The Walk

See u bye bye Malang ??? #Novichibi #cherrybelleaudition2015 #vscocam ? by: @pitra

A photo posted by Novi Chibi (@noviherlina) on

She walks in beauty, like the night
Of cloudless climes and starry skies;
And all that’s best of dark and bright
Meet in her aspect and her eyes;
Thus mellowed to that tender light
Which heaven to gaudy day denies.

One shade the more, one ray the less,
Had half impaired the nameless grace
Which waves in every raven tress,
Or softly lightens o’er her face;
Where thoughts serenely sweet express,
How pure, how dear their dwelling-place.

And on that cheek, and o’er that brow,
So soft, so calm, yet eloquent,
The smiles that win, the tints that glow,
But tell of days in goodness spent,
A mind at peace with all below,
A heart whose love is innocent!

Lorn Byron, 1814 (from Hebrew Melodies, 1815)

Jambi: Menara Gentala Arasy

DSCF3136

Menara Gentala Arasy ini berada di ujung jembatan yang saya ceritakan di 2 tulisan sebelumnya. Saat saya mampir ke sana, kelihatan interiornya masih dibenahi. Katanya sih nanti akan dipakai sebagai museum. Hehehe awalnya saya kira ini mesjid dari kejauhan.

Ujung jembatan pejalan kaki itu langsung menempel di area dak di lantai dua menara ini. Di dak ini, saya bisa melihat rumah-rumah warga Jambi yang berada di sekitar, di daerah Seberang. Terlihat berbeda banget dengan suasana pusat kota Jambi yang terpisah dengan Sungai Batanghari ini.

DSCF3137

Di Seberang memang masih dipertahankan keaslian daerah Jambi. Rumah-rumahnya masih berupa panggung. Tidak ada pertokan besar seperti Alfamart atau restoran mewah di sini. Yang ada hanya warung biasa. Budaya di daerah Seberang pun masih dipertahankan seperti aslinya. Saat sore masih terlihat warga yang bergerak berkumpul untuk mengaji bersama. Masih pula ada kegiatan masak dan makan bersama-sama. Sesuatu yang bahkan sudah tak terlihat lagi di pusat kota Jambi.

Katanya, malah ada beberapa warga yang memutuskan untuk tetap tinggal di Seberang, demi tidak kehilangan akar budayanya, walau setiap hari mereka harus bekerja di pusat kota Jambi. Bahasa daerah yang digunakan di Jambi ternyata sangat beragam. Mereka yang tinggal di Seberang memiliki ciri khas bahasanya sendiri pula.

Di daerah Seberang, sekitar 1-1,5 kilometer (kurang tau persisnya berapa), dari Menara Gentala Arasy, terdapat Rumah Batu, yang merupakan salah satu cagar budaya Jambi. Kayak gimana sih Rumah Batu itu? Nanti ya di tulisan selanjutnya.

Koleksi seluruh foto perjalanan ke Jambi bisa dicek di galeri Flickr ini.

DSCF3145

Jambi: Jembatan Gentala Arasy

DSCF3060

Hari Jumat hingga Senin sore kemarin saya berkesempatan untuk datang ke Jambi. Saat itu memang diundang untuk jadi salah satu pembicara yang berbagi cerita dengan topik Social Media for Social Good. Usai acara, tentunya dipakai untuk jalan-jalan dong.

Saya dan teman-teman dari KOPHI dan US Embassy (yang jadi penyelenggara acara) diajak oleh teman-teman baru dari Sahabat Ilmu Jambi (yang jadi panitia lokal), untuk berkeliling kota Jambi. Salah satunya adalah mampir ke tepian Sungai Batanghari.

Saat itulah baru saya tahu, kalau di Jambi punya icon baru yang akan menjadi kebanggaan kotanya. Namanya jembatan Gentala Arasy yang menghubungkan 2 bagian kota Jambi yang terpisah oleh salah satu sungai terbesar di Indonesia ini. Yang lebih mengejutkan lagi adalah, jembatan ini hanya khusus untuk pejalan kaki.

