Mampir Sejenak di Kuala Lumpur

Biasanya saya ke Kuala Lumpur cuma transit, sebelum lanjut ke penerbangan berikutnya. Kali ini, sebelum saya lanjut tebang ke Chengdu, China, saya dan bapak saya menginap semalam di Kuala Lumpur.

Saya menggunakan Air Asia, jadi saya mendarat di bandara LCCT (Low Cost Carrier Terminal). Ternyata kereta cepat KLIAExpress yang bisa mengantar saya hingga tengah kota, tidak sampai di LCCT. Setelah membeli tiket, saya lalu naik shuttle bus yang akan mengantar ke stasiun Salak Tinggi. Yang lama bukan perjalanannya, tapi menunggu shuttle bus yang ngetem mencari penumpang. Tiket kereta menuju tengah kota seharga RM 12,50. Ini sudah termasuk biaya shutte bus.

Saat saya melihat KLIAExpress yang datang tepat waktu setiap 25 menit, yang terpikirkan hanya kekesalan. Bukan kesal dengan negeri Malaysia, tapi kesal dengan negeri sendiri yang tidak bisa menyediakan angkutan umum yang manusiawi dari bandara Soekarno-Hatta ke tengah kota. Keretanya pun sangat bagus. Bonus wifi gratis cepat juga di dalam kereta.

Kami melewati stasiun Putrajaya & Cyberjaya, lalu Bandar Tasik Selatan, lalu sampai di KL sentral, yang merupakan titik pusat pertemuan semua jalur transportasi darat di Kuala Lumpur, baik itu kereta maupun bus. Dari sini saya pindah menggunakan LRT jalur merah muda, hingga sampai di stasiun Mesjid Jamek. Saya dan bapak saya memang menginap di Citin Hotel, yang berlokasi 5 menit berjalan kaki dari stasiun. Agak susah menemukan pintu masuk hotel ini karena tertutup lapak-lapak pedagang kaki lima. Hotel ini memang berada di kawasan bazaar yang penuh dengan lapak pedagang yang didesain teratur. Mirip lapak Mayestik Jakarta, tapi jauh lebih rapih dan bersih.

 

Berikutnya saya ceritakan saja tempat-tempat apa yang sempat dikunjungi selama sekitar 24 jam lebih berada di Kuala Lumpur.

TIEN HOU TEMPLE

Klenteng ini masih berada di tengah kota, di perbukitan. Kompleksnya cukup luas, dengan tempat parkir yang memadai. Lantai besmen dipakai untuk penjualan suvenir dan makanan. Klentengnya sendiri berada di lantai tiga. Saat saya datangi tidak terlalu ramai. Mungkin nggak berbeda dengan klenteng di Jakarta, yang baru terlihat ramai menjelang hari raya saja.

KUALA LUMPUR CITY GALLERY (KLCC)

Lokasinya persis di tengah kota, depan Lapangan Merdeka (Merdeka Square). Lapangan ini sendiri dikelilingi oleh bangunan konservasi yang masih dipertahankan bentuknya. Ada yang dibangun sejak awal tahun 1900, bahkan ada yang sejak abad ke-18. Nuansa kolonial Inggris dan arsitektur Islam bercampur mengelilingi Lapangan Merdeka.

KL City Gallery ini merupakan museum sekaligus pusat informasi yang menjelaskan tentang perkembangan kota Kuala Lumpur dari masa ke masa. Ada satu ruangan gelap di lantai dua yang menampilkan maket kota Kuala Lumpur dengan lampu-lampu yang bercahaya. Kalau mau suvenir keren (tapi mahal) berupa maket atau skyline kota Kuala Lumpur yang terbuat dari tempelan kayu, boleh cari di sini. Bahkan saya bisa melihat para karyawan yang sedang sibuk menempel potongan-potongan tipis kayu menjadi satu maket bangunan historik di Kuala Lumpur.

RONCATO LEATHERWARE

Tempat ini menjual segala macam produk yang terbuat dari kulit asli. Ada yang dari kulit sapi. Juga ada yang terbuat dari kulit ikan pari. Tentu saja saya terkejut. Waktu saya tahu ini, yang terpikirkan adalah, seandainya para pecinta lingkungan tahu akan hal ini. Karena saya juga bukan orang yang doyan belanja, maka saya sama sekali tak tertarik datang ke sini kalau ke Kuala Lumpur lagi.

