Marthina Meliana – Home Run

Mestinya postingan ini dibuat beberapa bulan lalu sih ya, karena teaser lagu Home Run ini diperkenalkan oleh Marthina Meliana (alias Meli) sudah sejak bulan Juni. Teaser lagu ini tidak menampilkan isi lagu, tapi lebih sebagai prolog atau overture dari tema lagunya. Lagunya sendiri dibawakan oleh Meli pertama kali saat event Happy Kingdom Fest, 13 Juni 2015.

Shooting video teaser lagu Home Run ini sepenuhnya dilakukan di Senayan. Kak Evanggala Rasuli yang mengarahkan, dan kak Bimo Kusumajati yang mengambil gambarnya. Saya juga berada di situ jadi tukang bantu-bantu, sambil motretin Meli saat shooting.

Meli juga baru saja merilis satu lagu baru berjudul Rewind. Versi pendek lagu Rewind bisa dicek berikut ini:

Lalu berikut ini saya share beberapa foto Meli saat shooting Home Run:

Marthina Meliana

Marthina Meliana

Marthina Meliana

Marthina Meliana

Marthina Meliana

Marthina Meliana

Liburan di Gunung Parang, Purwakarta

Sejak beberapa minggu lalu, saya (mencoba) meniatkan untuk bisa berlibur meninggalkan Jakarta ke manapaun, setidaknya sebulan sekali. Hihi liburan lokal saja deh, nggak usah ke luar negeri seperti sebelumnya. Makanya waktu teman saya di Facebook, Anggun Himawan, membuat undangan terbuka untuk berjalan-jalan ke Gunung Parang, Purwakarta di akhir minggu, saya nggak pikir panjang lagi. Saya langsung ikutan. Nggak tau apa itu Gunung Parang sih sebetulnya. Yang penting liburannya, dan harga patungannya yang di bawah Rp. 400.000,00.

Lalu dua minggu lalu, tepatnya tanggal 28-29 Agustus 2014, perjalanan ke Gunung Parang pun dimulai. Rombongan terdiri dari 8 orang, termasuk Anggun dan Catur, keduanya yang memimpin rombongan ini. Sisa 6 orang lainnya, termasuk saya, berasal dari latar belakang yang berbeda. Ada seorang ibu ekspat yang biasanya mengurus hotel di salah satu pulau di Kepulauan Seribu. Ibu ini sudah menjelajah lebih dari 80 negara, dan selalu menikmati liburan penuh petualangan. Ada pula seorang karyawan asal Taiwan yang berdomisili di Serpong, dan belum banyak berjalan-jalan di Indonesia. Enam orang lainnya, termasuk saya, pekerja kantoran pada umumnya, yang mendambakan sekali-sekali menjauh dari Jakarta.

Perjalanan melewati tol Jakarta – Cileunyi, dan keluar di Purwakarta. Kami mampir sejenak sarapan di Sate Maranggi. Busyet, terakhir kali saya mampir ke tempat yang menjual sate terenak di Purwakarta ini adalah saat kuliah. Dulu tol Jakarta – Bandung belum ada, sehingga rumah makan Sate Maranggi ini selalu ramai, karena menjadi tempat singgah wajib bagi pengemudi sebelum melanjutkan perjalanan. Sate ini terkenal karena semua bumbunya diresapkan dalam dagingnya saat dibakar. Sate ini pun tidak menggunakan bumbu kacang atau kecap seperti layaknya sate lainnya. Inilah yang menjadi kekhasannya.

DSCF1890
Sate Maranggi

Usai sarapan, kami kembali melanjutkan perjalanan hingga tiba di tepian kota Purwakarta. Anggun, sebagai pengemudi, lalu membelokkan mobilnya ke sebuah jalan kecil. Kami melewati jalan pedesaan yang beraspal, lalu berbatu. Sesekali kami berhenti, melihat rombongan sapi yang berjalan lewat atau menyaksikan anak-anak pedesaan yang asyik berenang di kolam alam yang penuh lumpur. Buat mereka, hiburan seperti ini sangat menyenangkan usai pulang sekolah. Mereka pun bisa menjadi anak bandel pula. Hahaha, kalau ada orang tua yang mencari mereka, anak-anak ini lalu membenamkan kepalanya  ke dalam air, supaya tidak ketahuan.