DSCF3057

Salah satu ujung jembatan berada tepat di depan Rumah Dinas Gubernur Jambi, Jalan Sultan Thaha, Kecamatan Jambi Timur, dan ujung satunya berakhir di Menara Gentala Arasy di Seberang Kota Jambi, Kelurahan Arab Melayu, Kecamatan Pelayangan.

Saat saya datang kemarin, jembatan ini memang belum dibuka untuk umum. Katanya sih baru akan resmi dibuka nanti bulan Februari 2015. Karena jembatan belum dibuka, maka kami pun menyeberang menggunakan getek sewa. Cerita tentang penyeberangan ini nanti ya di postingan selanjutnya.

Koleksi seluruh foto perjalanan ke Jambi bisa dicek di galeri Flickr ini.

DSCF3090

Kehidupan Kota Chengdu

Chengdu (dibaca Chengtu) adalah salah satu kota terbesar di China yang sudah pernah saya datangi setelah tahun lalu mampir ke Shenzhen. Chengdu memiliki bandar udara internasional yang menjadi gerbang turis domestik dan internasional ke daerah China utara.

Secara sepintas sih pengaturan kota Chengdu tak berbeda dengan Shenzhen. Pengalaman ruang saat saya berada di jalan tak berbeda antara Chengdu dan Shenzhen. Berlawanan dengan Indonesia, di China menyetir di sisi kanan jalan. Jalan rayanya lebar-lebar, bisa sampai tiga lajur. Jalur paling kanan selalu dipakai oleh bus umum. Masih ada pula jalur lambat untuk sepeda dan motor. Lalu masih ada lagi trotoar yang lebar dan nyaman. Kalau sepintas sih, ruang yang tercipta oleh jalan ini, di antara bangunan yang berseberangan, bisa mencapai 25-40 meter.

Kualitas bus umum yang saya lihat di Chengdu tak beda dengan Senzhen. Sama bagusnya. Nomor bus ditampilkan dalam LED, terlihat jelas di depan dan belakang bus. Jumlahnya lumayan banyak, karena saya sangat jarang melihat bus terlihat penuh. Bisa juga karena ada MRT yang menghubungkan setiap daerah di kota, sehingga orang tetap nyaman saat menggunakan transportasi umum bus atau MRT.

Kalau punya kelebihan uang, bisa pakai taksi yang juga sangat banyak. Semua taksi di Chengdu berwarna hijau. Ada argo yang dimulai dari ¥ 8 dan ada juga yang ¥ 9 (¥ 1 kurang lebih sekitar Rp.1.550,00). Kelipatan naiknya per ¥ 1. Memang lebih mahal daripada Jakarta. Wajar sih, karena harga bensin di sana pun lebih mahal daripada Jakarta. Yang termurah sekitar ¥ 9 per liter. Kalau melihat harganya, sepertinya bensin tidak mendapat subsidi dari pemerintah.

Mobil sebagai kendaraan pribadi terlihat banyak pula di Chengdu. Saya sempat merasakan macet saat berangkat dari pusat kota menuju bandara. Namun tentu skala macetnya di kota ini nggak bikin saya stres melihatnya, berbeda kalau saya terjebak di kemacetan Jakarta.

Alternatif kendaaan lain yang banyak digunakan adalah sepeda dan motor. Motor yang digunakan di pusat kota di China berbeda dengan yang biasa saya lihat di Jakarta. Bentuknya mungkin nggak beda dengan skuter matik yang sering ditemui di Jakarta. Yang berbeda adalah mesinnya. Motor-motor ini menggunakan batere, bukan bensin, yang harus diisi ulang setiap malam. Karena batere, maka motor-motor ini tidak bisa dipakai untuk jarak yang jauh. Penggunaan motor batere ini juga bisa ikut mengurangi polusi di China.

Sayangnya kelakuan pengemudinya nggak beda jauh dengan di Jakarta. Beberapa kali saya lihat motor yang naik ke trotoar, lalu ke jembatan penyeberangan, atau bergerak berlawanan arah. Yang saya bingung, sepertinya motor ini lebih diperlakukan sebagai sepeda daripada kendaraan bermotor. Jadi saat mereka naik trotoar, atau ikut menyeberang di zebra cross, atau nggak pakai helm, seperti sudah menjadi hal yang lumrah.