 

BERRYL’S CHOCOLATE KINGDOM

Tidak ada yang spesial sebetulnya dari tempat ini, selain toko yang menjual cokelat beragam rasa. Kecuali memang tujuan ke Kuala Lumpur adalah membeli oleh-oleh cokelat, maka tempat ini tidak wajib dikunjungi.

Ada hal menarik dari tiga tempat di atas yang seharusnya bisa diterapkan juga di setiap tempat wisata di Indonesia. Sebelum saya masuk ke setiap tempat tersebut, seorang penjaga akan menempeli baju saya dengan stiker khas lokasi itu. Lucu kan, kalau akhirnya saya bisa mengoleksi semua stikernya. Seandainya ide serupa bisa diterapkan di setiap destinasi wisata Indonesia. Pengunjung bisa mengumpulkan stiker lucu yang menunjukkan bukti perjalanannya ke tempat tersebut. Semakin banyak kunjungan, semakin banyak pula stiker yang bisa dikumpulkan.

 

PEWTER FACTORY

Lokasi ini mengingatkan saya akan museum yang pernah saya datangi di Shenzen, China. Saat datang disambut dengan cerita tentang manfaat perak dan emas putih yang bisa menjaga suhu minuman selama satu jam, serta cerita tentang manfaat batu onyx bagi kesehatan.

Setelah itu saya dan bapak saya diantar masuk toko, yang menjual produk yang diceritakan dalam beragam variasi dan bentuk. Tak berbeda dengan dua tujuan sebelumnya, saya kurang tertarik menjelajah isinya, karena memang saya tidak berniat datang ke Kuala Lumpur untuk belanja.

 

BATU CAVES

Untuk sebuah tempat yang dibangun manusia, kuil Hindu ini sungguh luar biasa. Kuilnya berada di atas perbukitan, dan sepertinya memang dibangun dengan memotong bukit. Lokasinya sangat tinggi. Untuk mencapainya harus naik ratusan anak tangga. Waktu saya melihatnya, langsung malas untuk berjalan ke atas. Akhirnya saya hanya memotret kuil ini dari bawah saja. Di area bawah saya melihat banyak monyet dan burung merpati yang dibiarkan bebas. Terkadang monyet ini bandel, mencuri makanan dari toko-toko yang ada di sekitar. Saya melihat salah satu penjual mencoba menakuti monyet dengan berpura-pura menjepretkan katapelnya.

SEKITAR MASJID JAMEK

Karena saya menginap di Hotel Citin, yang berada persis di sebelah Masjid Jamek, sayang dong kalau nggak menyempatkan berkeliling. Saya dua kali berkeliling, malam hari dan keesokan paginya. Masjid Jamek berada tak jauh dari area pertokoan. Jualannya beragam, nggak jauh berbeda dengan Mayestik Jakarta. Malam hari penuh dengan banyak orang, sementara pagi hari terlihat sepi.

Saya berkeliling menikmati suasana kota yang memang terasa nyaman. Kota ini didesain tanpa melupakan pejalan kaki. Trotoar yang bagus, lebar di banyak lokasi, membuat saya lupa diri kalau sudah berjalan jauh keliling. Hanya saja perilaku warganya ternyata nggak jauh berbeda dengan wargaJakarta. Suka mnyeberang sembarangan. Untungnya kecepatan mobil yang berlalu tidak secepat mobil Jakarta, meski jalan cenderung terlihat lebih sepi. Yang paling menakjubkan adalah ketika saya melihat pengemudi motor yang melanggar arah, naik trotoar, dan juga naik jembatan penyeberangan. Mungkin karena pengemudi motor di Kuala Lumpur tidak terlalu banyak, hal seperti ini belum terlihat sebagai masalah.

 

CHAN SEE SHU-YUEN CLAN HOUSE

Meski berbentuk seperti klenteng, namun tempat ini bukanlah tempat ibadah. Lebih tepat bila disebut tempat berkumpul, lebih tepatnya tempat berkumpul marga Chan di Kuala Lumpur. Bila ada marga Chan yang mengalami kesulitan, maka ia akan meminta bantuan ke sini. Misalnya, pendatang baru yang butuh bantuan, atau bisnisnya terganggu oleh kelompok tertentu, dll. Pendirinya memang orang China kaya di Malaysia. Ia membangun ini supaya bisa membantu marganya yang mendapat kesulitan apapun.

 

CHIN TEMPLE

Klenteng ini berlokasi tak jauh dari China Town. Sebenarnya tak ada yang spesial dari klenteng ini. Tak kalah spesial dengan klenteng-klenteng yang bisa didatango di Jakarta.

