Surat dari Masa Depan

20 Oktober 2010

Pagi yang menyenangkan untuk Rudi. Hari itu jalan Jakarta agak terasa lengang. Ia bisa tiba tepat waktu di kantornya. Dengan sopan, Rudi menyapa beberapa kerabat kerjanya saat ia berjalan menuju kubikelnya. Tangan kirinya memegang secangkir kopi hangat.

Rutinitas pagi Rudi seperti biasa, mengecek email kantor sembari menikmati aroma kopi. Beberapa email segera ia balas, beberapa lagi ia beri marka, untuk ia teruskan ke atasannya. Beberapa email sampah yang lolos dari filterisasi sistem kantor, langsung ia hapus. Saat Rudi hendak menghapus, matanya tertuju kepada satu email. Ada alamat pengirim jelas, dengan subjek yang membuatnya penasaran, “Rudi Satya, Anda harus waspada.” Rudi membuka isi email, dan perlahan membacanya.

Selamat pagi, Rudi Satya.

Saat Anda menerima email ini, Anda seharusnya sedang berada di balik kubikel Anda sembari minum secangkir kopi hangat. Anda pasti sukar percaya, kalau saya mengirimkan email ini dari tahun 2020. Lebih tepatnya, 20 Oktober 2020. Saya hendak menyampaikan beberapa hal penting yang akan menentukan hidup Anda dan umat manusia di 10 tahun mendatang. Saya sangat berharap Anda percaya akan isi surat ini, dan Anda mau berupaya sebisa mungkin untuk mewujudkan semua hal ini.

Pertama, pastikan penciptaan teknologi inti plasma yang kini sedang Anda kerjakan di kantor Anda bisa selesai sempurna sebelum awal tahun 2013. Teknologi ini akan menjadi perintis media pengiriman pesan antar-waktu. Sangat krusial Anda bisa menyelesaikannya pada tahun tersebut.

Kedua, sebelum tahun 2015 berakhir, Anda harus mengupayakan agar suara Anda dikenal seluruh masyarakat dunia. Anda harus bisa menjadi corong komunikasi yang bisa menyatukan umat bumi. Di bulan Juni 2015, bumi akan kedatangan makhluk asing, yang akan mengirimkan unit-unit militernya ke 50 kota utama dunia. Suara Anda berperan penting untuk membantu warga dunia mencintai perbedaan di antara mereka. Suara Anda harus mempunyai kekuatan untuk bisa menyatukan masyarakat dunia menghadapi serbuan makhluk asing.

Ketiga, perkuat fisik diri Anda sejak dini, karena masa depan yang akan Anda hadapi sungguh berat, dan akan menguras jasmani dan rohani Anda.

Saya berharap Anda mengikuti pesan saya ini, karena nasib bumi di masa datang sepenuhnya ada di tangan Anda.

Rudi Satya.

Rudi tersenyum saat membaca email ini. Yang terpikirkan pertama kali, siapa yang iseng dan niat mengirimkan email seperti ini? Ah, sudahlah, pikir Rudi, ini semua omong kosong. Ini hanya variasi tipuan email yang ujung-ujungnya minta uang. Jari Rudi menekan tombol delete, dan email itu pun terhapus dari mailbox. Rudi langsung lanjut membaca email pekerjaan yang menunggunya.

20 Oktober 2020

Rudi bersembunyi di balik kepingan besi raksasa. Ia berharap para makhluk asing tak menemukannya di balik kegelapan bayangan ini. Jari-jarinya dengan cepat mengetik di atas tablet transparan tipis. Ia lalu mengaktifkan pemancar waktu yang tertanam di atas tablet. Lampu kerlip hijau menunjukkan koneksi pemancar aktif. Rudi menekan tombol enter dan email yang diketikkannya pun terkirim ke masa lalu.

Sebuah makhluk berwajah menyeramkan, berkulit hijau, dan berkaki empat tiba-tiba muncul di hadapan Rudi. Makhluk itu mengangkat senjatanya. Sinar biru tajam keluar dari ujungnya, menghajar kilat tubuh Rudi. Tak sempat menjerit, badan Rudi pun hancur menjadi abu. Si makhluk lalu mengangkat salah satu kaki depannya dan menginjak tablet Rudi hingga hancur. Sebelum tablet padam, sebuah tulisan sempat muncul di layar, “Pesan telah terkirim ke tanggal 20 Oktober 2010.

Harapan di Akhir Masa

Tami berjalan terseret-seret di atas reruntuhan puing. Sisa-sisa kekacauan masa lalu meninggalkan rekam jejaknya hingga kini. Gedung-gedung yang tak lagi berjendela, bahkan tak berdinding merupakan pemandangan biasa. Jalan besar yang konon dahulu dilalui kemacetan kini tampak sunyi. Sisa-sisa mobil berserakan tak beraturan, dengan debu tebal menempel kering sejak lama di permukaannya. Debu kering bertiup setiap saat. Panas udara benar-benar tak tertahankan, sungguh menyakiti kulit.

