Relaksasi Diri di Taman

Saya (dan pastinya jutaan orang lainnya) merindukan bisa menghilangkan kepenatan di sebuah taman kota. Duduk tenang menikmati udara segar, di bawah kerindangan pohon, sembari mendengarkan gemericik air kolam tak jauh dari sana. Sesekali tersenyum saat melihat burung-burung gereja mendarat dan mencari makan di tanah. Sesekali pula tersenyum saat melihat anak-anak kecil beraktivitas di taman, ditemani orang tuanya tak jauh di kejauhan. Seakan-akan hiruk pikuk dan stres yang dibawa oleh kehidupan kota bisa hilang, walaupun hanya sejenak.

Di Jakarta sayangnya taman (yang sekaligus menjadi paru-paru kota) masih sangat terbatas. Yang benar-benar memadai dan bisa dikatakan sebagai taman yang pantas, paling hanya Taman Menteng, Taman Ayodya, dan Taman Surapati. Terlalu sedikit dibandingkan kota Jakarta yang terlalu luas. Sebenarnya masih banyak taman kecil lainnya di Jakarta. Meski saya lebih suka menyebutnya sebagai lahan hijau saja sih, karena isinya cuma pohon dan bangku, tanpa ada aktivitas di dalamnya.

Tak jauh dari rumah saya di Tomang, tepatnya di persimpangan S. Parman dan jalan tol ke arah Tangerang, sebenarnya ada area hijau luas pula. Saat ini pohonnya memang belum terlalu rindang, namun menariknya sudah banyak digunakan warga sekitar untuk berkumpul. Nggak jarang saya melihat anak-anak kecil bermain bola di sana. Lumayan sebetulnya.

Ada pula taman keren yang memang dibuat oleh swasta. Salah satunya di pojokan bulevar Kelapa Gading. Saya belum pernah masuk ke dalamnya sih, tapi memang terlihat dari luar taman ini luas banget. Ada arena bermain untuk anak pula. Sudah pernah ada yang mencoba masuk dan merasakan di dalamnya?

Taman keren lainnya, Tribeca Park, menjadi satu kesatuan dengan pusat perbelanjaan Central Park. Dulu pertama kali Central Park ini dibangun, saya sebal karena akses untuk pejalan kaki dari jalan raya sangatlah tidak menyenangkan. Sempit dan tidak manusiawi. Namun ternyata pertokoan ini menyediakan jalur masuk lain, yakni melalui perpanjangan jembatan busway yang langsung masuk ke area lahannya. Pejalan kaki yang datang dengan bus Trans Jakarta bisa langsung masuk ke pertokoan melalui jembatan ini.

Kemarin sore saya berjalan-jalan ke taman ini. Siapa tahu ada acara Imlek yang bisa dilihat dan dipotret. Baru kali ini saya memperhatikan kalau taman ini benar-benar berfungsi selayaknya benar sebuah taman kota. Ratusan orang, tanpa batasan suku dan usia, asyik nongkrong di taman ini (meski seperti biasanya pertokoan di Jakarta, untuk masuk ke areanya harus melalui pemeriksaan tim security).

Terlihat banyak anak yang berdiri di tepi kolam, memberi makan ikan-ikan yang luar biasa banyaknya di sana. Ada pula yang asyik berlari-larian di auditorium terbuka (sebelum nanti malam akan dipakai untuk acara). Ada pula sekumpulan anak SMP yang mengambil salah satu sudut taman untuk latihan joget. Semua jalan di taman ini dibuat landai, sehingga para pengguna kursi roda bisa dengan nyaman berjalan-jalan di dalam taman.

Tempat sampah tersedia dimana-mana dan gampang diakses. Terlihat pula beberapa orang security yang berjalan keliling menjaga agar pengunjung tetap merasa aman. Hiasan-hiasan lampu menerangi taman ini saat malam menjelang, sehingga taman tetap terlihat terang. Semakin terang, tentu perasaan aman dan nyaman semakin terasa.

Sore hari kemarin angin bertiup sangat kencang di taman ini. Mungkin ini konsekuensi membangun ruang terbuka di antara gedung tinggi. Seorang petugas security kemarin bercerita kepada saya, kalau dulu di taman ini disediakan terpal-terpal pelindung. Namun kini terpal-terpal itu telah dicabut, karena kencangnya angin sudah beberapa kali meniup lepas terpal tersebut.