China Town sendiri kini sudah tak murni didominasi warga Cina. Memang masih banyak toko-toko yang dimiliki warga Cina lama. Sayangnya setelah mereka tua, anak-anak mereka tak tertarik untuk meneruskan bisnis orang tuanya. Kebanyakan kini toko-toko ini mempekerjakan warga pendatang, dari Myanmar, Bangladesh, India, untuk membantu operasional toko sehari-hari.

 

SRI MAHAMARIAMMAN TEMPLE

Masih satu jalan dengan klenteng di atas, bisa ditemukan tempat ibadah kaum Hindu India. Saya sendiri belum pernah masuk ke tempat seperti ini. Jadi ini merupakan pengalaman baru. Sebelum masuk, saya diminta menitipkan sepatu, karena memang tak boleh mengenakan sepatu di dalamnya. Di dalamnya, banyak patung dewa dengan nama-nama yang saya tak familiar.

 

PETRONAS TWIN TOWERS

Nggak ada yang nggak tahu menara kembar Petronas kan? Saya nggak masuk ke dalam menaranya sih. Saya hanya menikmati berjalan-jalan di taman besar di hadapannya. Apalagi taman dilengkapi dengan wifi gratis yang kencang pula. Salah satu spot menarik di taman ini adalah kolam air untuk anak. Anak-anak bebas bermain dan basah-basahan di kolam ini, tanpa membayar. Unik ya?


PUTRAJAYA

Putrajaya merupakan pusat pemerintahan Malaysia. Lokasinya sekitar 45 menit dari Kuala Lumpur. Semua instansi pemerintah dan kerajaan dipindahkan ke lokasi ini sejak 1997. Untuk mencapainya agak susah menggunakan angkutan umum. Memang ada sih kereta cepat ke sini. Kalau kita pakai KLIAExpress, pasti akan lewat stasiun Putrajaya. Namun stasiun ini ternyata masih jauh dari lokasi kompleks pemerintahan kerajaan Malaysia. Para pegawai pemerintahan umumnya datang menggunakan mobil pribadi. Untuk mereka ang pegawai pemerintahan, bisa membeli mobil Proton murah, seharga sekitar RM 25.000 (sekitar Rp. 75.000.000,00).

Putrajaya penuh dengan banyak bangunan arsitektur modern. Desainnya apik. Kebanyakan terlihat unsur arsitektur islam sebagai bagian dari desainnya. Bangunan megah terlihat di kiri kanan bulevar raksasa, yang merupakan jalur utama di Putrajaya. Di ujung bulevar bisa telihat istana kerajaan Malaysia, dengan mesjid megah berada tak jauh di sampingnya.

Lokasi Putrajaya sangat luas. Bangunan convention centre terlihat menonjol di atas bukit. Bentuknya mirip pesawat ruang angkasa. Orang Malaysia pun menyebutnya dengan gedung UFO. Beberapa area di Putrajaya terpisah oleh danau luas. Beberapa jembatan baja raksasa dengan desain yang cantik terlihat menghubungkannya. Taman-tamannya pun terlihat cantik. Katanya kalau hari libur suka ada wisata keliling danau di sore hari.

 

LCCT

Saya sampai di bandara terlalu cepat, sehingga saya belum bisa check in. Semua maspakai Air Asia yang terbang domestik atau ke luar negeri berangkat melalui bandara ini. Bandara ini sudah mirip terminal Soekarno-Hatta. Penuh luar biasa, apalagi yang penerbangan domestik. Kalau di Jakarta, bisa ditemukan mesin check in online, kalau di LCCT, saya melihat pula mesin pembelian tiket online dan mesin tukar valuta asing.

Cerita berikutnya adalah tentang perjalanan saya selanjutnya ke Chengdu, China. Tunggu saja ya!

Jakarta dan Pilkada

Jarang banget saya nulis di blog tentang politik. Tulisan kali ini pun sebenarnya bukan tentang politik. Hanya saya, sebagai warga Jakarta, yang seumur hidup besar di Jakarta, kayaknya perlu juga menyuarakan isi hati.

Ada 2 pilihan saat Pilkada DKI di tanggal 20 September nanti. Pilih Foke – Nara atau Jokowi – Ahok. Saya sendiri bukan simpatisan Jokowi, karena ada satu hal yang selalu mengganjal saya. Saya mendapat kesan kalau beliau terkesan menggampangkan permasalahan di Jakarta. Jakarta loh ya, bukan Solo. Namun saya juga melihat kalau beliau orang yang mau terjun beneran ke lapangan. Alias melihat langsung, dan supervisi langsung, dan memberi tindakan langsung.