Saya sempat merasakan jalan-jalan di trotoar tengah kota. Yang bikin suka kaget di sini adalah suka tiba-tibanya motor muncul melewati saya di trotoar. Karena menggunakan batere, motor-motor ini tidak terdengar bunyi mesinnya. Mendadak lewat menyelonong saja.

Menyeberang jalan di zebra cross yang sudah memberi kita lampu hijau, tidak berarti kita aman saat menyeberang. Saya tetap harus melihat ke kiri dan ke kanan, karena suka tiba-tiba muncul motor yang berbelok dari arah tujuan lain, melewati zebra cross. Kalau nggak terbiasa mungkin akan cepat stress. Namun tetap sih nggak akan bisa membuat saya stress seperti yang saya alami setiap hari di Jakarta.

Kalau untuk urusan trotoar sih, Chengdu nggak kalah dengan kota lainnya. Lebar, nyaman, enak dipakai berjalan sambil membawa benda beroda seperti koper atau troli. Taman juga mudah ditemukan, dengan banyak tempat duduk, tempat bermain anak, dan tempat sosialisasi warga. Taman di sudut blok yang saya lewati bahkan menyediakan dua meja tenis, dengan warga yang asyik bergantian bermain.

Trotoar ini sebenarnya tak hanya ditemukan di kota besar. Kota-kota kecil yang sempat saya lewati di China utara juga punya trotoar yang nyaman. Taman kecil dengan tempat duduk juga mudah ditemukan di kota kecil. Warga memanfaatkan taman dan trotoar sebagai tempat berinteraksi. Bahkan saya melihat beberapa meja makan sengaja ada yang ditaruh di trotoar, untuk mereka makan bersama-sama.

Chengdu memang kota modern yang didesain benar untuk kebutuhan warganya. Sungguh iri rasanya punya kota dengan desain seperti ini. Jakarta memang sudah terlalu parah dan salah sejak awal. Kadang saya suka berpikir, mending Jakarta dihancurkan, dan buat kota baru di tempat lain saja dengan desain perencanaan yang jauh lebih benar. Siapa tahu malah dengan cara itu, kehidupan warganya bisa jadi jauh lebih manusiawi. Siapa tahu loh…

(Untuk melihat koleksi foto perjalanan ke China, silakan cek galeri 500px).

Yang Menakjubkan dari China

Seperti di tulisan sebelumnya, khusus untuk urusan toilet, negeri ini memang terkenal akan kejorokannya. Belum lagi perilaku kebanyakan dari warga China yang suka meludah sembarangan. Terlepas dari dua hal itu, apa yang saya lihat dan alami selama perjalanan saya keliling propinsi Sichuan, lebih banyak malah yang bikin saya berdecak kagum.

 

Budaya

Upaya yang dilakukan China untuk tetap mempertahankan dan mencintai budayanya sendiri sungguh luar biasa. Dahulu waktu saya ke Shenzhen, saya sempat menonton teater pertunjukan modern, namun tetap mempertahankan ciri khas budaya asalnya melalui kostum tradisional yang dikenakan para penarinya.

Terakhir kemarin waktu saya ke Jiuzhaigou, saya mendatangi teater yang memang dibangun khusus untuk performa seni. Meski tak secanggih di Shenzhen, namun desain stage teater di Jiuzhaigou ini tetap keren. Ceritanya diambil dari cerita rakyat yang terkenal di China utara, namun disajikan dalam bentuk tarian modern. Sebagian bahasa dalam performa tarian menggunakan bahasa daerah setempat, meski dialog yang dipakai tetap menggunakan bahasa Mandarin. Yang lebih keren, semua pemainnya adalah anak muda.

Bangsa China termasuk yang sangat bangga dengan kekuatan bangsanya sendiri. Namun kebanggaan ini kadang memang keterlaluan. Dalam hal bahasa, meski mereka diajarkan bahasa Inggris di sekolah, dan hampir semua petunjuk fasilitas umum menggunakan bahasa Inggris, tidak berarti membuat mereka bisa atau mau belajar bahasa Inggris lebih dalam. Atau apakah bisa jadi karena bahasa Mandarin yang mereka gunakan sehari-hari ini bisa membuat mereka bertahan kala berada di negara lain? Di mana sih di belahan bumi ini yang tidak ada warga keturunan China yang tak bisa bahasa Mandarin?

