Kehidupan Kota Chengdu

Chengdu (dibaca Chengtu) adalah salah satu kota terbesar di China yang sudah pernah saya datangi setelah tahun lalu mampir ke Shenzhen. Chengdu memiliki bandar udara internasional yang menjadi gerbang turis domestik dan internasional ke daerah China utara.

Secara sepintas sih pengaturan kota Chengdu tak berbeda dengan Shenzhen. Pengalaman ruang saat saya berada di jalan tak berbeda antara Chengdu dan Shenzhen. Berlawanan dengan Indonesia, di China menyetir di sisi kanan jalan. Jalan rayanya lebar-lebar, bisa sampai tiga lajur. Jalur paling kanan selalu dipakai oleh bus umum. Masih ada pula jalur lambat untuk sepeda dan motor. Lalu masih ada lagi trotoar yang lebar dan nyaman. Kalau sepintas sih, ruang yang tercipta oleh jalan ini, di antara bangunan yang berseberangan, bisa mencapai 25-40 meter.

Kualitas bus umum yang saya lihat di Chengdu tak beda dengan Senzhen. Sama bagusnya. Nomor bus ditampilkan dalam LED, terlihat jelas di depan dan belakang bus. Jumlahnya lumayan banyak, karena saya sangat jarang melihat bus terlihat penuh. Bisa juga karena ada MRT yang menghubungkan setiap daerah di kota, sehingga orang tetap nyaman saat menggunakan transportasi umum bus atau MRT.

Kalau punya kelebihan uang, bisa pakai taksi yang juga sangat banyak. Semua taksi di Chengdu berwarna hijau. Ada argo yang dimulai dari ¥ 8 dan ada juga yang ¥ 9 (¥ 1 kurang lebih sekitar Rp.1.550,00). Kelipatan naiknya per ¥ 1. Memang lebih mahal daripada Jakarta. Wajar sih, karena harga bensin di sana pun lebih mahal daripada Jakarta. Yang termurah sekitar ¥ 9 per liter. Kalau melihat harganya, sepertinya bensin tidak mendapat subsidi dari pemerintah.

Mobil sebagai kendaraan pribadi terlihat banyak pula di Chengdu. Saya sempat merasakan macet saat berangkat dari pusat kota menuju bandara. Namun tentu skala macetnya di kota ini nggak bikin saya stres melihatnya, berbeda kalau saya terjebak di kemacetan Jakarta.

Alternatif kendaaan lain yang banyak digunakan adalah sepeda dan motor. Motor yang digunakan di pusat kota di China berbeda dengan yang biasa saya lihat di Jakarta. Bentuknya mungkin nggak beda dengan skuter matik yang sering ditemui di Jakarta. Yang berbeda adalah mesinnya. Motor-motor ini menggunakan batere, bukan bensin, yang harus diisi ulang setiap malam. Karena batere, maka motor-motor ini tidak bisa dipakai untuk jarak yang jauh. Penggunaan motor batere ini juga bisa ikut mengurangi polusi di China.

Sayangnya kelakuan pengemudinya nggak beda jauh dengan di Jakarta. Beberapa kali saya lihat motor yang naik ke trotoar, lalu ke jembatan penyeberangan, atau bergerak berlawanan arah. Yang saya bingung, sepertinya motor ini lebih diperlakukan sebagai sepeda daripada kendaraan bermotor. Jadi saat mereka naik trotoar, atau ikut menyeberang di zebra cross, atau nggak pakai helm, seperti sudah menjadi hal yang lumrah.

Saya sempat merasakan jalan-jalan di trotoar tengah kota. Yang bikin suka kaget di sini adalah suka tiba-tibanya motor muncul melewati saya di trotoar. Karena menggunakan batere, motor-motor ini tidak terdengar bunyi mesinnya. Mendadak lewat menyelonong saja.

Menyeberang jalan di zebra cross yang sudah memberi kita lampu hijau, tidak berarti kita aman saat menyeberang. Saya tetap harus melihat ke kiri dan ke kanan, karena suka tiba-tiba muncul motor yang berbelok dari arah tujuan lain, melewati zebra cross. Kalau nggak terbiasa mungkin akan cepat stress. Namun tetap sih nggak akan bisa membuat saya stress seperti yang saya alami setiap hari di Jakarta.