Sementara Foke, terlalu banyak kesalahan yang ia lakukan di Jakarta. Jakarta tumbuh dan berkembang memang betul. Nggak mungkin kota nggak akan tumbuh dan berkembang. Namun apakah pertumbuhan ini benar hasil inisiatif dan prakarsa dirinya? Jujur saja, berdasarkan pengamatan saya, Foke baru terasa benar bertindak untuk kepentingan Jakarta baru setahun belakangan ini. Ini pun kemungkinan karena tuntutan untuk mengejar status incumbent-nya.

Seorang Sutiyoso yang menjadi gubernur sebelum Foke, yang juga mendapat kritikan pedas dari banyak pihak, menurut saya malah jauh lebih kompeten memimpin Jakarta daripada Foke. Setidaknya hasil kerjanya terlihat. Sementara Foke lebih cenderung mencari aman, menghindari konflik, dan yang paling menyebalkan, membangun pencitraan dengan memasang wajahnya di billboard kota Jakarta dimana-mana. Setiap kali ada billboard kosong, pasti yang tertampang adalah wajahnya, dengan pose default-nya.

Jakarta butuh pemimpin yang tegas, berani menghadapi konflik, dan siap mental menghadapi cercaan. Jakarta juga butuh pemimpin yang mau turun ke lapangan, mendengarkan dan mencari solusi dengan cepat. Jakarta juga butuh pemimpin yang berani menerobos birokrasi yang menghabiskan banyak uang. Jakarta butuh pemimpin yang hasil kerjanya bisa segera langsung dinikmati oleh stakeholder-nya.

Yang paling penting, karena kompleksnya permasalahan kota, Jakarta butuh pemimpin yang bisa menginspirasi masyarakatnya untuk mau bertindak dan berbuat demi kepentingan kota, dan bukan kepentingan pribadi. Seseorang yang bisa mengajak masyarakatnya untuk sama-sama mengumpulkan energi positif untuk bersama membangun kota. Masalah Jakarta tidak bisa diselesaikan oleh pemimpinnya seorang. Semua stakeholder kota harus ikut bekerja, dan pemimpin kota harus bisa mendorong dan mengakomodasinya.

Siapapun gubernur yang akan menang di Pilkada nanti, saya masih pesimis masalah Jakarta bisa terpecahkan dalam 5 tahun. Macet dan banjir, tak akan tuntas hilang dalam 5 tahun. Nggak akan terjadi kalau masyarakatnya sendiri tidak ikut mengubah perilakunya.

Mau menuntaskan macet? Cobalah inisiatif sekali-sekali menggunakan angkutan umum. Mau bus umum, kopaja, metro mini, TransJakarta, atau Commuter Line. Jangan manja dengan pakai mobil pribadi. Apalagi kalau cuma sendirian menyetir di dalam mobil.

Mau menuntaskan banjir? Mulai dengan perilaku sederhana, jangan buang sampah sembarangan. Saya suka heran dengan mereka yang asyik makan dan minum sambil jalan. Lalu begitu makanan atau minuman habis, mereka membuang bungkusnya sembarangan ke jalan. Kalau lagi enaknya aja, mau dipegang. Begitu habis, lupa akan tanggung jawabnya.

Siapapun pilihan kamu di Pilkada nanti, jangan abstain. Pakai suara kamu. Kalau memang nggak tertarik dengan kedua calon, setidaknya buat kartu suara kamu menjadi tak berlaku, dengan mencoblos semua foto calon. Masih ada 4 hari sebelum Pilkada. Jangan jadikan alasan kalau kamu buta informasi akan masing-masing calon, sebagai alasan kamu tidak memilih. Sudah banyak informasi dan program yang disampaikan masing-masing calon melalui beragam media.

Setiap kali saya memilih, saya selalu berpikir kalau tidak ada orang yang sempurna. Kalau mau menunggu yang sempurna, tidak akan ada yang akan saya coblos sampai akhir hayat. Pilihlah yang terbaik di antara yang terburuk. Kalau ada yang bilang, cakep itu relatif dan jelek itu absolut, maka nggak salah juga kalau analogi serupa saya terapkan saat memilih calon pemimpin Jakarta nanti. Jangan pilih yang jelek, tapi pilihlah yang relatif lebih baik daripada lainnya!