Di balik kacamata hitam tebalnya, Tami menatap langit yang berwarna merah pucat. Warna kematian yang membinasakan keluarga dan sahabat Tami satu demi persatu. Tami merapihkan syal yang menutup mulut, menjaganya dari angin panas kering yang menusuk. Bajunya terlihat lusuh, penuh jahitan di segala sisi. Tambalan seadanya terlihat pada sambungan lengan yang menutupi seluruh tangannya dari siksaan matahari. Sarung tangan tebal menutup kedua telapak tangannya. Badan Tami tertutup sepenuhnya dari ujung kaki hingga ujung rambutnya yang kucel tak terawat.

Kaki Tami yang luka membuatnya tak bisa berjalan cepat. Ia bergerak perlahan menyeret kakinya satu persatu. Beban ember tertutup berisi air yang dipegang di tangannya ikut menambah sulit geraknya. Air sudah menjadi bahan langka dan mahal. Tami berjalan perlahan, menjaga tak ada isi ember yang tertumpah.

Melewati gundukan puing-puing kehancuran, Tami terus berjalan terseret. Ia melewati tempat yang tertutup oleh pagar seng berkarat. Warna merah matahari memantul silau di beberapa bagian permukaan pagar itu. Salah satu sudut pagarnya terlihat berlubang di bagian bawah, cukup dilewati oleh badan Tami yang mungil. Tami mendorong embernya masuk ke dalam lubang, lalu ia pun ikut menyusul masuk.

Permukaan tanah di dalam pagar terlihat kering dan retak-retak. Kulit tanah terlihat pucat seakan kematian siap merenggutnya. Tami mengangkat kembali embernya, lalu berjalan menyusuri pagar hingga sampai di salah satu sudutnya. Bayangan tumpukan besi tua sedikit membuat sudut itu terasa teduh. Tami membuka penutup embernya. Air yang tak begitu jernih mengisi ember tersebut.

Sejenak Tami bimbang. Ia sungguh tergoda menikmati kesejukan air itu. Bukan, bukan ini tujuannya ke sini, pikirnya. Ia harus tetap bersiteguh akan niatnya.

Tami membuka sarung tangannya. Di balik keteduhan tumpukan besi tua itu, panas matahari masih terasa menusuk kulit telapak tangannya. Rasa panas yang langsung berganti dengan sejuk saat Tami mencelupkan kedua tangannya ke dalam ember. Di balik syalnya, Tami mengambil nafas panjang. Dengan kedua tangannya, ia mengambil air. Sangat perlahan air yang tertampung di telapak tangannya ia teteskan.

Sebuah bunga mawar terlihat mekar indah menerima tetesan air segar. Sebuah bunga di antara deretan bunga-bunga indah lainnya yang sudah dianggap musnah oleh manusia sejak ratusan tahun lalu. Tami pun bergantian meneteskan air hingga semua bunga mendapat ikut merasakan kesejukan.

Kamu hanyalah bunga, namun kamu juga adalah kehidupan. Kamu berhak mendapat hak hidup dan bertahan dari kiamat dunia. Aku percaya masih ada harapan bagi dunia yang rusak ini. Aku mau kita bersama menjadi bukti, kalau kehidupan tak akan pernah berakhir dari bumi.”

Ucapan yang selalu berulang kali terlontar dari hati Tami, setiap kali ia punya kesempatan untuk membantu makhluk hidup lainnya di bumi ini.

76 Tahun Sekali

1986, di sebuah warung tegal.

Fani terlihat sibuk melayani pelanggannya. Wajar saja, waktu sudah menjelang makan siang, apalagi warteg milik keluarganya ini adalah warteg terfavorit di tepian jalan Ciputat Raya. Meski panas, tak ber-AC, warteg ini memang terkenal karena menunya yang sangat bervariasi dan harganya yang murah. Fani pun dikenal sebagai orang jujur dan pekerja keras, hal penting yang membuat semua pelanggan tetap percaya kepadanya.

Pengunjung warteg ditemani oleh suara dari televisi yang menayangkan berita siang. Pembawa berita bercerita kalau malam itu komet Halley akan kembali melintas mendekati bumi. Komet yang hanya muncul setiap 76 tahun sekali ini agak sulit dilihat oleh mata, karena posisinya kini berada di balik matahari. Namun pastinya akan menjadi studi para astronom sedunia untuk pembelajaran fenomena alam semesta.

Seorang pemuda terlihat memasuki warteg, dan langsung terpaku akan berita di televisi.