Kalau untuk urusan trotoar sih, Chengdu nggak kalah dengan kota lainnya. Lebar, nyaman, enak dipakai berjalan sambil membawa benda beroda seperti koper atau troli. Taman juga mudah ditemukan, dengan banyak tempat duduk, tempat bermain anak, dan tempat sosialisasi warga. Taman di sudut blok yang saya lewati bahkan menyediakan dua meja tenis, dengan warga yang asyik bergantian bermain.

Trotoar ini sebenarnya tak hanya ditemukan di kota besar. Kota-kota kecil yang sempat saya lewati di China utara juga punya trotoar yang nyaman. Taman kecil dengan tempat duduk juga mudah ditemukan di kota kecil. Warga memanfaatkan taman dan trotoar sebagai tempat berinteraksi. Bahkan saya melihat beberapa meja makan sengaja ada yang ditaruh di trotoar, untuk mereka makan bersama-sama.

Chengdu memang kota modern yang didesain benar untuk kebutuhan warganya. Sungguh iri rasanya punya kota dengan desain seperti ini. Jakarta memang sudah terlalu parah dan salah sejak awal. Kadang saya suka berpikir, mending Jakarta dihancurkan, dan buat kota baru di tempat lain saja dengan desain perencanaan yang jauh lebih benar. Siapa tahu malah dengan cara itu, kehidupan warganya bisa jadi jauh lebih manusiawi. Siapa tahu loh…

(Untuk melihat koleksi foto perjalanan ke China, silakan cek galeri 500px).

5 Tempat Paling Menyenangkan di Jakarta

Saya tinggal di Jakarta sudah sejak lahir (mungkin dikurangi sekitar 10 tahun saat saya kuliah di Bandung). Kalau dibilang Jakarta kota yang menyenangkan sih nggak juga. Waktu saya masih kecil sih memang masih bisa dibilang menyenangkan. Nggak ada macet, udara masih enak, kalau ke luar rumah, masih bisa melihat langit Jakarta yang biru. Namun itu kan masa lalu. Sekarang, mau nggak mau saya harus mencoba menyukai kota ini, walau sebenarnya kota ini sudah nggak ramah lagi bagi warganya. Lagi pula, pendapatan saya sepenuhnya didapat dari kota ini. Keluarga saya pun juga di sini. Seharusnya itu menjadi alasan utama bagi saya untuk tetap menyenangi Jakarta.

Terkait dengan hal tersebut, sebagai bagian dari flashmob blogging #SemingguSatu, topik yang diangkat minggu ini adalah adakah tempat-tempat menyenangkan bagi saya di kota saya ini? Cuma diminta 5 tempat saja sih, tapi jujur saya susah banget mikirnya. Namun ini dia, 5 tempat, tanpa urutan prioritas mana yang paling menyenangkan dan mana yang tidak:

1. Pacific Place

Saat ini buat saya, tempat ini jadi semacam sentra bisnis. Paling sering ketemuan rapat ya di situ. Apalagi memang klien saya berkantor di gedung perkantoran di sebelahnya. Tempat ini paling ngelotok deh. Dari kafe ke kafe, dari restoran ke restoran, dari food court hingga kantin karyawan, kayaknya sudah hampir pernah dicoba semua. Lokasinya di tengah kota, kalau saya pulang, saya nggak perlu pusing juga. Tinggal jalan kaki ke Sudirman, naik bus yang menuju Poris Plawad atau pakai Kopaja AC. Atau pilihan lain, saya berjalan kaki menyusuri tepian Semanggi hingga Gatot Subroto, lalu naik bus ke arah Grogol dari sana.