JKT485

Sudah berapa lama kamu hidup di Jakarta? Kalau saya memang sejak lahir di kota ini. Mencoba mengingat masa-masa kecil dulu, saat saya kemana-mana dianter ibu saya pakai bus PPD. Yang terberkas saat itu adalah ketika saya duduk di dalam bus menuju Blok M. Saya masih begitu kecilnya sehingga saat mau lihat ke luar jendela, harus berdiri di tempat duduk. Saat saya memegang kaca jendela, Ibu saya langsung menegur, kalau kaca itu kotor, dan saya nanti harus cuci tangan.

Seiring waktu, kehidupan ekonomi keluarga saya di Jakarta semakin membaik. Bapak dan Ibu sudah entah berulang kali mengganti mobil. Rumah yang dulu satu lantai kini sudah bertingkat. Rasanya saat itu semakin jarang saya menggunakan angkutan umum. Bahkan saat sekolah SD dan SMP pun ada jemputan sekolah. Saat SMA, karena sekolah saya searah dengan kantor Ibu saya, saya bisa ikutan nebeng. Saat itu hal yang wajar menempuh perjalanan dari Tomang ke Menteng dalam 20 menit dengan mobil. Jangan tanya kalau sekarang ya. Saat pulang, banyak teman SMA saya yang bermobil (saya sih belum bisa nyetir), sehingga saya bisa nebeng pulang.

Hebatnya Kopaja

Bisa dibilang jarang juga saya menggunakan kendaraan umum saat itu. Apalagi tawuran pelajar sedang marak-maraknya. Pernah lagi menunggu bus tak jauh dari Tugu Tani, saya melihat gerombolan seragam putih abu-abu yang kejar-kejaran sambil timpuk-timpukan batu. Yang saya lakukan saat itu paling ngumpet, atau kembali ke lingkungan sekolah, mencari aman. Pernah juga sekalinya saat saya berada di dalam bus, lampu di dalam bus tiba-tiba dimatikan. Ternyata bus melewati rombongan anak SMA yang sedang tawuran. Mungkin untuk menjaga supaya anak-anak SMA itu tidak melirik isi bus, lampu di dalamnya dimatikan. Saya saat itu cuma bisa bernafas lega.

Saya sempat meninggalkan Jakarta selama 10 tahun, ke Bandung, untuk kuliah. Saya membangun bisnis awal saya di Bandung, meski Jakarta tetap menjadi tujuan utama jualan. Saya yang sering bolak-balik Jakarta – Bandung. Belum ada tol Cipularang saat itu, sehingga keahlian menyetir saya terlatih karena sering menyetir Jakarta – Bandung non tol, baik malam maupun siang hari. Akhirnya saya kembali juga 100% menjadi anak Jakarta. Kantor yang di Bandung dipindahkan semua ke Jakarta, demi mengurangi ongkos. Jakarta tetap menjadi magnet karena duit besar ya adanya di kota ini.

Pengamen Bertalenta

Hingga tahun 2011 kemarin saya masih sering mengemudikan mobil kemana-mana di Jakarta. Seperti warga Jakarta lainnya, saat terkena macet saya cuma bisa memaki-maki saja dalam hati. Ikutan stres, tanpa bisa berbuat apa-apa. Sampai akhirnya saya sadar, menyetir mobil di Jakarta bukan lagi solusi, tapi sudah menjadi beban tersendiri. Kalau mobil mogok karena suhu tinggi akibat macet, saya stres. Kalau pas menyetir hujan turun deras dan bikin genangan, saya juga stres. Apalagi kombinasi Jumat malam dan hujan di Jakarta, kadar stres semakin meningkat. Setiap kali saya terkena kondisi seperti itu, rasanya saya ingin keluar dari mobil dan meninggalkannya. Namun itu nggak mungkin kan?

Kini saya kembali ke masa kecil saya dulu. Kemana-mana sebisa mungkin menggunakan bus, kopaja, metro mini, Trans Jakarta, dan kadang taksi atau ojek. Yang belum kesempatan hingga saat ini adalah mencoba commuter line (karena memang belum ada kebutuhan). Saat saya kemana-mana menyandang diri saya sendiri, tanpa harus membawa mobil, beban saya terasa semakin ringan. Saya bisa melakukan hal yang nggak bisa saya lakukan saat menyetir, seperti semakin beraktif ria di social media. Bahkan saya pernah menulis draft blog sembari bergantungan di dalam bus Trans Jakarta.

