Janji Untuk Bersama

“Aku nggak mau ikut denganmu, Mas!” tukas Maya sambil melaju mobilnya di jalur tol Kota – Tanjung Priok, yang berada sekitar 50 meter dari permukaan tanah. Saat itu tengah malam, jalan tol pun terlihat lengang. Kecepatan laju mobil mencapai 80 km/jam.

“Maya, ayolah ikut denganku. Kamu masih cinta kepadaku, kan?” tanyaku yang duduk di bangku sebelah pengemudi.

“Masa kita sudah lama berlalu, Mas,” kata Maya. Matanya terus menatap ke jalan. Ia tak berani menatapku. “Kamu tahu, Mas. Hatiku sangat terluka saat kamu dulu pergi meninggalkanku. Aku tak ingin mengalaminya untuk kedua kali.”

“Maya, aku mau mengajakmu ke tempat-tempat indah, yang tak pernah kamu bayangkan sebelumnya,” aku terus membujuknya. “Kalau kamu ikut denganku, aku jamin kita tak akan berpisah kembali.”

“Mas, kamu gila ya?” kata Maya. Klakson bermain saat Maya menyusul sebuah truk besar dari sisi kanan. “Bagaimana mungkin aku tinggalkan semua kehidupanku di sini? Tidak, Mas. Tidak. Aku tidak mau.”

“Maya, kamu ingat kan janji kita dulu?” tanyaku. “Betapapun lamanya waktu memisahkan kita, aku berjanji akan selalu kembali untukmu. Kini aku datang kepadamu untuk menepati janjiku.”

Maya hanya terdiam. Hatinya galau, ia tak bisa berpikir jernih. Maya teringat saat dulu aku mengutarakan janjiku. Tanpa sadar, kepalanya tertunduk. Air mata mengalir membasahi pipinya. Maya menghela nafas. Ia tak ingin kesedihan lamanya terungkit kembali. Sejenak Maya memejamkan matanya, lalu mencoba mengembalikan fokus perhatiannya ke kendali mobil. Namun terlambat, kekalutan batinnya selama 10 detik membawanya bencana.

Mobil kami masih melaju kencang. Maya tak sempat lagi mengerem saat mobil berayun ke kiri dan menabrak batas jalan. Dengan kecepatan 100 km/jam, mobil kami langsung terlempar ke luar jalan tol, terbang 50 meter di atas tanah, sebelum menghujam kencang kepala terlebih dahulu. Tak sempat keluar jeritan sama sekali dari mulut kami.

Badan Maya hancur terjepit di antara badan mobil. Sungguh aku tak tega melihatnya, namun aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku melayang, menembus bangkai mobil yang ringsek dari depan hingga belakang. Aku angkat diriku, agak jauh melayang di atas mobil. Aku kini hanya bisa menunggu.

“Mas…? Mas…?”

Suara Maya! Sesosok tubuh perempuan berwarna putih transparan terlihat keluar menembus badan mobil. Aku tersenyum lebar. Aku melayang turun menyambut tangan Maya.

“Sekarang, apakah kamu sudah siap untuk pergi bersamaku?” kataku sambil menggandeng erat kedua tangan Maya.

“Kali ini aku siap, Mas,” kata Maya. “Ajak aku ke tempat-tempat indah yang pernah Mas kunjungi ya..”

“Tentu,” aku mengecup kening Maya. Kurangkulkan tanganku di pinggangnya, dan kami berdua pun melayang tinggi menembus langit malam.

10.10.10

Tanggal sepuluh, bulan sepuluh, tahun dua ribu sepuluh.
Angka cantik bermakna ragam sepuluh.
Usiaku kini sudah empat kali sepuluh.
Kujalani hubungan kasih bersama istriku hingga tahun kesepuluh.
Istri tercinta yang kupilih sejak ia menjadi pacar yang kesepuluh.
Bersamanya di kebun aku kini memasang papan kayu kesepuluh.
Lalu aku goreskan di permukaan batangnya turus sepuluh.
Tempat kami akan lakukan ritual tahunan tanda cinta yang kesepuluh.
Saat kami akan bercinta hingga kali sepuluh.
Memadu nafsu hingga hitungan menit kesepuluh.
Di depan papan kayu, di atas gundukan tebal tanah yang kini berjumlah sepuluh.
Berisikan kumpulan mayat manusia yang sudah kami bunuh di tahun sepuluh.
Tak ada yang lebih istimewa dan cantik memang dari 10.10.10.

Keputusan Penting dalam Hidupku

Malam itu terasa menyenangkan. Bulan purnama kuning terang terlihat tinggi di jendela loteng. Bintang-bintang bertaburan menghiasi langit yang membiru. Udara sejuk sesekali terasa menghembus masuk ke dalam ruangan. Aku melamun terbaring menatap loteng, memperhatikan bulan yang kini mulai sedikit tertutup awan. Tanganku merangkul Natalie yang dengan manja menggelayutkan tangannya di dadaku.

“Nat, terima kasih ya kamu mau menemaniku malam ini,” ujarku.

“Ah Will, kamu bisa saja. Kapan sih aku pernah meninggalkanmu?” Natalie berkata manja.

“Hmm, belum pernah sih,” aku mendekatkan Natalie ke badanku. Kukecup kening Natalie.