 

Konstruksi

Pernah lihat video rekor konstruksi bangunan 6 lantai di China yang diselesaikan hanya dalam 24 jam? Waktu melihat video itu, saya menganggapnya sebagai hal yang mustahil. Namun setelah saya melihat langsung konstruksi yang mereka lakukan di daerah rural (bukan kota ya, karena di kota adalah hal biasa) di Sichuan, saya menjadi yakin kalau para engineer China ini memang sangat luar biasa.

Propinsi Sichuan terdiri dari banyak sekali gunung dan sungai. Zaman dahulu adalah hal yang mustahil untuk bisa menghubungkan warga yang tersebar di setiap lereng gunung. Sekarang, hampir semua gunung ini bisa dilewati dengan kendaraan. Jalan yang berliku-liku mengelilingi setiap lerengnya. Saya sendiri bisa sampai ke puncak gunung Yakexia setinggi 4.743 meter dengan menggunakan bus.

Sekarang semakin banyak kota dengan skala yang cukup besar berada di antara gunung. Penduduknya pun padat. Untuk pergi dari kota ke kota tidak perlu naik dan turun gunung lagi, karena kini banyak gunung yang sudah bisa ditembus dengan terowongan. Panjang terowongan bervariasi. Yang paling panjang yang saya rasakan kemarin adalah menembus sejauh 2 km di bawah gunung. Yang menakjubkan lagi, di dalam terowongan ini bisa ditemukan banyak persimpangan, yang mungkin menembus ke arah kota lain. Banyak jalan di dalam terowongan yang kini masih dalam proses pengerjaan, namun saya yakin tahun depan semua konstruksi ini pasti sudah beres.

Selain negeri terowongan, China juga negeri jembatan. Sungai yang lebar di antara lereng gunung di Sichuan memang bisa menjadi pemisah. Jembatan dengan skala raksasa banyak dibangun untuk menghubungkannya. Ketinggian jembatan bisa mencapai 200-300 meter di atas sungai yang deras. Banyak jembatan ini yang didesain unik, sehingga bisa dibedakan dengan jembatan lainnya.

Dalam perjalanan pulang kembali ke kota Chengdu, bus saya melewati tepian kota Menghuo. Ingat kota Gotham di trilogi film Batman terakhir? Kota Gotham versi itu adalah pulau yang terhubung oleh banyak jembatan. Nah, kota Menghuo mirip seperti itu. Separuh kota ini dikelilingi oleh sungai lebar yang deras. Banyak jembatan dibuat untuk menghubungkan kota Menghuo dengan sisi kehidupan di seberang jembatan.

Dengan banyaknya sungai di antara lereng gunung, tentunya sayang kalau tidak dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga air. Sungai yang berada di antara ceruk lereng sudah banyak yang mulai dibendung. Bendungan ini sekaligus menjadi tenaga pembangkit. Sisi atas bendungan diubah menjadi danau luas dengan pemukiman warga di sekelilingnya.

Dalam perjalanan saya menyusuri Sichuan, saya melihat mulai banyak jalan dibuat jauh tinggi di atas jalan yang sedang saya lalui. Jembatan baru pun dibuat menghubungkan jalan di atas saya dengan jalan di lereng seberangnya. Tak jauh dari lokasi ini sudah mulai banyak bangunan hunian baru namun masih kosong.

Ternyata, daerah yang saya lewati ini nanti akan direndam menjadi waduk baru. Jalan dipindahkan ke atas. Penduduk yang rumahnya nanti akan terbenam dipindahkan ke daerah hunian baru. Sepertinya bukan kali ini saja, satu desa dipindahkan oleh pemerintah China ke lokasi baru. Biasanya di lokasi baru ini, mereka malah sudah disiapkan rumah dengan seluruh perabotnya. Mereka tinggal bawa badan dan pindah saja.