DSCF1922
Kolam alam

Akhirnya kami tiba di Badega Gunung Parang, sebuah kompleks yang menjadi basecamp wisata di lokasi ini. Badega ini merupakan proyek swadaya warga sekitar. Mereka yang membangun sendiri dengan modal bambu, batu, dan pasir yang ada di alam. Setiap orang bisa menginap di sini, menikmati sarapan sederhana kampung yang sehat, sebelum melakukan wisata trekking atau panjang tebing Gunung Parang. Di kalangan para pendaki tebing, gunung ini memang cukup terkenal karena kesulitannya. Kami berdelapan bukanlah para pemanjat tebing. Jadi kami paling hanya akan mengikuti wisata trekking melalui jalur yang lebih mudah.

DSCF1933
Badega Gunung Parang

Di hari Sabtu siang itu, usai istirahat sejenak dan makan siang, kami berjalan-jalan ke sawah-sawah di sekitar. Melewati sawah yang sudah kering dan berjalan di pembatas sawah yang masih basah. Sampai akhirnya kami tiba di lokasi dengan batu gunung yang sangat besar di antara hamparan sawah terbuka. Seorang warga desa yang menjadi pemandu kami, dengan mudahnya memanjat batu raksasa itu tanpa hambatan sama sekali. Hahaha kami yang mencoba agak was-was juga pas naiknya, karena ternyata tinggi sekali.

DSCF2002
Batu raksasa di tengah sawah

Sore hari kami melanjutkan perjalanan ke makam megalithikum. Terdapat sebuah gubuk di dekat makam. Bila ada tamu, gubuk ini bisa dimanfaatkan mereka untuk beristirahat. Seorang warga yang memang menjadi penjaga makam bercerita tentang asal muasal makam tersebut. Disebut megalithikum karena tidak ada warga desa yang tahu asal muasal makam ini. Saat ditemukan, tidak ada identitas apapun. Katanya makam ini sudah berusia ratusan tahun. Makam-makam ini sekarang dirawat oleh warga. Posisi batu makam tetap dibiarkan apa adanya, namun kini pohon-pohon sejuk dibuat menghiasi makam. Si penjaga makam lalu mengantarkan kami ke salah satu mata air di desa ini. Sumber mata air ini yang mengairi banyak sawah warga dan juga menjadi sumber air bagi kehidupan warga.

DSCF2022
Makam Megalithikum

Keesokan paginya acara trekking mendaki Gunung Parang pun dimulai. Awalnya saya mengira trekking ini benar-benar santai, dengan jalan yang lumayan landai. Ternyata, bagian landainya cuma sekitar 70%. Sisanya harus ditempuh dengan memanjat batu-batuan. Nggak esktrim sih tapi tetap saja lumayan tinggi juga. Pas naik, yang terpikirkan adalah, “ini ntar gimana turunnya ya?” Hahaha beneran. Soalnya kalau saya melihat ke bawah, itu kok ya lumayan ngeri ya. Lalu mau tahu bagaimana nanti kami turunnya? Pakai pantat dong. Duduk, glesor, merosot, duduk, glesor, merosot, dan terus ulangi di bagian yang curam.

DSCF2061
Gunung Parang yang akan didaki

Perjalanan dengan trekking ini melewati pohon-pohon tua nan besar, dengan akar yang menjalar kemana-mana. Lumayan keren ini sebetulnya untuk objek foto. Ada beberapa tempat landai yang cukup luas, sehingga memungkinkan kami untuk istirahat sejenak. Sayangnya di tempat-tempat ini, ada saja perilaku pendaki yang tak bertanggung jawab. Beberapa sampah botol terlihat berserakan. Beberapa batu pun terlihat dicat dengan nama, sebagai tanda eksistensi diri kalau sudah mencapai titik ini. Menyebalkan memang.