2. Taman-taman kota

Jakarta memang nggak punya banyak taman kota, tapi bukan berarti nggak punya taman kota yang bagus. Biasanya tiap akhir minggu selalu ramai dengan warga yang entah datang dari mana saja. Saya sendiri tidak punya taman kota favorit. Namun saya suka mampir, apalagi sebulan sekali selalu ada kegiatan @piknikasik yang berpiknik di banyak taman kota secara bergantian, saya mencoba untuk selalu datang. Selain Taman Ayodya dan Taman Menteng yang memang populer, masih banyak taman-taman lain. Kalau yang sudah sempat saya datangi dan ulas, bisa cek Taman CattleyaTaman Honda TebetTaman Situ Lembang, dan yang berada di dalam mal, Central Park.

3. Kolam renang Simpruk

Saya suka berenang. Saya coba seminggu sekali untuk selalu mampir di kolam renang Simpruk. Kenapa di sini? Sejak kecil saya sudah berenang di sini. Pernah ikut pelatihan renang untuk kompetisi juga di sini. Bayar masuknya murah. Kolamnya pun bisa dibilang cukup bersih. Saya nggak terlalu suka berenang di hotel atau di tempat fitness atau semacamnya, karena nggak “nendang” akibat ukuran kolam renangnya biasanya kecil. Di Simpruk ini memang kolam renangnya berukuran olimpik, dan sering juga dipakai untuk kompetisi renang nasional. Makanya kalau saya mau berenang 800 – 1.000 meter setiap minggunya, enak banget.

4. JKT48 Theater

Sayangnya JKT48 Theater ini bisa dibilang belum permanen, namun bisa dipastikan sebulan sekali ada 3-4 kali pertunjukan grup idol JKT48. Menghibur banget, seketika bisa hilang semua beban pikiran selama menyaksikannya. Sayangnya memang agak sulit mendapatkan tiketnya setiap bulan. Butuh keberuntungan, atau kalau dalam kasus saya, butuh teman orang agency dan sponsor untuk bisa ikutan nonton di dalamnya. Tentang JKT48 Theater ini sudah pernah saya bahas di tulisan ini.

5. Bioskop

Bioskop yang manapun sebetulnya tidak masalah. Mau nonton dengan siapapun juga tidak masalah. Kalau bareng teman ramai-ramai mungkin menyenangkan kalau bisa menontonnya di FX atau Grand Indonesia. Kalau sendirian, saya lebih suka menontonnya di Hollywood KC, pada hari kerja, karena murah meriah. Biasanya saya lakukan kalau memang lagi nggak ada pekerjaan, tapi belum ingin pulang ke rumah.

Tulisan dari teman-teman blogger lainnya: SuprieAlya, dan Karmin,

JKT485

Sudah berapa lama kamu hidup di Jakarta? Kalau saya memang sejak lahir di kota ini. Mencoba mengingat masa-masa kecil dulu, saat saya kemana-mana dianter ibu saya pakai bus PPD. Yang terberkas saat itu adalah ketika saya duduk di dalam bus menuju Blok M. Saya masih begitu kecilnya sehingga saat mau lihat ke luar jendela, harus berdiri di tempat duduk. Saat saya memegang kaca jendela, Ibu saya langsung menegur, kalau kaca itu kotor, dan saya nanti harus cuci tangan.

Seiring waktu, kehidupan ekonomi keluarga saya di Jakarta semakin membaik. Bapak dan Ibu sudah entah berulang kali mengganti mobil. Rumah yang dulu satu lantai kini sudah bertingkat. Rasanya saat itu semakin jarang saya menggunakan angkutan umum. Bahkan saat sekolah SD dan SMP pun ada jemputan sekolah. Saat SMA, karena sekolah saya searah dengan kantor Ibu saya, saya bisa ikutan nebeng. Saat itu hal yang wajar menempuh perjalanan dari Tomang ke Menteng dalam 20 menit dengan mobil. Jangan tanya kalau sekarang ya. Saat pulang, banyak teman SMA saya yang bermobil (saya sih belum bisa nyetir), sehingga saya bisa nebeng pulang.