Metro Mini 75

Tapi sebentar, siapa bilang menggunakan angkutan umum di Jakarta nggak stres? Kalau pakai bus Trans Jakarta yang bikin kesal adalah desak-desakannya saat jam pulang. Antrinya juga lama. Malesin deh pokoknya. Alternatifnya saya kembali ke bus umum. Kalau beruntung yang lewat pas bus AC sih mendingan. Kalau nggak, ya sudahlah terima apa adanya. Percaya nggak, naik bus umum tanpa AC sore hari pas jam pulang itu lebih nyaman dan nggak keringetan daripada maksain diri umpel-umpelan di dalam bus Trans Jakarta?

Ngantuk, Mas?

Memang sih, ada rasa ketidakamanan megintai setiap kali naik bus umum. Makanya, saya selalu memindahkan tas ke depan, dompet ke saku depan, hape ke saku depan (penuh deh pokoknya saku depan). Selalu waspada, jangan sampai ketiduran (haha saya pernah sih beberapa kali ketiduran, untungnya iPhone nggak lenyap dari tangan saya :)). Terkadang naik bus umum, saya malah bisa banyak dapat pengalaman menarik. Melihat beragam pengamen dari yang bernada malas atau mengancam, hingga mereka yang beneran punya talenta musik namun terbatas dalam hal kesempatan.

Karena saya juga suka motret, saya suka mendokumentasikan (dengan berhati-hati tentunya) pengalaman menarik saya di dalam bus. Nggak semua berhasil saya potret, karena saya pun harus melihat kondisi lingkungan sekitar. Kalau saya merasa tidak nyaman, maka lebih baik saya tidak mengeluarkan ponsel atau kamera sama sekali. Coba deh mampir ke Instagram lalu buka tagar #lifeinabus. Itu semuanya jepretan visual saya di dalam bus Trans Jakarta, bus umum, kopaja, hingga lingkungan di sekitarnya.

Halte Bus Pancoran

Apakah saya nggak takut diancam/dijambret/ditodong di dalam kendaraan umum? Kalau ditanya begitu, siapa sih yang ingin hal itu terjadi pada dirinya? Saya juga nggak ingin. Namun bukan berarti tidak bisa diantisipasi. Kalau saya sih yang penting selalu waspada dan nggak lengah sedikitpun. Lalu pilihlah angkutan umum yang relatif kosong. Yang paling penting, tunjukkan kalau diri kamu selalu siap dan tahu apa yang harus dilakukan. Jangan terlihat sebagai orang yang kebingungan, karena hal ini akan membuatmu mudah dijadikan target. Oh ya jangan lupa berdoa ya 🙂

Mbak-mbak Imut

Sekarang Jakarta sudah memasuki usia ke-485. Saya sih nggak melihatnya sebagai kota yang semakin membaik ya. Namun buat saya pribadi, Jakarta sudah jadi bagian dari hidup saya, sumber penghasilan saya, tempat tinggal saya, dan tempat main saya. Sebagai warga Jakarta yang ingin agar kota ini menjadi lebih baik dan manusiawi, saya hanya bisa melakukannya sebatas kapasitas saya pribadi. Salah satunya adalah dengan kembali menggunakan angkutan umum dan berjalan kaki kemana-mana. Saya tidak mau melihat segala ancaman dan ketidaknyaman saya dalam berangkutan umum dan berjalan kaki sebagai hambatan. Semua juga tahu trotoar Jakarta nggak nyaman. Ya sudahlah ya. Kalau menunggu itu semua diperbaiki, Jakarta terlanjur terbenam oleh lautan motor dan mobil.

Saya cuma bisa berandai-andai, seandainya saja nih jutaan kelas menengah Jakarta pindah semua ke angkutan umum, apakah aksi ini bisa menstimulus Pemkot untuk semakin serius memperbaiki angkutan umum dan trotoar? Saya sudah memulainya sejak akhir 2011 kemarin. Apakah kamu mau ikutan juga?

Jalan Kaki Malam Hari ke Taman Bungkul

Hari Sabtu minggu lalu saya kebetulan lagi berada di Surabaya. Saat itu memang sedang ada event Hemaviton Jawara Jempol di Maspion Square, yang aplikasi interaktifnya dikerjakan oleh kantor saya. Saya bukan mau cerita soal itu sih. Saya mau berbagi cerita usai event.

Usai acara, saya sempat kopdaran dulu dengan seorang warga Surabaya yang cantik di Jatim Expo yang berlokasi tak jauh dari Maspion Square. Bagian ini nggak usah diceritain lah ya. Bagian setelahnya aja (lah elo mau cerita apa sih Pit?).