DSCF2114
Pohon-pohon tua sepanjang jalur trekking

Hampir pukul 12 siang, dan kami belum juga sampai di puncaknya. Beberapa teman serombongan menyatakan ketidaksanggupannya lagi melanjutkan perjalanan. Si pemandu pun tidak mau mengambil resiko dengan meninggalkan mereka yang tidak sanggup. Baginya, semua naik bersama, atau semua turun bersama. Tidak boleh terpisah-pisah. Akhirnya diputuskan untuk turun gunung. Meski kami tidak mencapai puncak, namun tidak masalah. Lebih baik semua orang bisa menikmatinya dengan tersenyum tanpa ada kejadian yang tidak menyenangkan.

Kami pun turun melewati jalur trekking yang sama. Sesampainya di kompleks Badega, kami mandi, istirahat sejenak, makan siang, sebelum melanjutkan perjalanan pulang kembali ke kota Jakarta.

Terima kasih juga untuk Anggun dan Catur yang mengatur perjalanan ini. Kalau kalian tertarik, kalian bisa jenguk website DesaDeso.com milik mereka. Mereka setiap bulan selalu bikin acara liburan lokal ke desa-desa menarik yang tak jauh dari Jakarta. Liburan lokal semacam ini cocok banget untuk warga Jakarta yang sesekali ingin menghirup udara segar tanpa polusi, tapi hanya punya waktu di hari Sabtu dan Minggu saja.

Foto-foto lengkap tentang liburan ke Gunung Parang bisa dilihat di galeri Flickr ini, atau lihat salindianya saja di bawah ini.

[fshow photosetid=72157647110305420]

Sabina Altynbekova

Sebenarnya nggak ada bahan posting, tapi blog ini terlalu berkarat kalau nggak ada isinya. Topik sore ini di Twitter ramai dengan 2 hal: 1) seorang atlit voli bernama Sabina Altynbekova (hadeuh nulisnya susah) dan 2) Prabowo tiba-tiba mengumumkan pengunduran dirinya dari pemilihan capres, padahal sebentar lagi KPU akan mengumumkan siapa pemenangnya. Yang satu bahasannya santai banget, yang satu serius banget. Dua topik ini bikin trending topic worldwide. Pemicunya? Mana lagi kalau bukan dari para pengguna Twitter Indonesia.

Hahaha.. biar gak serius isinya, maka postingan kali ini tentang Sabina Altynbekova saja yaaa…

Cewek cantik (bangeeet) asal Kazakhstan ini adalah atlet voli yang tiba-tiba menarik perhatian wajah dunia (tepatnya 9 Gag sih) karena parasnya yang luar biasa. Campuran Eropa Timur Iran kuno dan Asia memang mantap ya? Sabina lahir 5 November 1996 (masih 17 tahun — belum legal guys, dan gw biasanya diomelin kalo ngomongin dedek-dedek lucu di fX). Berat 59 kg dan tinggi 182 cm (tuh kalian siapin dingklik kalau mau ngobrol dengan Sabina).

Ini profil social media-nya:

Facebook: https://www.facebook.com/altynbekovas
Ask.fm: http://ask.fm/AltynbekovaS
VK: http://vk.com/altynbekova11
Instagram: http://instagram.com/altynbekova_11

Sabina Altynbekova Sabina Altynbekova Sabina Altynbekova Sabina Altynbekova Sabina Altynbekova Sabina Altynbekova Sabina Altynbekova Sabina Altynbekova

Berterima kasihlah kepada warga Tiongkok (katanya mesti nyebut Tiongkok sekarang, bukan Cina) yang banyak mendokumentasikan dedek Sabina ini di kompetisi Asian Women Volleyball U19.

Berikut ini beberapa video rekaman tentang dek Sabina.


Behind the scene interview


Hasil interview

Ada banyak fancam bisa ditemukan di channel YouTube ini http://www.youtube.com/user/glaylioutw


Sabina ngasih kissbye


Sabina siap-siap tanding

Goa Pindul dan Kalo Oyo

Wonosari sebenarnya sangat kaya dengan banyak objek wisata. Entah kenapa nggak (atau belum dengar) yang menggarapnya menjadi satu paket wisata utuh. Ada jejeran pantainya dari Pantai Baron, yang menjadi tempat penjualan ikan, hingga pantai yang saya datangi sebelum lebaran kemarin, Pantai Pok Tunggal, yang belum terjamah (banyak) oleh komersial. Pantai dengan pasir putih dan tebal. Ombak yang tidak terlalu besar. Masih sepi.

