Liburan di Gunung Parang, Purwakarta

Sejak beberapa minggu lalu, saya (mencoba) meniatkan untuk bisa berlibur meninggalkan Jakarta ke manapaun, setidaknya sebulan sekali. Hihi liburan lokal saja deh, nggak usah ke luar negeri seperti sebelumnya. Makanya waktu teman saya di Facebook, Anggun Himawan, membuat undangan terbuka untuk berjalan-jalan ke Gunung Parang, Purwakarta di akhir minggu, saya nggak pikir panjang lagi. Saya langsung ikutan. Nggak tau apa itu Gunung Parang sih sebetulnya. Yang penting liburannya, dan harga patungannya yang di bawah Rp. 400.000,00.

Lalu dua minggu lalu, tepatnya tanggal 28-29 Agustus 2014, perjalanan ke Gunung Parang pun dimulai. Rombongan terdiri dari 8 orang, termasuk Anggun dan Catur, keduanya yang memimpin rombongan ini. Sisa 6 orang lainnya, termasuk saya, berasal dari latar belakang yang berbeda. Ada seorang ibu ekspat yang biasanya mengurus hotel di salah satu pulau di Kepulauan Seribu. Ibu ini sudah menjelajah lebih dari 80 negara, dan selalu menikmati liburan penuh petualangan. Ada pula seorang karyawan asal Taiwan yang berdomisili di Serpong, dan belum banyak berjalan-jalan di Indonesia. Enam orang lainnya, termasuk saya, pekerja kantoran pada umumnya, yang mendambakan sekali-sekali menjauh dari Jakarta.

Perjalanan melewati tol Jakarta – Cileunyi, dan keluar di Purwakarta. Kami mampir sejenak sarapan di Sate Maranggi. Busyet, terakhir kali saya mampir ke tempat yang menjual sate terenak di Purwakarta ini adalah saat kuliah. Dulu tol Jakarta – Bandung belum ada, sehingga rumah makan Sate Maranggi ini selalu ramai, karena menjadi tempat singgah wajib bagi pengemudi sebelum melanjutkan perjalanan. Sate ini terkenal karena semua bumbunya diresapkan dalam dagingnya saat dibakar. Sate ini pun tidak menggunakan bumbu kacang atau kecap seperti layaknya sate lainnya. Inilah yang menjadi kekhasannya.

DSCF1890
Sate Maranggi

Usai sarapan, kami kembali melanjutkan perjalanan hingga tiba di tepian kota Purwakarta. Anggun, sebagai pengemudi, lalu membelokkan mobilnya ke sebuah jalan kecil. Kami melewati jalan pedesaan yang beraspal, lalu berbatu. Sesekali kami berhenti, melihat rombongan sapi yang berjalan lewat atau menyaksikan anak-anak pedesaan yang asyik berenang di kolam alam yang penuh lumpur. Buat mereka, hiburan seperti ini sangat menyenangkan usai pulang sekolah. Mereka pun bisa menjadi anak bandel pula. Hahaha, kalau ada orang tua yang mencari mereka, anak-anak ini lalu membenamkan kepalanya  ke dalam air, supaya tidak ketahuan.

DSCF1922
Kolam alam

Akhirnya kami tiba di Badega Gunung Parang, sebuah kompleks yang menjadi basecamp wisata di lokasi ini. Badega ini merupakan proyek swadaya warga sekitar. Mereka yang membangun sendiri dengan modal bambu, batu, dan pasir yang ada di alam. Setiap orang bisa menginap di sini, menikmati sarapan sederhana kampung yang sehat, sebelum melakukan wisata trekking atau panjang tebing Gunung Parang. Di kalangan para pendaki tebing, gunung ini memang cukup terkenal karena kesulitannya. Kami berdelapan bukanlah para pemanjat tebing. Jadi kami paling hanya akan mengikuti wisata trekking melalui jalur yang lebih mudah.

DSCF1933
Badega Gunung Parang

Di hari Sabtu siang itu, usai istirahat sejenak dan makan siang, kami berjalan-jalan ke sawah-sawah di sekitar. Melewati sawah yang sudah kering dan berjalan di pembatas sawah yang masih basah. Sampai akhirnya kami tiba di lokasi dengan batu gunung yang sangat besar di antara hamparan sawah terbuka. Seorang warga desa yang menjadi pemandu kami, dengan mudahnya memanjat batu raksasa itu tanpa hambatan sama sekali. Hahaha kami yang mencoba agak was-was juga pas naiknya, karena ternyata tinggi sekali.