Kebetulan karena kemarin juga perayaan Tahun Baru Imlek 2563, saya mendapatkan kejutan yang luar biasa. Sekitar pukul 19:30 kembang api dinyalakan di tengah-tengah Tribeca Park. Selama nonstop 8 menit, saya menyaksikan kembang api menerangi malam di atas taman. Ini bukan pertama kalinya saya melihat kembang api semegah ini di Central Park. Terakhir saya melihatnya adalah saat tahun baru 1 Januari 2012 kemarin. Namun tetap saja, pemandangan indah seperti ini selalu mengesankan untuk dilihat kembali.

Seandainya saja ada kewajiban bagi setiap pusat perbelanjaan untuk membangun area terbuka seperti yang dilakukan Central Park. Asyik kan? Yang hobi belanja bisa tetap belanja, namun ia juga bisa menghirup udara segar di taman seusai belanja. Lalu sediakan kafe dan restoran di tepian taman (seperti yang dilakukan pula oleh Central Park), supaya yang nongkrong bersantai di taman pun ikut terdorong untuk ikut melakukan pembelian. Sama-sama untung. Taman haruslah menjadi bagian dari fitur pusat perbelanjaan, dan bukan menjadi beban tanggungan belaka.

Saya yakin warga Jakarta butuh tempat seperti ini lebih banyak. Butuh taman. Butuh tempat berkumpul. Butuh lokasi untuk menenangkan pikiran, yang murah dan tak jauh dari rumah. Taman yang bukan sekedar lahan hijau dengan pohon-pohon. Namun taman yang hidup, yang penuh aktivitas, yang membuat orang merasa memiliki, dan yang menimbulkan rasa kangen untuk mendatanginya kembali.

Pejalan Kaki VS Pengemudi Motor

Hidup menjadi pejalan kaki di Jakarta itu memang nggak nyaman. Infrastruktur yang disiapkan Pemkot Jakarta lebih banyak menguntungkan pengendara motor daripada pejalan kaki. Trotoar untuk pejalan kaki tidak ada yang lebar. Kalaupun ada yang bagus seperti di beberapa area di dalam Mega Kuningan atau di Episentrum Kuningan, itu karena dikembangkan oleh swasta. Kalau standar yang dipakai Pemerintah yang biasa kita temukan di jalan-jalan protokol itu. Kecuali area jalan Thamrin dan Sudirman yang didesain khusus, standar trotoar di jalan-jalan lainnya menyedihkan.

Setiap ada perbaikan selokan, akan ada bagian dari trotoar yang dirusak. Sayangnya setelah itu, jarang ada yang mengembalikan kondisinya seperti semula. Akibatnya, lubang-lubang ditinggalkan di trotoar. Makanya, kalau berjalan kaki di trotoar, kita harus waspada melihat ke bawah. Menghindari beberapa lubang, bahkan kadang perlu harus sampai meloncat kesana kemari.

Sekalinya ada trotoar yang lebar dan nyaman seperti di Thamrin dan Sudirman, kita akan berhadapan dengan masalah lain. Banyak pedagang kaki lima dan motor parkir. Untuk para pedagang sih saya nggak terlalu mempermasalahkan ya. Meski seharusnya keberadaan mereka dikumpulkan di titik-titik tertentu saja, seperti di bawah jembatan penyeberangan namun diatur rapih dan bersih. Lagi pula, para pejalan kaki sekali-sekali butuh tempat untuk beristirahat sekalian minum dan makan.

Yang agak menyebalkan ya motor-motor yang parkir itu. Kalau memang jatah parkir yang diberikan gedung tidak cukup, ya sebaiknya jangan serakah melebar ke area publik. Ini bisa dilihat loh di beberapa bagian di Sudirman. Plus, sekarang dengan mewabahnya transportasi ojek, semakin banyak pula motor-motor parkir sembarangan di sekitaran halte atau jembatan penyeberangan. Ruang jalan bagi pejalan kaki menjadi semakin sempit karenanya.