Hebatnya Kopaja

Bisa dibilang jarang juga saya menggunakan kendaraan umum saat itu. Apalagi tawuran pelajar sedang marak-maraknya. Pernah lagi menunggu bus tak jauh dari Tugu Tani, saya melihat gerombolan seragam putih abu-abu yang kejar-kejaran sambil timpuk-timpukan batu. Yang saya lakukan saat itu paling ngumpet, atau kembali ke lingkungan sekolah, mencari aman. Pernah juga sekalinya saat saya berada di dalam bus, lampu di dalam bus tiba-tiba dimatikan. Ternyata bus melewati rombongan anak SMA yang sedang tawuran. Mungkin untuk menjaga supaya anak-anak SMA itu tidak melirik isi bus, lampu di dalamnya dimatikan. Saya saat itu cuma bisa bernafas lega.

Saya sempat meninggalkan Jakarta selama 10 tahun, ke Bandung, untuk kuliah. Saya membangun bisnis awal saya di Bandung, meski Jakarta tetap menjadi tujuan utama jualan. Saya yang sering bolak-balik Jakarta – Bandung. Belum ada tol Cipularang saat itu, sehingga keahlian menyetir saya terlatih karena sering menyetir Jakarta – Bandung non tol, baik malam maupun siang hari. Akhirnya saya kembali juga 100% menjadi anak Jakarta. Kantor yang di Bandung dipindahkan semua ke Jakarta, demi mengurangi ongkos. Jakarta tetap menjadi magnet karena duit besar ya adanya di kota ini.

Pengamen Bertalenta

Hingga tahun 2011 kemarin saya masih sering mengemudikan mobil kemana-mana di Jakarta. Seperti warga Jakarta lainnya, saat terkena macet saya cuma bisa memaki-maki saja dalam hati. Ikutan stres, tanpa bisa berbuat apa-apa. Sampai akhirnya saya sadar, menyetir mobil di Jakarta bukan lagi solusi, tapi sudah menjadi beban tersendiri. Kalau mobil mogok karena suhu tinggi akibat macet, saya stres. Kalau pas menyetir hujan turun deras dan bikin genangan, saya juga stres. Apalagi kombinasi Jumat malam dan hujan di Jakarta, kadar stres semakin meningkat. Setiap kali saya terkena kondisi seperti itu, rasanya saya ingin keluar dari mobil dan meninggalkannya. Namun itu nggak mungkin kan?

Kini saya kembali ke masa kecil saya dulu. Kemana-mana sebisa mungkin menggunakan bus, kopaja, metro mini, Trans Jakarta, dan kadang taksi atau ojek. Yang belum kesempatan hingga saat ini adalah mencoba commuter line (karena memang belum ada kebutuhan). Saat saya kemana-mana menyandang diri saya sendiri, tanpa harus membawa mobil, beban saya terasa semakin ringan. Saya bisa melakukan hal yang nggak bisa saya lakukan saat menyetir, seperti semakin beraktif ria di social media. Bahkan saya pernah menulis draft blog sembari bergantungan di dalam bus Trans Jakarta.

Metro Mini 75

Tapi sebentar, siapa bilang menggunakan angkutan umum di Jakarta nggak stres? Kalau pakai bus Trans Jakarta yang bikin kesal adalah desak-desakannya saat jam pulang. Antrinya juga lama. Malesin deh pokoknya. Alternatifnya saya kembali ke bus umum. Kalau beruntung yang lewat pas bus AC sih mendingan. Kalau nggak, ya sudahlah terima apa adanya. Percaya nggak, naik bus umum tanpa AC sore hari pas jam pulang itu lebih nyaman dan nggak keringetan daripada maksain diri umpel-umpelan di dalam bus Trans Jakarta?

Ngantuk, Mas?

Memang sih, ada rasa ketidakamanan megintai setiap kali naik bus umum. Makanya, saya selalu memindahkan tas ke depan, dompet ke saku depan, hape ke saku depan (penuh deh pokoknya saku depan). Selalu waspada, jangan sampai ketiduran (haha saya pernah sih beberapa kali ketiduran, untungnya iPhone nggak lenyap dari tangan saya :)). Terkadang naik bus umum, saya malah bisa banyak dapat pengalaman menarik. Melihat beragam pengamen dari yang bernada malas atau mengancam, hingga mereka yang beneran punya talenta musik namun terbatas dalam hal kesempatan.