“Mas mau pakai apa?” tanya Fani mengejutkan lamunan pemuda tersebut.

“Eh maaf Mbak,” jawab si pemuda. “Aku minta nasinya setengah saja. Lalu sayur asem. Minta teri dan telor dadar juga ya.”

“Minumnya apa, Mas?” tanya Fani sambil mengisi piring dengan menu pesanan dari rak kaca di hadapannya.

“Es teh manis saja, Mbak. Soalnya udaranya panas banget.”

Pemuda itu duduk di bangku yang berada persis depan rak kaca makanan. Ia menerima es teh manis buatan Fani.

“Terima kasih, Mbak. Wuih, wartegnya ramai sekali ya?”

“Iya, Mas. Setiap siang selalu seperti ini. Mungkin karena banyak pelanggan yang sudah lama, bahkan sejak ibu saya yang dulu mengelolanya.”

Fani menjawab pertanyaan pemuda itu dengan ramah, namun tangannya tetap sigap mengambilkan menu untuk pelanggan lainnya.

“Ibunya di mana sekarang, Mbak?” tanya si pemuda sambil asyik menyuap nasi dari piringnya.

“Ibu saya sudah meninggal dua tahun lalu, Mas. Sekarang saya yang mengelola warteg ini,” jawab Fani.

“Oh, maaf Mbak, saya nggak tahu…” pemuda itu menunduk. Ia melihat Fani mengenakan leontin perak berbentuk lingkaran. Ada grafiran mirip tulisan di atasnya.

“Nggak apa-apa kok, Mas,” Fani tetap tersenyum.

“Maaf, Mbak, kalau saya terdengar mengganggu. Saya tadi memperhatikan leontin yang Mbak pakai. Apakah Mbak tahu tulisan yang tergrafir di atasnya?”

Tiba-tiba Fani menaruh piring yang sedari tadi ia pegang. Ia lalu memegang leontin yang dikalungkannya setiap hari.

“Kenapa memangnya, Mas?” Fani mulai curiga.

“Saya sempat belajar Bahasa Sumeria, Mbak. Sepertinya tulisan di leontin itu huruf Sumeria.”

Fani agak ragu dengan perkataan pemuda itu, meski di balik batinnya ia punya rasa penasaran. Leontin ini adalah peninggalan ibunya, dan neneknya lagi sebelum itu. Saat ibunya meninggal, leontin ini menjadi miliknya, seperti ibunya mendapatkan warisan leontin ini dari nenek Fani. Ibunya sendiri cuma berpesan agar Fani selalu mengenakannya setiap saat. Hingga kini Fani sendiri tidak pernah paham arti coretan grafir di leontin itu.

“Dilihat dari sini saja ya, Mas,” Fani menunjukkan leontin itu di depan wajah si pemuda.

“DAMKIANNA,” kata si pemuda.

“Kenapa, Mas?” tanya Fani.

“Damkianna. Itu tulisan di leontin Mbak. Terjemahan bebasnya ‘Putri Bumi dan Surga’. Mbak punya leontin unik, mengingat sudah tidak ada lagi bangsa di bumi ini yang menggunakan Bahasa Sumeria. Jaga baik-baik ya, Mbak.”

“Hmm, terima kasih, Mas,” Fani penasaran, apa maksud kata-kata itu bagi dirinya ya? Kenapa neneknya, lalu ibunya mewariskan leontin ini kepadanya, tanpa pernah menjelaskan artinya?

“Oh ya, jadi berapa ini semua?” si pemuda itu mengagetkan Fani dari lamunan.

“Sebentar, nasi, sayur, teri, telor dadar ya? Seribu dua ratus rupiah, Mas.”

Pemuda itu mengeluarkan uang dari dompetnya dan berjalan ke luar warteg.

“Terima kasih ya, Mbak. Sukses untuk wartegnya,” kata si pemuda sambil tersenyum senang.

“Kembali, Mas. Mampir-mampir lagi ya…” seru Fani.

Di luar warteg, pemuda itu menatap sekali lagi ke arah Fani, lalu lanjut melangkahkan kaki. Ia membuka kerah bajunya dan mengeluarkan leontin berwarna perak dari baliknya. Leontin ini persis serupa dengan yang tadi dikenakan oleh Fani. Sambil memegang erat leontin, pemuda itu berkata perlahan.

“Nia, cucu kita telah dewasa sekarang. Meski aku cuma bisa ke bumi setiap 76 tahun sekali, aku senang generasi penerus kita lahir sebagai generasi yang jujur dan pekerja keras. Bumi ternyata masih punya harapan.”

Pemuda itu melirik kembali ke arah warteg, lalu sekilas cahaya terang menyelimutinya.

“Terima kasih, Fani,” dan pemuda itu pun lenyap.