Hal lain yang membuat saya heran pula adalah, apakah banyak dari pengemudi motor ini yang tidak bisa bersabar? Mereka, bersama para pengemudi mobil sudah mendapat jatah jalan raya. Ya memang kadang jalan raya yang dilewati itu macet. Macet juga kan karena salah para pengemudi motor dan mobil sendiri. Saat macet, para pengemudi motor yang nggak bisa bersabar ini suka mengambil jatah para pejalan kaki. Mereka naik trotoar, dan tanpa rasa bersalah membunyikan klakson mengusir orang-orang yang menghalanginya. Seakan-akan semua bagian jalan di Jakarta ini adalah milik mereka sendiri.

Saya sudah beberapa kali mengalami kejadian di atas. Kalau saya melihat ada motor yang naik di atas trotoar, maka saya akan mencoba menghalang-halanginya. Jalan ke kiri ke kanan supaya si motor nggak bisa lewat. Saya mencoba memancing kekesalan si pengemudi motor, sehingga akhirnya ia pun membunyikan klaksonnya. Saat itulah saya lalu berbalik dan membentak mereka, “Emang ini jalannya siapa???” Puas rasanya.

Seakan-akan trotoar tidak cukup, beberapa pengemudi motor pun mencoba menguasai level yang lebih tinggi, yakni jembatan penyeberangan. Beberapa jembatan penyeberangan di Jakarta menyediakan ramp. Niatnya sih memang untuk membantu mereka yang menggunakan kursi roda atau gerobak. Kenyataannya, yang menggunakannya adalah motor. Mereka naik jembatan penyeberangan karena malas mencari putaran di ujung jalan.

Para pengemudi motor itu benar-benar niat. Di jembatan penyeberangan di depan Rumah Sakit Harapan Kita, bagian rampnya sudah dihalangi oleh blok beton tinggi yang biasanya dipakai polisi untuk membatasi jalan. Kiri kanannya yang berupa pijakan tangga tidak dihalangi, sehingga pejalan kaki masih bisa melewatinya. Namun itu ternyata tak menghalangi para pengemudi motor. Mereka turun dari motornya, lalu mengangkat sedikit demi sedikit motornya melewati pijakan tangga, lalu memindahkannya ke ramp. Setiap kali saya melihat ini saya cuma bisa geleng-geleng saja. Pernah sih ada yang mencoba dan nyangkut. Saya cuma biarkan saja dan memandang senyum sinis kepada pengemudi motor tersebut.

Saya akan menghormati para pengemudi motor kalau mereka mau menghormati yang juga berjalan kaki. Caranya sebetulnya sederhana. Gunakanlah jalan yang sudah disiapkan masing-masing. Jalan raya untuk pengemudi motor. Trotoar dan jembatan penyeberangan adalah jatahnya pejalan kaki. Ingatlah kalau kalian pengemudi motor jauh lebih beruntung. Punya jalan yang bagus dan nyaman untuk berkendara. Kalaupun macet itupun karena ulah kalian sendiri bukan? Janganlah trotoar pun menjadi arena kekuasaan kalian. Pejalan kaki pun rindu akan rasa nyaman dan aman saat mengarungi Jakarta.

Berjalan Kaki di Jakarta

Beberapa hari lalu, sekitar jam 7 malam, saya berjalan menuju FX di Sudirman. Tahu dong banyaknya galian saluran air di sana? Nah, koran-koran kan ngeributin jalan yang jadi macet, karena sebagian jalur lambat terambil jatahnya gara-gara galian. Seharusnya para pengguna trotoar pun protes pula. Lah, gimana nggak? Urukan galian itu kan ditimbunnya di atas trotoar jalan.

Jalur pedestrian di Jalan Sudirman depan area Senayan kan termasuk yang lumayan lebar. Nah, gara-gara galian itu, jatah pejalan kaki jadi menyempit. Belum lagi, kala itu pasca hujan. Tanah-tanah tumpukan galian membuat jalan menjadi becek dan licin. Nggak kebayang sih itu, pasti nanti trotoarnya rusak pasca proyek galian saluran air itu selesai.