Karena saya juga suka motret, saya suka mendokumentasikan (dengan berhati-hati tentunya) pengalaman menarik saya di dalam bus. Nggak semua berhasil saya potret, karena saya pun harus melihat kondisi lingkungan sekitar. Kalau saya merasa tidak nyaman, maka lebih baik saya tidak mengeluarkan ponsel atau kamera sama sekali. Coba deh mampir ke Instagram lalu buka tagar #lifeinabus. Itu semuanya jepretan visual saya di dalam bus Trans Jakarta, bus umum, kopaja, hingga lingkungan di sekitarnya.

Halte Bus Pancoran

Apakah saya nggak takut diancam/dijambret/ditodong di dalam kendaraan umum? Kalau ditanya begitu, siapa sih yang ingin hal itu terjadi pada dirinya? Saya juga nggak ingin. Namun bukan berarti tidak bisa diantisipasi. Kalau saya sih yang penting selalu waspada dan nggak lengah sedikitpun. Lalu pilihlah angkutan umum yang relatif kosong. Yang paling penting, tunjukkan kalau diri kamu selalu siap dan tahu apa yang harus dilakukan. Jangan terlihat sebagai orang yang kebingungan, karena hal ini akan membuatmu mudah dijadikan target. Oh ya jangan lupa berdoa ya 🙂

Mbak-mbak Imut

Sekarang Jakarta sudah memasuki usia ke-485. Saya sih nggak melihatnya sebagai kota yang semakin membaik ya. Namun buat saya pribadi, Jakarta sudah jadi bagian dari hidup saya, sumber penghasilan saya, tempat tinggal saya, dan tempat main saya. Sebagai warga Jakarta yang ingin agar kota ini menjadi lebih baik dan manusiawi, saya hanya bisa melakukannya sebatas kapasitas saya pribadi. Salah satunya adalah dengan kembali menggunakan angkutan umum dan berjalan kaki kemana-mana. Saya tidak mau melihat segala ancaman dan ketidaknyaman saya dalam berangkutan umum dan berjalan kaki sebagai hambatan. Semua juga tahu trotoar Jakarta nggak nyaman. Ya sudahlah ya. Kalau menunggu itu semua diperbaiki, Jakarta terlanjur terbenam oleh lautan motor dan mobil.

Saya cuma bisa berandai-andai, seandainya saja nih jutaan kelas menengah Jakarta pindah semua ke angkutan umum, apakah aksi ini bisa menstimulus Pemkot untuk semakin serius memperbaiki angkutan umum dan trotoar? Saya sudah memulainya sejak akhir 2011 kemarin. Apakah kamu mau ikutan juga?

Jalan Kaki Malam Hari ke Taman Bungkul

Hari Sabtu minggu lalu saya kebetulan lagi berada di Surabaya. Saat itu memang sedang ada event Hemaviton Jawara Jempol di Maspion Square, yang aplikasi interaktifnya dikerjakan oleh kantor saya. Saya bukan mau cerita soal itu sih. Saya mau berbagi cerita usai event.

Usai acara, saya sempat kopdaran dulu dengan seorang warga Surabaya yang cantik di Jatim Expo yang berlokasi tak jauh dari Maspion Square. Bagian ini nggak usah diceritain lah ya. Bagian setelahnya aja (lah elo mau cerita apa sih Pit?).

Naaah, ini yang mau saya ceritain. Kalau kata saya sih, nggak akan kenal dengan sebuah kota kalau kita belum ngerasain menjelajah jalan kaki di dalamnya. Kali ini saya meniatkan diri, sekitar jam 9 malam, dari Jatim Expo saya berjalan kaki hingga Taman Bungkul. Kalau di Google Maps sih katanya hampir 3 kilometer. Ok, nggak jauh sih. Lagian kan kota Surabaya katanya cukup terkenal dengan trotoarnya yang lebar dan nyaman. Mari kalau begitu kita coba.