Naaah, ini yang mau saya ceritain. Kalau kata saya sih, nggak akan kenal dengan sebuah kota kalau kita belum ngerasain menjelajah jalan kaki di dalamnya. Kali ini saya meniatkan diri, sekitar jam 9 malam, dari Jatim Expo saya berjalan kaki hingga Taman Bungkul. Kalau di Google Maps sih katanya hampir 3 kilometer. Ok, nggak jauh sih. Lagian kan kota Surabaya katanya cukup terkenal dengan trotoarnya yang lebar dan nyaman. Mari kalau begitu kita coba.

Saya pun menyusuri Jalan Ahmad Yani yang sangat ramai. Sisi trotoar yang nyaman cuma ada di satu sisi jalan, sementara saya ada di sisi seberangnya. Di sisi seberang ini, nggak ada sama sekali trotoar. Saya melewati tanah basah, yang nggak enak banget lah buat jalan. Akhirnya saya memutuskan untuk menyeberang saja. Huh, ternyata itu pun bukan langkah yang baik, karena kendaraan bermotor bergerak sangat cepat di Ahmad Yani, padahal saya menyeberang di zebra cross loh. Hihi ya agak gila sih, saya akhirnya menyeberang sambil berharap mobil yang lewat ngerem aja sih (mohon ini tidak dicontoh ya teman-teman).

Trotoar nyaman yang berada di depan kompleks Angkatan Laut ini (nggak tau isinya kompleks apa) memang enak dipakai jalan. Pejalan kaki juga nggak perlu naik turun trotoar, malah sebaliknya jalan kendaraan bermotor yang menyesuaikan dengan ketinggian trotoar saat terjadi persimpangan. Cuma ya nggak beda dengan Jakarta, suka ada pedagang kaki lima dan motor parkir di atas trotoar.

Saya berjalan terus hingga menyeberang rel, melewati kolong jembatan layang, melewati pasar yang sudah gelap gulita, melewati jembatan dengan kali di bawahnya. Beberapa kali melewati jembatan penyeberangan, ingin memotret jalan raya dari atas, namun niat langsung urung setelah melihat gelapnya tangga untuk naik ke atas jembatan. Akhirnya saya pun sampai di daerah Darmo. Memasuki daerah ini, jalan terlihat lebih rapih dan teratur. Trotoar lebar terlihat di seluruh bagian jalan. Kalau kata orang Surabaya sih, memang trotoar ini akan terus terlihat hingga Tunjungan Plaza. Sayangnya, hal ini tidak berlaku sebaliknya, dari arah Darmo ke Ahmad Yani dan terus ke selatan.

Saya terus berjalan menyusuri jalan Darmo Raya sampai saya menemukan Taman Bungkul di kanan saya. Taman ini terlihat ramai, banyak sekali pengunjung yang bersantai dan melepas lelah. Mungkin karena taman ini dibangun dengan bantuan dana Telkom, makanya banyak sekali ornamen logo Telkom menghiasi taman ini, dari bangku dan hiasan taman. Taman ini pun terlihat terang, dengan lampu yang menyala di seluruh bagian taman. Ada area khusus untuk permainan anak-anak dan ada pula area untuk bermain skateboard.

Taman Bungkul juga dilengkapi dengan pusat jajanan yang berada di sisi timurnya, berhadapan langsung dengan Rumah Sakit Umum Soemitro. Di sini ada Rawon Kalkulator yang katanya terkenal. Saat itu saya sudah terlalu kenyang, sehingga terpaksa melewatkan mencoba. Saya lalu terus berjalan ke arah belakang taman hingga sampai ke Darmo Kali. Hotel yang saya inapi memang di Darmo Kali. Melihat jam, ternyata saya berjalan kaki hampir 1 jam. Agak pelan sih, soalnya kan saya berjalan kaki sambil motret dan melihat-lihat.

Esok paginya usai sarapan, saya masih punya waktu sebelum berangkat menuju bandara untuk pulang ke Jakarta. Saya pun berjalan kaki kembali ke Taman Bungkul. Lokasi hotel ke Taman Bungkul sekitar 10 menit berjalan kaki. Jadi nggak jauh.

Saya sempat nongkrong lama di sana, melihat aktivitas pagi hari di taman. Belum banyak orang yang duduk-duduk di sana. Beberapa petugas terlihat membersihkan taman dan mencuci tegel-tegel taman. Saya berjalan ke arah utara, tempat bermain anak. Ternyata di hari Minggu ini, sudah cukup banyak anak-anak (bersama orang tua mereka) yang bermain ayunan di sana. Seorang bapak terlihat pula menyalakan notebook di sana. Ternyata Taman Bungkul pun menyediakan akses wifi gratis bebas pakai. Saya pun ikut mencoba, meski ternyata aksesnya tak secepat yang diharapkan.