Sempitnya pedestrian karena timbunan tanah akibat galian

Ya ya ya, saya sih sudah tahu (dan mencoba maklum) kalau kaum pejalan kaki di Jakarta itu prioritas kesekian, setelah kendaraan bermotor. Bujet infrastruktur lebih kelihatan untuk pembangunan jalan tol dan jembatan, dan jarang terlihat dipakai untuk membuat para pejalan kaki menjadi lebih aman dan nyaman. Boro-boro memikirkan para disabilitas, para pejalan kaki biasa saja harus waspada kalau melangkah. Siapa yang pernah tersandung di trotoar? Atau malah-malah jangan-jangan pernah ada yang masuk ke lubang di trotoar lagi? Untungnya saya belum pernah sih terjatuh ke dalam lubang, tapi kalau tersandung, entah sudah berapa kali.

Kalau sudah begini, jujur saja, saya iri banget dengan pedestrianisasi yang dibangun di Hongkong, Singapura, atau Jerman. Bahkan saat saya ke Shenzhen, Cina, saja, yang awalnya saya kira kondisinya nggak berbeda dengan Jakarta, ternyata jauh lebih nyaman berjalan kaki di sana daripada di kota ini.

Galian dan perbaikan pasti selalu ada, karena toh infrastruktur butuh perawatan. Bedanya adalah, kalau di Hongkong atau Singapura, kontraktor yang melakukan perbaikan harus menyiapkan jalur alternatif untuk para pejalan kaki. Nggak boleh ada kejadian, para pejalan kaki harus berjalan di atas jalan raya. Jalur alternatif ini (meski hanya menggunakan papan-papan tripleks) tetap dibangun dengan mempertimbangkan para disabilitas. Tetap ada ramp, saat peralihan dari trotoar ke zebra cross. Kalau proses pembangunan itu mengganggu arus lalu lintas dan penyeberangan pejalan kaki, maka akan ada tim kontraktor yang menjaga di semua sudut perempatan, dan ikut mengarahkan ketertiban lalu lintas. Intinya, perbaikan trotoar atau jalan nggak boleh menghilangkan jalur pergerakan manusia dan kenyamanan yang sudah ada sebelumnya.

Kayaknya, sepanjang para pejabat nggak pernah merasakan kehidupan para pejalan kaki di Jakarta, kebutuhan akan keamanan dan kenyamanan berjalan kaki di atas itu hanya akan jadi mimpi saja.

Nikmatnya berjalan kaki di Mampang Prapatan

Singapura dan promenadenya

Orchard Road, pusat belanja di tengah kota adalah primadona lama Singapura. Sewaktu saya kecil dulu, Orchard Road yang menjadi tujuan utama wisata wisatawan, terutama dari Indonesia. Saat itu memang Jakarta belum punya banyak mal. Merk-merk internasional saat itu lebih mudah ditemukan di Singapura. Kalau hanya ngomongin belanja, sekarang Jakarta sudah lebih unggul daripada Singapura. Nggak ada barang di Singapura yang nggak bisa ditemukan di Jakarta.

Sekarang wisata Singapura punya keunggulan baru yang tak bisa ditemukan di Jakarta. Baik Jakarta maupun Singapura sama-sama berada di tepi laut. Bedanya Singapura kini sudah sangat jauh mengolah tepian lautnya yang hanya terbatas menjadi primadona wisata baru. Dulu area pantai Singapura hanyalah di daerah patung Merlion. Desain promenadenya apik. Lautnya bersih. Menyenangkan untuk bisa duduk-duduk santai dan menyegarkan mata.

Yang sudah apik itu sekarang jadi jauh lebih apik. Bisa dibilang Singapura sekarang sudah menjadi surganya promenade se-Asia Tenggara. Semua area yang berbatasan ke laut dijadikan atraksi wisata, dengan pedestrianisasi yang menghubungkannya dengan nyaman.

Dari patung Merlion, saya berjalan kaki menyusuri jembatan menuju area Esplanade. Sepanjang jembatan panjang ini disediakan tempat duduk untuk sejenak beristirahat. Saya lalu terus berjalan kaki menyusuri tepi laut area Esplanade ini. Restoran, mal, amphitheater, conference center, terbuka melengkapi promenade ini. Para pedagang sudah disiapkan “warung” supaya bisa berjualan makanan dan minuman dengan tertib. Ruang terbuka publik yang bisa diakses siapa saja. Gratis dan bersih terawat.