DSCF2002
Batu raksasa di tengah sawah

Sore hari kami melanjutkan perjalanan ke makam megalithikum. Terdapat sebuah gubuk di dekat makam. Bila ada tamu, gubuk ini bisa dimanfaatkan mereka untuk beristirahat. Seorang warga yang memang menjadi penjaga makam bercerita tentang asal muasal makam tersebut. Disebut megalithikum karena tidak ada warga desa yang tahu asal muasal makam ini. Saat ditemukan, tidak ada identitas apapun. Katanya makam ini sudah berusia ratusan tahun. Makam-makam ini sekarang dirawat oleh warga. Posisi batu makam tetap dibiarkan apa adanya, namun kini pohon-pohon sejuk dibuat menghiasi makam. Si penjaga makam lalu mengantarkan kami ke salah satu mata air di desa ini. Sumber mata air ini yang mengairi banyak sawah warga dan juga menjadi sumber air bagi kehidupan warga.

DSCF2022
Makam Megalithikum

Keesokan paginya acara trekking mendaki Gunung Parang pun dimulai. Awalnya saya mengira trekking ini benar-benar santai, dengan jalan yang lumayan landai. Ternyata, bagian landainya cuma sekitar 70%. Sisanya harus ditempuh dengan memanjat batu-batuan. Nggak esktrim sih tapi tetap saja lumayan tinggi juga. Pas naik, yang terpikirkan adalah, “ini ntar gimana turunnya ya?” Hahaha beneran. Soalnya kalau saya melihat ke bawah, itu kok ya lumayan ngeri ya. Lalu mau tahu bagaimana nanti kami turunnya? Pakai pantat dong. Duduk, glesor, merosot, duduk, glesor, merosot, dan terus ulangi di bagian yang curam.

DSCF2061
Gunung Parang yang akan didaki

Perjalanan dengan trekking ini melewati pohon-pohon tua nan besar, dengan akar yang menjalar kemana-mana. Lumayan keren ini sebetulnya untuk objek foto. Ada beberapa tempat landai yang cukup luas, sehingga memungkinkan kami untuk istirahat sejenak. Sayangnya di tempat-tempat ini, ada saja perilaku pendaki yang tak bertanggung jawab. Beberapa sampah botol terlihat berserakan. Beberapa batu pun terlihat dicat dengan nama, sebagai tanda eksistensi diri kalau sudah mencapai titik ini. Menyebalkan memang.

DSCF2114
Pohon-pohon tua sepanjang jalur trekking

Hampir pukul 12 siang, dan kami belum juga sampai di puncaknya. Beberapa teman serombongan menyatakan ketidaksanggupannya lagi melanjutkan perjalanan. Si pemandu pun tidak mau mengambil resiko dengan meninggalkan mereka yang tidak sanggup. Baginya, semua naik bersama, atau semua turun bersama. Tidak boleh terpisah-pisah. Akhirnya diputuskan untuk turun gunung. Meski kami tidak mencapai puncak, namun tidak masalah. Lebih baik semua orang bisa menikmatinya dengan tersenyum tanpa ada kejadian yang tidak menyenangkan.

Kami pun turun melewati jalur trekking yang sama. Sesampainya di kompleks Badega, kami mandi, istirahat sejenak, makan siang, sebelum melanjutkan perjalanan pulang kembali ke kota Jakarta.

Terima kasih juga untuk Anggun dan Catur yang mengatur perjalanan ini. Kalau kalian tertarik, kalian bisa jenguk website DesaDeso.com milik mereka. Mereka setiap bulan selalu bikin acara liburan lokal ke desa-desa menarik yang tak jauh dari Jakarta. Liburan lokal semacam ini cocok banget untuk warga Jakarta yang sesekali ingin menghirup udara segar tanpa polusi, tapi hanya punya waktu di hari Sabtu dan Minggu saja.

Foto-foto lengkap tentang liburan ke Gunung Parang bisa dilihat di galeri Flickr ini, atau lihat salindianya saja di bawah ini.

[fshow photosetid=72157647110305420]