar, nyaman, enak dipakai berjalan sambil membawa benda beroda seperti koper atau troli. Taman juga mudah ditemukan, dengan banyak tempat duduk, tempat bermain anak, dan tempat sosialisasi warga. Taman di sudut blok yang saya lewati bahkan menyediakan dua meja tenis, dengan warga yang asyik bergantian bermain.

Trotoar ini sebenarnya tak hanya ditemukan di kota besar. Kota-kota kecil yang sempat saya lewati di China utara juga punya trotoar yang nyaman. Taman kecil dengan tempat duduk juga mudah ditemukan di kota kecil. Warga memanfaatkan taman dan trotoar sebagai tempat berinteraksi. Bahkan saya melihat beberapa meja makan sengaja ada yang ditaruh di trotoar, untuk mereka makan bersama-sama.

Chengdu memang kota modern yang didesain benar untuk kebutuhan warganya. Sungguh iri rasanya punya kota dengan desain seperti ini. Jakarta memang sudah terlalu parah dan salah sejak awal. Kadang saya suka berpikir, mending Jakarta dihancurkan, dan buat kota baru di tempat lain saja dengan desain perencanaan yang jauh lebih benar. Siapa tahu malah dengan cara itu, kehidupan warganya bisa jadi jauh lebih manusiawi. Siapa tahu loh…

(Untuk melihat koleksi foto perjalanan ke China, silakan cek galeri 500px).