Saya berjalan lebih jauh lagi, melewati jalan raya menuju Singapore Flyers. Kalau Dunia Fantasi ada bianglala, kalau Singapura punya kincir super raksasa. Saya sempat merasakan naik ini. Biaya per orang S$30. Kalau mau, kita bisa membeli tiketnya online untuk mendapatkan diskon 10%.

Selama setengah jam saya bisa melihat pemandangan tepi laut Singapura, termasuk area reklamasi baru yang kini masih dalam proses pengerjaan. Kalau mau mencoba Singapore Flyers, pastikan datang pada sore hari. Pastinya akan lebih keren kalau bisa melihat matahari tenggelam dari atas Singapore Flyers.

Kalau punya bujet lebih, mampir ke puncak Marina Bay Sands Hotel. Keluar dari Singapore Flyers, menuju jembatan unik berbentuk DNA helix, yang menembus ke area Marina Bay. Jembatan ini akan membawa kita ke Marina Bay Sands Mall. Dari mall ini kita bisa pindah ke hotel melalui sebuah underpass. Untuk naik ke lantai 56-57 Marina Bay Sands Hotel memang lumayan mahal. Biayanya per orang dewasa S$20. Pemandangan dari puncak hotel ini kala sore hingga malam hari memang luar biasa. Kita bisa melihat seluruh area Marina Bay, dari Merlion, Singapore Flyers hingga area baru yang saat ini masih dalam proaes pembangunan.

Kalau diperhatikan, sesungguhnya Singapura tak punya pemandangan alam menarik yang bisa dijual. Berbeda kalau kita ke Bali, Lombok, Bunaken, dan banyak wisata lainnya di Indonesia. Pada dasarnya alam sudah memberikan keindahan itu kepada kita.

Kalau tidak punya, maka ciptakanlah tempat wisata baru. Inilah yang dilakukan oleh Singapura dengan tepian pantainya. Negeri ini membuat yang tidak ada menjadi ada. Pantai yang biasa saja diubah menjadi jalur promenade menarik, lengkap dengan semua fasilitas pendukungnya. Akses ke area ini pun mudah, tinggal pilih MRT atau bus.

Di Jakarta memang ada Taman Impian Jaya Ancol sebagai padanannya. Sayangnya untuk masuk ke Ancol bayar, karena pengelolaannya yang oleh swasta. Plus, melelahkan kalau ke Ancol tanpa membawa kendaraan pribadi, karena akses untuk berkeliling seluruh wahananya terbatas. Mungkin tinggal promosinya yang diperkuat sehingga promosinya lebih banyak terdengar di luar negeri.

Untuk yang pernah berjalan-jalan ke Marina Bay dan sekitarnya di Singapura, kalau disuruh memilih nih antara Marina Bay dan Ancol, kalian akan pilih mana?

Singapura dan transportasinya

Sudah beberapa kali saya ke Singapura. Terakhir saya ke negeri tetangga ini setahun yang lalu untuk menghadiri seminar. Kali ini saya datang untuk berlibur bersama keluarga saya. Setiap kali saya datang ke negeri ini, setiap kali juga saya kembali takjub melihat budaya mereka berjalan kaki kemana-mana.

Saya akui Singapura memang negeri yang luar biasa. Hal yang selalu saya amati adalah desain urban kota/negeri ini. Kota yang sungguh menghormati kaum pejalan kaki. Nggak ada jalan besar dan kecil di Singapura yang rasanya tidak ada jalan pedestrianisasinya. Kota yang pengemudi mobilnya selalu mengalah menunggu pejalan kaki menyeberang (meski tak ada lampu lalu lintas pengaturnya).

Kalau dipikir-pikir, transportasi publik dan desain tata kotalah yang membuat pergerakan penduduk di negeri ini terasa manusiawi. Kemana-mana di Singapura waktu tempuh terlama hanya 30 menit. Itu dilakukan menggunakan MRT atau bus umum. Rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk perjalanan per hari hanya 2-3 dollar Singapura. Bahkan ada yang bilang dengan 6 dollar Singapura, seseorang sudah bisa keliling Singapura seharian.