 

Pengelolaan Tempat Wisata

Empat tempat wisata utama di Sichuan sudah saya datangi: Jiuzhaigou, HuangLong, Siguniang, dan Hailuogou. Semua tempat itu, meski masing-masng berskala berbeda, punya karakter pengelolaan yang sama.

a. Mobil pribadi dan bus tidak bisa masuk ke lokasi.

Setelah melalui loket tiket, pengunjung harus menggunakan bus internal yang disediakan oleh tempat wisata. Biaya bus ini tentu dikenakan sebagai biaya tambahan bagi pengunjung. Busnya sendiri nyaman dan jumlahnya banyak, sehingga meski dalam kondisi tempat wisata penuh, jumlah bus tidak pernah kekurangan. Dengan filter seperti ini, kondisi lingkungan tempat wisata akan lebih terjaga, karena semua dalam batasan kendali pengelola.

b. Tiket ada pedagang liar di dalam lokasi.

Pedagang umum hanya bisa mendatangi pengunjung di sekitar lokasi pembelian tiket. Mereka tidak bisa mengakses masuk lebih dari itu. Semua pedagang yang berada di dalam lokasi wisata sudah ditempatkan di lokasi-lokasi yang ditentukan. Khusus Jiuzhaigou dan HuangLong, malah sama sekali tidak ditemukan pedagang liar di luar lokasi wisata. Sepanjang perjalanan dari penjualan tiket masuk hingga ke tempat parkir terlihat bersih dari gangguan pedagang liar.

c. Ada jalan setapak yang didesain khusus.

Di China, semua jalan setapak di dalam tempat wisata dibuat standar sama. Hampir semuanya menggunakan papan kayu yang dibangun di atas plat baja. Jalan setapak papan ini dibuat lebih tinggi daripada tanah dan sungai. Ada bahkan jalan setapak yang lewat menyeberangi sungai, sehingga pengunjung bisa merasakan melewati air di sisi kiri dan kanannya. Ada beberapa jalan setapak yang dibuat miring, meski kebanyakan menggunakan anak tangga. Ukuran anak tangga pun standar sama semua, sehingga pengunjung nyaman berjalan di atasnya. Melalui jalan setapak ini, pengunjung juga dijaga supaya tidak bersentuhan langsung dengan air, apalagi sampai memasukkan bagian tubuh ke dalam air. Mereka menjaga lingkungan tempat wisata senatural mungkin.

d. Jam buka tetap.

Setiap tempat wisata ini buka jam 8 pagi dan tutup jam 5 sore. Meski resmi tutup jam 5, mereka masih menunggu pengunjung yang belum keluar. Biasanya akan selalu ada tim yang menyusuri dan mengingatkan waktu kunjungan. Tidak ada yang diperbolehkan untuk menginap di dalam tempat wisata.

e. Kebersihan (hampir) selalu terjaga.

Di setiap tempat wisata ini pengunjung dilarang merokok (padahal ini tempat terbuka, dan udara selalu dingin). Berdasarkan pengamatan saya, tidak ada yang berani melanggar ketentuan ini. Entah karena mereka takut, atau karena mereka sadar akan bahaya merokok terhadap resiko kebakaran hutan di tempat wisata.

Tempat sampah banyak tersedia dimana-mana. Akan selalu ada petugas yang menyusuri jalan setapak, memungut sampah yang tercecer jatuh. Mereka bahkan sudah siap dengan jaring kalau mereka menemukan sampah yang terjatuh ke sungai atau danau.

Yang paling penting di tempat wisata ini adalah keberadaan toilet dengan jarak memadai, mengingat udara China yang dingin akan membuat pengunjung mudah kebelet pipis. Untuk Jiuzahigou, di setiap titik wisata disediakan toilet. Untuk HuangLong, yang merupakan satu jalur setapak utuh sepanjang lebih dari 7 km, setiap sekitar 500 m akan ada toilet. Yang paling sengsara adalah Siguniang, yang minim toilet. Sudah minim, buruk sekali desain toiletnya.

(Untuk melihat koleksi foto perjalanan ke China, silakan cek galeri 500px).