Percaya

Jarum berdetak, tengah malam pun akan segera berganti. Perasaan perempuan itu semakin tak menentu. Ia berharap waktu bisa berhenti, dan selamanya ia berada di titik masa itu. Ia tahu hal itu tak akan mungkin terjadi. Yang bisa ia lakukan hanya menatap jarum sambil memeluk erat badannya sendiri. Tatapan cemas matanya memancarkan kerisauan yang melanda hatinya kala itu.

Jarum pendek dan panjang pun bersatu di malam hari. Tanggal dalam setahun ini selalu saja membuat dirinya selalu merasa sepi. Sebelum ia merasakan kegalauan lebih dalam, si perempuan memutuskan untuk mengurung dirinya dalam selimut. Menghindar dari nyata, dan melelapkan diri dalam impian.

Belum juga ia memejamkan mata, ponsel di sampingnya berdenyut. Sebuah pesan singkat dari sahabatnya, “Dirimu tak perlu sedih di hari kasih sayang ini. Sejenak lagi, pasangan sejati akan menghampiri dan memberimu cinta abadi. Yang kamu perlukan hanyalah PERCAYA.”

Kepada Rasa Sepi

Teruntuk kamu, yang sekarang mengisi penuh hati ini.

Kapankah kamu mau meninggalkan rasa sesak di hati ini? Menjauh sana! Pergi! Aku sangat berharap kalau kamu tak kembali lagi!

Meski sebetulnya aku tahu, kamu tak akan bisa pergi dengan sendirinya. Kamu hanya bisa diusir dengan keberadaan rasa suka, dan dengan kembalinya rasa bahagia. Kalau para perasa itu datang, kamu pasti akan beranjak pergi dengan sendirinya. Bahkan tanpa perlu aku suruh.

Saat ini kamu masih mengisi ruang yang sudah sesak di hati ini. Kamu tak mau mengalah, membiarkan para perasa untuk datang dan mengusirmu. Aku jadi sebal. Dengan adanya kamu, pikiranku selalu terbawa ke masa lalu, mengingat-ingat cerita lama, yang ujung-ujungnya hanya akan membuat kamu semakin betah menyesakkan hati.

Ayolah, segeralah kamu lepaskan perekatmu! Aku tak ingin kamu ada lagi di sini. Aku ingin si suka dan si bahagia yang menggantikan kamu. Aku ingin mereka yang merekatkan jemari mereka di hati ini.

Kepada rasa sepi, kumohon sekali lagi. Cepatlah pergi…

Mimpiku akan Masa Depan

Hai teman,

Kamu pasti akan terkejut membaca ceritaku ini. Tadi pagi saat aku duduk di sebuah taman, seorang perempuan tua berjalan mendekatiku. Aku tak kenal siapa dia, namun entah kenapa aku langsung percaya saat mendengar perkataannya. Nada suaranya terdengar ramah. Ia menemaniku duduk di rumput hijau.

Si perempuan tua ini lalu memintaku menunjukkan telapak tanganku. Aku pun menurut. Hanya dengan membaca guratan tangan, ia langsung mengenaliku luar dalam. Usiaku sekarang, sakit yang pernah kuderita, kisah hati yang kurasakan baik suka maupun duka, hingga hubunganku dengan keluargaku. Aku agak khawatir mendengar semua ini, namun tetap saja, rasa penasaran mendorongku untuk lebih banyak mendengar setiap perkataannya.

Sebelum melangkah pergi, ia memberiku sebuah apel merah. Ya apel merah. Pikiranku kok langsung teringat dengan kisah Putri Tidur. Ia berpesan agar aku memakan apel ini saat aku pulang nanti. Katanya, aku akan tertidur sesaat aku memakannya. Dalam mimpi aku akan mendapatkan gambaran masa depan tentang siapa jodohku dalam hidup ini, dan apa-apa saja yang akan aku lakukan dengannya. Aku cuma tersenyum. Tanpa bermaksud menghina dengan mengatakan tak percaya, aku terima saja apel itu sambil berucap terima kasih.

Malam itu sebelum tidur, aku lama memandang apel merah di meja samping tempat tidurku. Antara percaya dan tidak. Antara keraguan apakah apel ini beracun atau tidak. Akhirnya aku putuskan untuk mengunyah habis apel itu, tanpa pikir panjang. Aku baringkan tubuhku dan memejamkan mata. Tak ingat berapa lama, namun aku yakin aku langsung tertidur pulas saat itu.

Saat aku terbangun esok paginya, semua isi mimpiku tergambar dengan jelas. Aku ingat setiap detilnya, seakan semuanya nyata. Kamu mau tahu apa yang kuimpikan? Percaya atau tidak, wajah kamulah yang selalu muncul dalam mimpiku.