MRT dan bus yang nyaman, aman, dan tepat waktu membuat warga yang tinggal jauh dari pusat kota pun tak keberatan. Orang pun memilih menggunakan MRT atau bus untuk berangkat ke tengah kota. Akibatnya, nggak banyak yang memiliki mobil dan motor di Singapura. Lagi pula, harga jual mobil di Singapura jauh lebih tinggi daripada di Indonesia. Belum lagi menghitung ongkos bensin dan parkir yang jauh lebih edan daripada Jakarta. Ongkos merawat kendaraan terlalu tinggi untuk bisa dimiliki oleh penduduk kebanyakan. Itulah mengapa MRT dan bus menjadi pilihan pertama.

Alternatif transportasi untuk yang punya rejeki berlebih adalah taksi berargo. Taksi dan bus tak boleh berhenti sembarangan. Masing-masing sudah punya halte dan tempat drop off yang ditentukan. Ada jalur khusus untuk taksi menurunkan dan menaikkan penumpang. Para taksi harus antri di jalur ini, apapun merknya. Dengan cara seperti ini, artinya semua merk taksi di Singapura dituntut punya standar kualitas yang sama.

Saya sempat ngobrol dengan salah satu supir taksi. Takjub saat ia cerita kalau ia setiap tahunnya aelalu berjalan-jalan ke luar negeri. Ia sudah pernah menjelajah berbagai sudut Indonesia, ke Cina, Jepang, Timor Leste, bahkan hingga ke Madagaskar. Wow, berarti gaji seorang supir taksi di Singapura sungguh mencukupi.

Berjalan kaki di tengah kota Singapura itu menyenangkan. Kalau siang sebetulnya nggak kalah panasnya dengan Jakarta, namun pohon-pohon besar yang berada di sepanjang trotoar yang lebar ini meneduhkan. Bisa dibilang tak ada akses pejalan laki yang terputus. Jalur pedestriannya terhubung satu dengan lainnya dan hampir tak ada undakan tangga yang mengagetkan. Para pengguna kursi roda bisa berjalan kemana-mana sendirian karena tersedia jalur ramp untuk mereka lewat.

Kemana-mana berjalan kaki dan menggunakan transportasi umum sudah menjadi hal yang lumrah, karena mudah, murah, dan nyaman. Saya bisa berjalan kaki melewati jembatan, underpass, menembus mall dan bangunan yang  tak berpagar dan berbaur dengan ruang luar. Saya bisa duduk-duduk di bangku trotoar Orchard Road sambil melihat burung-burung yang hidup nyaman di hutan kota ini. Saya bisa melihat atraksi dan eksibisi di trotoar yang membuat kota menjadi semakin hidup.

Mungkin kesalahan Jakarta adalah sudah terlalu terlambatnya menyediakan transportasi publik dan infrastruktur yang ramah bagi pejalan kaki. Orang pun lalu terlanjur memilih kendaraan bermotor pribadi. Semakin lama semakin banyak yang kemana-mana menggunakan motor dan mobil. Akibatnya, pelebaran jalan raya semakin diperlukan demi mengakomodasi kebutuhan itu. Yang kalah adalah pejalan kaki. Lebar jalur pedestrian terpotong, termakan oleh jalan raya.

Kalau di Singapura yang berkuasa di jalan adalah para pejalan kaki, sementara di Jakarta penguasanya adalah para pengemudi kendaraan bermotor. Sungguh terbalik. Entahlah kapan kondisi jalan raya di Jakarta bisa mengikuti Singapura. Kalau melihat perilaku Pemkot dan warga Jakarta sekarang, kayaknya angan-angan hidup manusiawi di Jakarta cuma bisa mimpi.

Saya sendiri sudah mencoba menggapai impian itu dengan berkontribusi menjadi penumpang angkutan umum Jakarta (yang tidak nyaman) dan berjalan kaki kemana-mana (meski tidak nyaman juga). Saya percaya, kalau ada jutaan manusia Jakarta mau berbuat serupa, tekanan terhadap Pemkot Jakarta untuk menyediakan transportasi umum dan pedestrian yang manusiawi pun bisa segera terwujud.

Semoga saya tidak salah memimpikan ini 🙂