Saya pun menyusuri Jalan Ahmad Yani yang sangat ramai. Sisi trotoar yang nyaman cuma ada di satu sisi jalan, sementara saya ada di sisi seberangnya. Di sisi seberang ini, nggak ada sama sekali trotoar. Saya melewati tanah basah, yang nggak enak banget lah buat jalan. Akhirnya saya memutuskan untuk menyeberang saja. Huh, ternyata itu pun bukan langkah yang baik, karena kendaraan bermotor bergerak sangat cepat di Ahmad Yani, padahal saya menyeberang di zebra cross loh. Hihi ya agak gila sih, saya akhirnya menyeberang sambil berharap mobil yang lewat ngerem aja sih (mohon ini tidak dicontoh ya teman-teman).

Trotoar nyaman yang berada di depan kompleks Angkatan Laut ini (nggak tau isinya kompleks apa) memang enak dipakai jalan. Pejalan kaki juga nggak perlu naik turun trotoar, malah sebaliknya jalan kendaraan bermotor yang menyesuaikan dengan ketinggian trotoar saat terjadi persimpangan. Cuma ya nggak beda dengan Jakarta, suka ada pedagang kaki lima dan motor parkir di atas trotoar.

Saya berjalan terus hingga menyeberang rel, melewati kolong jembatan layang, melewati pasar yang sudah gelap gulita, melewati jembatan dengan kali di bawahnya. Beberapa kali melewati jembatan penyeberangan, ingin memotret jalan raya dari atas, namun niat langsung urung setelah melihat gelapnya tangga untuk naik ke atas jembatan. Akhirnya saya pun sampai di daerah Darmo. Memasuki daerah ini, jalan terlihat lebih rapih dan teratur. Trotoar lebar terlihat di seluruh bagian jalan. Kalau kata orang Surabaya sih, memang trotoar ini akan terus terlihat hingga Tunjungan Plaza. Sayangnya, hal ini tidak berlaku sebaliknya, dari arah Darmo ke Ahmad Yani dan terus ke selatan.

Saya terus berjalan menyusuri jalan Darmo Raya sampai saya menemukan Taman Bungkul di kanan saya. Taman ini terlihat ramai, banyak sekali pengunjung yang bersantai dan melepas lelah. Mungkin karena taman ini dibangun dengan bantuan dana Telkom, makanya banyak sekali ornamen logo Telkom menghiasi taman ini, dari bangku dan hiasan taman. Taman ini pun terlihat terang, dengan lampu yang menyala di seluruh bagian taman. Ada area khusus untuk permainan anak-anak dan ada pula area untuk bermain skateboard.

Taman Bungkul juga dilengkapi dengan pusat jajanan yang berada di sisi timurnya, berhadapan langsung dengan Rumah Sakit Umum Soemitro. Di sini ada Rawon Kalkulator yang katanya terkenal. Saat itu saya sudah terlalu kenyang, sehingga terpaksa melewatkan mencoba. Saya lalu terus berjalan ke arah belakang taman hingga sampai ke Darmo Kali. Hotel yang saya inapi memang di Darmo Kali. Melihat jam, ternyata saya berjalan kaki hampir 1 jam. Agak pelan sih, soalnya kan saya berjalan kaki sambil motret dan melihat-lihat.

Esok paginya usai sarapan, saya masih punya waktu sebelum berangkat menuju bandara untuk pulang ke Jakarta. Saya pun berjalan kaki kembali ke Taman Bungkul. Lokasi hotel ke Taman Bungkul sekitar 10 menit berjalan kaki. Jadi nggak jauh.

Saya sempat nongkrong lama di sana, melihat aktivitas pagi hari di taman. Belum banyak orang yang duduk-duduk di sana. Beberapa petugas terlihat membersihkan taman dan mencuci tegel-tegel taman. Saya berjalan ke arah utara, tempat bermain anak. Ternyata di hari Minggu ini, sudah cukup banyak anak-anak (bersama orang tua mereka) yang bermain ayunan di sana. Seorang bapak terlihat pula menyalakan notebook di sana. Ternyata Taman Bungkul pun menyediakan akses wifi gratis bebas pakai. Saya pun ikut mencoba, meski ternyata aksesnya tak secepat yang diharapkan.