Dalam mimpiku, aku menulis surat ini. Persis surat dengan kamu baca saat ini. Aku melihat kamu kaget, lalu tersenyum dan tertawa kecil saat membacanya. Lalu aku ingat kita berdua duduk di sebuah rumah makan dengan nyala lilin menerangi meja. Dalam mimpiku kamu terlihat sangat manis, parasmu tampak cantik dalam kesederhanaan riasan. Kamu mengenakan gaun merah terang. Kita tertawa berdua saat berbagi cerita. Aku rasa kita punya banyak kesamaan, mengingat kita tak pernah berhenti bicara dalam mimpiku malam itu.

Aku ingat dalam mimpiku kita juga berjalan di tepi pantai, bergandengan tangan. Kita juga sempat berdebat kencang, namun semua emosi kekesalan hilang saat kita berdua berpelukan. Banyak hal yang aku lihat dalam mimpi. Semua suka, semua duka, semua kesempatan, semua tantangan, bercampur baur dalam masa depan yang mungkin ada. Semua cerita yang tak akan habis kutuliskan dalam surat ini.

Kamu mungkin panik membaca surat ini, atau bahkan takut, mengingat kita berdua hanyalah teman biasa. Kita bahkan tak pernah sekalipun pergi berdua. Aku bahkan tak tahu apakah kamu akan percaya isi suratku ini. Namun kamu tahu? Aku akhirnya memberanikan diri untuk menuliskan surat ini, seperti yang kuingat dalam mimpi. Aku tak peduli apakah setelah ini kamu akan membenciku.

Namun maukah kamu memberiku kesempatan untuk mengenalmu lebih dekat? Maukah kamu menemaniku pergi bersama di suatu malam nanti? Maukah kamu mendengar ceritaku lebih jauh? Karena jelas aku ingin mendengar kisah hidupmu lebih jauh.

Kamu boleh menjawab tidak, dan aku pun tak akan memaksa lebih lanjut. Namun kamu boleh menjawab ya, dan mencoba apakah memang kita berdua ditakdirkan bersama di masa depan.

Aku sungguh berharap kamu mau menjawab ya.

Kisah dari Hati

Hai, bagaimana kabarmu hari ini? Ya, aku tahu ini memang pertanyaan standar, membosankan, dan kamu pasti jengah ditanyakan hal-hal seperti ini. Aku hanya berharap kamu dalam kondisi sehat. Beberapa hari tak melihatmu muncul di linimasa membuatku merasa kehilangan. Ya, ya, ya, terdengar lebay memang. Namun bukankah rasa rindu selalu diikuti dengan perkataan yang sungguh lebay?

Tahukah kamu sejak kita pertama berjumpa dulu, aku menaruh perhatian pada dirimu? Pastilah kamu tahu, karena sejak beberapa hari setelah itu, aku aktif bercerita denganmu. Aku pun senang saat kamu mau berbagi kisah tentang dirimu. Hampir setiap malam kita berbicara di dunia maya. Kamu sungguh manis dan menyenangkan. Kadang kamu terdengar kompleks memang, tapi mungkin itulah yang membuatmu terlihat menarik.

Aku menyayangkan karena kita jarang bertemu. Saat kita bertemu pun aku merasa tidak maksimal. Mungkinkah karena aku peragu? Atau mungkinkah karena ini asliku? Seseorang yang hanya lihai bermain kata di ranah maya, tapi sulit mengumpulkan keberanian untuk berucap kata dengan seseorang yang kusuka?

Masa telah cukup lama berlalu sejak pertama kita berjumpa. Semakin lama aku merasa dirimu semakin menjauh. Memang pasti ini salahku juga. Tak pernah berani mengucap kata itu, baik di dunia maya maupun saat bertatap mata. Bisa jadi kamu mulai bosan/bingung membaca maksudku. Bisa jadi kamu memang jengah melihat ulahku. Atau bisa jadi kamu memang tak punya perasaan serupa. Aku tak tahu.

Melalui surat ini, aku memberanikan diri (ataukah ini mengecutkan diri ya?) untuk menyampaikan isi hatiku kepadamu.

A-k-u S-u-k-a K-a-m-u.

Ya, aku suka dengan dirimu, dengan pribadimu, dengan hal-hal yang lekat pada dirimu, baik kekuatanmu maupun kelemahanmu. Perkenankan aku untuk membantumu meraih misimu. Perkenankan aku untuk membuatmu tersenyum di kala kamu berduka. Perkenankan aku untuk menyukaimu apa adanya. Dan perkenankan dirimu untuk membuka hatimu untukku, dan membantuku menjadi orang yang lebih jujur dengan perasaanku.

Mungkin tidak ada bunga yang menjadi pengiring ucapan ini. Mungkin tidak ada cokelat yang menjadi teman saat kamu membaca surat ini (lagi pula bukankah kamu seharusnya tidak boleh makan cokelat dahulu?). Mungkin saat kita bertemu lagi nanti, aku pun masih akan terbata-bata di hadapanmu. Bahkan mungkin aku akan salah bersikap dan gugup saat menatap wajahmu.

Aku hanya berharap surat ini bisa menjadi pembuka segala yang terbaik bagiku (dan mudah-mudahan bagimu pula).

Salam rinduku untukmu.