Cinematic Street Photography

Saya sering buka-buka galeri street photography karya orang lain, baik di Flickr maupun 500px. Di antara beragam street photography itu, ternyata ada satu genre yang menarik perhatian saya belakangan ini. Istilahnya “cinematic street photography.” Karya foto Jeff Krol dan James Yeung sering jadi acuannya.

Lalu apa uniknya genre ini? Foto hasil karya ini seakan-akan diambil dari potongan film sinema. Anggap saja kalian menonton Bluray atau DVD film sinema, lalu kalian menekan tombol pause. Nah, kalau kalian bisa menghasilkan jepretan foto seperti saat sebuah film sinema di-pause, nah itulah cinematic street photography.

Yang menjadi ciri khasnya (meski tidak wajib), adalah kesan widescreen dari foto. Ukuran gambar (termasuk bar hitam widescreen) dibuat dalam ratio 16:9, dengan foto di dalamnya berukuran ratio 2,35:1. Jepretan foto berupa candid, sesuatu yang tak terduga, dan memang bukan di-pose-kan. Tone foto pun dibuat seperti film sinema (ini sih sebetulnya bagian tersusahnya).

Silakan jenguk group foto ini di Flickr, supaya lebih terbayang. Ada pula tutorial dari David Geffin di sini.

Saya sendiri baru mencoba bereksperimen dengan genre ini. Berikut ini adalah foto yang diambil saat Pawai Seni dan Budaya Kreatif 2014 di Monas beberapa minggu lalu. Saya mengedit tone foto dan menambahkan efek widescreen. Galeri lebih lengkap bisa dijenguk di sini.

[fshow photosetid=72157647395157880]

Jakarta dan Pilkada

Jarang banget saya nulis di blog tentang politik. Tulisan kali ini pun sebenarnya bukan tentang politik. Hanya saya, sebagai warga Jakarta, yang seumur hidup besar di Jakarta, kayaknya perlu juga menyuarakan isi hati.

Ada 2 pilihan saat Pilkada DKI di tanggal 20 September nanti. Pilih Foke – Nara atau Jokowi – Ahok. Saya sendiri bukan simpatisan Jokowi, karena ada satu hal yang selalu mengganjal saya. Saya mendapat kesan kalau beliau terkesan menggampangkan permasalahan di Jakarta. Jakarta loh ya, bukan Solo. Namun saya juga melihat kalau beliau orang yang mau terjun beneran ke lapangan. Alias melihat langsung, dan supervisi langsung, dan memberi tindakan langsung.

Sementara Foke, terlalu banyak kesalahan yang ia lakukan di Jakarta. Jakarta tumbuh dan berkembang memang betul. Nggak mungkin kota nggak akan tumbuh dan berkembang. Namun apakah pertumbuhan ini benar hasil inisiatif dan prakarsa dirinya? Jujur saja, berdasarkan pengamatan saya, Foke baru terasa benar bertindak untuk kepentingan Jakarta baru setahun belakangan ini. Ini pun kemungkinan karena tuntutan untuk mengejar status incumbent-nya.

Seorang Sutiyoso yang menjadi gubernur sebelum Foke, yang juga mendapat kritikan pedas dari banyak pihak, menurut saya malah jauh lebih kompeten memimpin Jakarta daripada Foke. Setidaknya hasil kerjanya terlihat. Sementara Foke lebih cenderung mencari aman, menghindari konflik, dan yang paling menyebalkan, membangun pencitraan dengan memasang wajahnya di billboard kota Jakarta dimana-mana. Setiap kali ada billboard kosong, pasti yang tertampang adalah wajahnya, dengan pose default-nya.

Jakarta butuh pemimpin yang tegas, berani menghadapi konflik, dan siap mental menghadapi cercaan. Jakarta juga butuh pemimpin yang mau turun ke lapangan, mendengarkan dan mencari solusi dengan cepat. Jakarta juga butuh pemimpin yang berani menerobos birokrasi yang menghabiskan banyak uang. Jakarta butuh pemimpin yang hasil kerjanya bisa segera langsung dinikmati oleh stakeholder-nya.

Yang paling penting, karena kompleksnya permasalahan kota, Jakarta butuh pemimpin yang bisa menginspirasi masyarakatnya untuk mau bertindak dan berbuat demi kepentingan kota, dan bukan kepentingan pribadi. Seseorang yang bisa mengajak masyarakatnya untuk sama-sama mengumpulkan energi positif untuk bersama membangun kota. Masalah Jakarta tidak bisa diselesaikan oleh pemimpinnya seorang. Semua stakeholder kota harus ikut bekerja, dan pemimpin kota harus bisa mendorong dan mengakomodasinya.

Siapapun gubernur yang akan menang di Pilkada nanti, saya masih pesimis masalah Jakarta bisa terpecahkan dalam 5 tahun. Macet dan banjir, tak akan tuntas hilang dalam 5 tahun. Nggak akan terjadi kalau masyarakatnya sendiri tidak ikut mengubah perilakunya.

Mau menuntaskan macet? Cobalah inisiatif sekali-sekali menggunakan angkutan umum. Mau bus umum, kopaja, metro mini, TransJakarta, atau Commuter Line. Jangan manja dengan pakai mobil pribadi. Apalagi kalau cuma sendirian menyetir di dalam mobil.

Mau menuntaskan banjir? Mulai dengan perilaku sederhana, jangan buang sampah sembarangan. Saya suka heran dengan mereka yang asyik makan dan minum sambil jalan. Lalu begitu makanan atau minuman habis, mereka membuang bungkusnya sembarangan ke jalan. Kalau lagi enaknya aja, mau dipegang. Begitu habis, lupa akan tanggung jawabnya.

Siapapun pilihan kamu di Pilkada nanti, jangan abstain. Pakai suara kamu. Kalau memang nggak tertarik dengan kedua calon, setidaknya buat kartu suara kamu menjadi tak berlaku, dengan mencoblos semua foto calon. Masih ada 4 hari sebelum Pilkada. Jangan jadikan alasan kalau kamu buta informasi akan masing-masing calon, sebagai alasan kamu tidak memilih. Sudah banyak informasi dan program yang disampaikan masing-masing calon melalui beragam media.

Setiap kali saya memilih, saya selalu berpikir kalau tidak ada orang yang sempurna. Kalau mau menunggu yang sempurna, tidak akan ada yang akan saya coblos sampai akhir hayat. Pilihlah yang terbaik di antara yang terburuk. Kalau ada yang bilang, cakep itu relatif dan jelek itu absolut, maka nggak salah juga kalau analogi serupa saya terapkan saat memilih calon pemimpin Jakarta nanti. Jangan pilih yang jelek, tapi pilihlah yang relatif lebih baik daripada lainnya!