Kali ini saya menyempatkan mampir mencoba Rawon Kalkulator yang berada di pusat jajanan di belakang Taman Bungkul. Meski sudah agak kenyang dengan sarapan, tapi sayang rasanya kalau nggak sempat mencoba. Rasanya lumayan sih, meski dibilang enak banget juga nggak. Namun khas Surabaya, dengan warna hitam pekatnya. Jangan tanya kenapa ada embel-embel kalkulator di nama rawonnya. Soalnya saya aduk-aduk isi rawonnya, saya nggak menemukan kalkulator di dalamnya (ya kali aja ada).

Asyik juga sih ada taman seperti ini di tengah kota Surabaya. Taman yang hidup dengan aktivitas penggunanya, bukan sekedar area hijau miskin nyawa dan jiwa. Semoga saja pemkot Surabaya memperluas dan memperbanyak taman-taman seperti ini di seluruh kotanya. Oh ya, kalau bisa sih program trotoarnya diperluas lagi hingga selatan kota. Jadi setidaknya orang bisa nyaman melewati jalan protokol Surabaya dengan berjalan kaki.

Video Pembela Hak Pejalan Kaki

Lihat dulu deh video di atas!

Sungguh salut bener saya melihat sikap si ibu itu! Ia dengan cueknya menyuruh semua pengemudi motor roda dua untuk minggir dari atas trotoar. Si ibu niat. Ia terus menyusuri trotoar, menegur satu persatu setiap pengemudi motor untuk turun. Seperti biasa, ada pengemudi motor yang nggak mau terima disuruh-suruh, tapi akhirnya mengalah juga dan turun.

Salut saya. Kalau yang di video itu saya, paling saya cuma bertahan menegur 1-2 motor pertama. Kalau terlalu banyak seperti di atas, saya sudah pasti menyerah. Meski pasti hati ini akan dongkol pisan.

Sebenarnya kenapa sih para pengemudi motor banyak yang bandel seperti ini? Padahal mereka sudah dapat jalan raya. Jalan yang mereka kuasai sendiri bersama mobil roda empat. Jalan yang biaya pembangunannya saja jauh lebih mahal daripada untuk para pejalan kaki.

Saya duga, alasannya adalah karena memang pada dasarnya mereka punya kebiasaan buruk.

  • Kebiasaan ingin cepat kesana kemari, sampai jalur bus Trans Jakarta ikutan dibabat.
  • Kebiasaan nggak sabar saat berada dalam antrian lampu merah, dan tak memberi kesempatan orang lewat menyeberang jalan.
  • Kebiasaan mengambil jalan pintas lewat gang kampung.
  • Kebiasaan ingin cepat berputar arah, lalu seenaknya naik jembatan penyeberangan.
  • Kebiasaan naik trotoar lalu bergerak berlawanan arah dengan laju pergerakan kendaraan lain.
  • Kebiasaan parkir sembarangan di trotoar.
  • Kebiasaan mengklakson siapa saja yang menghalanginya (meskipun si motor sedang berada di trotoar atau jembatan penyeberangan).

Ada yang mau memberi masukan tambahan?

Saya yang kemana-mana suka berjalan kaki terus terang sebal dengan kelakukan para pengemudi motor di atas. Dengan kemampuan yang terbatas, yang bisa saya lakukan biasanya hanya:

  • Menghalangi motor yang berjalan di trotoar dengan berjalan santai berbelok ke kiri dan ke kanan.
  • Kalau trotoar sempit, saya suka berjalan di tepiannya. Pasti ada bagian tubuh saya yang menghalangi motor yang berusaha lewat. Namun saya cuek saja. Biarin saja si motor yang bersabar.
  • Kalau sampai si pengemudi motor mengklakson, adalah kesempatan bagi saya untuk teriak, “Emang elo kira ini jalan siapa?”
  • Kalau naik ojek, ingatkan si supir ojek untuk nggak naik ke atas trotoar, demi memotong jalan pintas. Kalau memang harus berputar untuk sampai ke tujuan, ya berputarlah.
  • Saya suka menyiapkan kamera kalau naik jembatan penyeberangan. Begitu ada motor yang naik sembarangan, potretlah.

Nah kalau kamu sendiri bagaimana? Sebagai pejalan kaki, apakah kamu gusar dengan pengemudi motor tak bertanggung jawab seperti di atas?