“Will, tahukah kamu sudah berapa lama kita bersama?” mata Natalie menatap mataku dengan manja. Aku selalu suka kala Natalie menatapku seperti ini, membuat diriku terasa penting bagi dirinya.

“Hmm, baru setahun bukan?” kataku bercanda.

“Ah kamu suka sok lupa deh. Besok kan sudah hari jadi kita yang kelima, Will.”

“Haha, tentu saja aku ingat, sayang.”

Aku lalu mengangkat badanku, mencoba duduk di tempat tidur.

“Nat, kita kan sudah lama berpacaran. Hubungan kita sudah sangat serius. Melanjutkan apa yang kita bicarakan minggu lalu, apakah kamu sudah siap kalau kita sekarang melangkah lebih lanjut?”

Natalie pun ikut terbangun. Ia duduk menghadapku di atas tempat tidur, tersenyum. Senyuman nakal yang sangat khas dan membuatku ingat selalu akan dirinya.

“Will, apa lagi yang harus aku katakan? Aku mencintaimu. Aku tak akan bisa hidup tanpa dirimu. Kamu sudah menjadi bagian dari diriku.”

“Jadi, kamu sudah siap?” tanyaku. “Karena keputusan ini adalah sesuatu yang sangat penting bagi diriku, dan tentunya juga bagi dirimu. Keputusan yang tak akan bisa kita batalkan lagi sepanjang hayat hidup kita.”

“Aku sudah lama memikirkan hal ini, Will,” jawab Natalie. “Ya, kali ini aku siap. Aku sudah yakin akan pilihan ini. Hal apapun yang nanti kita hadapi, aku percaya kita akan bisa menjalaninya bersama dengan penuh cinta.”

Aku pun memegang kedua pundak Natalie. Tersenyum. Wajah Natalie tak menunjukkan keraguan sedikit pun. Aku melihat tekadnya kini sudah mantap.

“Terima kasih, Natalie. Aku berjanji tak akan mengecewakanmu.”

Aku mendekatkan tubuh Natalie ke diriku. Kukecup bibirnya hangat. Mata Natalie pun terpejam. Kugerakkan bibirku turun. Menciumi dagunya, lehernya dengan mesra.

Aku angkat bibirku sejenak. Kubuka mulutku, dua taring tajam muncul perlahan, dan dengan cepat kugigit leher Natalie hingga darah merah segar terlihat mengalir. Kuhisap darahnya dengan perlahan. Lalu aku kembali mencium bibirnya, mengalirkan darah yang bercampur dengan ludahku ke bibirnya. Mata Natalie masih terpejam. Aku merasakan badannya mulai melemas. Aku rebahkan dirinya perlahan di tempat tidur.

“Natalie, kuucapkan selamat datang di duniaku…”

Malam Romantis Santi dan Nina

Santi meredupkan lampu, menyisakan cahaya lilin menghangati ruang kamarnya. Suasana terasa romantis saat itu. Lilin-lilin cantik menerangi di sekeliling kamar. Putaran senandung lagu klasik dari CD favoritnya sungguh menenangkan hatinya. Saat itu Santi mengenakan gaun malam cantik, sedikit terlihat transparan di balik terang cahaya lilin. Santi berjalan mendekati tempat tidur. Nina, sahabatnya sedang tertidur pulas di atasnya.

Santi lalu duduk di tepi tempat tidur, mengamati Nina dengan tersenyum. Santi sungguh sayang dengan sahabatnya. Ia memegang kepala Nina, dan mengelus-elusnya perlahan. Elusan lembut ini membuat Nina tersadar, sedikit membuka matanya, dan memandang Santi sejenak.

“Sudahlah, Nina sayang. Kalau kamu masih mengantuk, kamu lanjutkan tidur saja,” kata Santi dengan perlahan. Tangannya masih mengelus-elus kepala Nina.

Nina terlihat senang dengan perhatian Santi. Ia menggerakkan badannya, lalu menaruh manja kepalanya di pangkuan Santi.

“Nina, kamu tau kan kalau aku selalu menyayangimu?” Santi mengecup kening Nina. “Aku ingin malam ini kita habiskan berdua saja denganmu. Apapun yang kamu minta, aku akan berikan untukmu.”

Nina menatap wajah Santi. Tersenyum senang.

“Kamu sayang padaku kan, Nina?”

Nina merasa tak perlu menjawab itu. Ia mengangkat badan, dan mendekatkan kepalanya ke dada Santi.

“Hmmm… Nina… Kamu nakal…”

Nina terus mencondongkan tubuhnya, membuat Santi tak kuasa menahan bebannya. Santi pun jatuh terbaring di atas tempat tidur, dengan Nina berada di atasnya. Mata Nina dan Santi kini saling bertatapan. Nina mendekatkan mulutnya ke bibir Santi. Alunan musik klasik terus berayun. Kedua bibir mereka hampir menempel, hingga tiba-tiba Santi mendorong tubuh Nina hingga hampir terpental.

“Astaga, Nina!!! Sudah berapa kali kubilang, kalau pup jangan di atas tempat tidur. Keluar dulu dari kamar!”

Santi mengusir kucingnya itu dari tempat tidur. Rusak sudah malam romantis yang direncanakannya.