Kali ini saya menyempatkan mampir mencoba Rawon Kalkulator yang berada di pusat jajanan di belakang Taman Bungkul. Meski sudah agak kenyang dengan sarapan, tapi sayang rasanya kalau nggak sempat mencoba. Rasanya lumayan sih, meski dibilang enak banget juga nggak. Namun khas Surabaya, dengan warna hitam pekatnya. Jangan tanya kenapa ada embel-embel kalkulator di nama rawonnya. Soalnya saya aduk-aduk isi rawonnya, saya nggak menemukan kalkulator di dalamnya (ya kali aja ada).

Asyik juga sih ada taman seperti ini di tengah kota Surabaya. Taman yang hidup dengan aktivitas penggunanya, bukan sekedar area hijau miskin nyawa dan jiwa. Semoga saja pemkot Surabaya memperluas dan memperbanyak taman-taman seperti ini di seluruh kotanya. Oh ya, kalau bisa sih program trotoarnya diperluas lagi hingga selatan kota. Jadi setidaknya orang bisa nyaman melewati jalan protokol Surabaya dengan berjalan kaki.

Piknik Asik di Taman Situ Lembang

Seminggu ini saya ke taman dua kali. Kalau Sabtu kemarin saya ke Taman Cattleya di Tomang, maka hari Minggu ini saya ikutan lagi acaranya Piknik Asik, yang kali ini diadakan di Taman Situ Lembang.

Saya sudah beberapa kali melewati Taman Situ Lembang sebelumnya. Setiap kali lewat yang terlihat adalah taman dengan danau di tengahnya. Hijau tapi biasalah seperti taman umumnya di Jakarta, miskin perawatan. Namun kini pandangan saya berubah sama sekali. Taman Situ Lembang, yang berlokasi tak jauh dari Taman Senopati Suropati ini kali ini sudah direnovasi total.

Danau (situ) di jalan Lembang ini dikelilingi oleh paving yang landai. Orang bisa berjalan atau bersepeda berkeliling taman dengan nyaman. Yang menarik, banyak sekali tempat bermain untuk anak di sini. Dari ayunan, perosotan, hingga tempat anak kecil latihan memanjat. Di tepian tempat bermain ini terdapat batu-batu alam yang dipasang berdekatan. Biasanya ini dipakai untuk terapi kaki. Orang tinggal melepas alas kakinya dan berjalan di batu-batu ini.

Saat saya datang tadi pagi sekitar pukul 9, taman ini sudah ramai. Ramai tapi masih tetap nyaman. Di tengah danau, air mancur menyala kencang, menyibak bunga-bunga teratai yang tersebar di tengah danau. Di sekeliling danau banyak orang yang terlihat memancing. Saya sempat tanya ke bapak-bapak yang kelihatannya sudah sering berada di situ. Katanya ia bisa dapat ikan mujaer atau lohan di sana (entah ya ini bohong atau tidak).

Saat saya sudah berkumpul dengan teman-teman Piknik Asik, tiba-tiba air mancurnya berhenti. Tanya-tanya, termyata air mancur ini hanga menyala 3 kali dalam sehari, pagi jam 9, siang jam 12, dan sore jam 4. Memang benar, saat saya di sana hingga siang, air mancur pun kembali menyala jam 12 lewat.

Hiburan di Piknik Asik kali ini adalah cupcake dan tiramisu. Hahaha yang bawa makanan enak banyak. Saya sih cuma ikut ngehabisin saja. Selain itu ada pula teman-teman Levitasi Hore yang melakukan photowalk bertema levitasi. Untunglah hari ini cuaca sangat cerah, sehingga kegiatan Piknik Asik bisa berlangsung hingga lewat siang hari.

Saya sendiri harus pulang duluan tadi. Pasti saya akan datang ke Taman Situ Lembang lagi kapan-kapan. Tentunya dengan mengajak keponakan. Di mana lagi ada tempat anak bermain di ruang terbuka yang nyaman dan gratis? Mudah-mudahan saja sih taman yang keren ini tetap terurus dan terpelihara keindahannya. Supaya Jakarta beneran bisa punya banyak ruang hijau yang benar-benar hidup dan membuat nyaman warganya.