Hari Selasa kemarin, bersama keluarga, saya mengunjungi sisi lain Wonosari. Kami ke sebuah kawasan wisata yang baru dibuka kurang daro setahun lalu. Namanya Goa Pindul. Di sini, pengunjung bisa memilih 3 macam wisata. Yang jadi andalan adalah menjelajah sungai di dalam Goa Pindul dengan tubing. Yang dimaksud dengan tubing adalah pengunjung duduk menggunakan ban karet di atas air, yang lalu didorong/ditarik oleh pemandu yang berenang. Pantat pengunjung tetap basah karena meski berada di atas ban karet, pantat tetap akan bersentuhan dengan air.

Wisata lainnya adalah tubing di Kali Oyo dan trekking menjelajah isi Goa Sioyot. Saya kemarin hanya mencoba Goa Pindul dan Kali Oyo dengan biaya total per orang Rp.75.000,00. Baru tau malamnya, kalau yang ikut orang banyak, silakan mention @wirawisata (pengelola wisata tersebut) untuk minta diskon. Beneran. Akunnya yang bilang ke saya sendiri semalam.

Tips paling penting sebelum tubing adalah bawa celana renang atau celana pendek, dan bawa baju ganti, karena kalian bisa basah kuyup di sana. Minimal pantat kalian basah lah ya. Jangan kayak saya yang akhirnya beli celana pendek seharga Rp.20.000,00 di sana.

Karena saya belum pernah merasakan tubing, jadi menarik saja sih rasanya. Per orang duduk di ban karet. Kami saling berpegangan tangan atau pegangan ke tali di ban, supaya tidak lepas. Si pemandu, sambil berenang di dalam air, menarik ban yang saling bergandengan.

Kenapa tubing dan sekoci karet? Karena ada beberapa bagian di dalam goa yang hanya bisa dilewati ukuran ban. Sekoci nggak bisa lewat. Kami mengapung di atas air berkedalaman 12 meter, sambil melihat keindahan stalaktit, batu kristal, bentukan batu ajaib, hingga ratusan kelelawar yang menggantung di langit-langit.

Setelah keluar dari goa, kami menggotong masing-masing ban karet kami, berjalan menyusuri sawah dan jalan menuju Kali Oyo. Lucunya nih terlihat beberapa warung di rute perjalanan kami. Karena tak mungkin ada dari kami yang membawa dompet, si penjaja warung menawarkan pembayaran dengan nota. Si pembeli bisa membayarnya nanti setelah kembali ke lokasi awal.

Perjalanan menyusuri sawah dan aspal ini sebetulnya akan menyenangkan kalau saya membawa sandal. Hiyaa, beneran telapak kaki sakit sepanjang jalan karena melewati aspal panas dan tajamnya kerikil dan pasir. Pemandunya ternyata salah menerima informasi. Ia kira kami semua hanya mengikuti tubing di Goa Pindul. Kalau ia tahu kami juga akan ke Kali Oyo, ia akan merekomendasikan kami semua untuk mengenakan alas kaki.

Sesampainya di Kali Oyo, kami kembali bertubing ria. Sekitar satu jam kami menyusuri Kali Oyo yang berarus tenang. Kiri kanan kami terlihat bukit. Di beberapa titik, kalau mau, kami bisa berhenti. Saya melihat ada beberapa pengunjung lain yang menepi lalu naik ke atas jembatan kayu yang membentang di atas kali. Mereka lalu melompat bergantian. Terlihat juga beberapa air terjun kecil dengan para pengunjung yang mampir dan mandi di bawahnya. Perjalanan mengarungi Kali Oyo ini menghabiskan waktu sekitar sejam, meski jarak yang ditempuh tidak seberapa jauh.

Di ujung Kali Oyo kami lalu menunggu omprengan pickup yang akan mengantar kami kembali pulang ke pos keberangkatan. Di sini saya baru tahu kalau ternyata ada dua pengellla jasa wisata di kawasan ini. Ada Dewa Bejo, dan ada Wirawisata, yang kami gunakan jasanya. Wirawisata ini dikelola oleh karang taruna setempat.

Wonosari sungguh memiliki poteni wisata yang luar biasa. Semoga setiap objek wisata ini bisa dikelola terus dengan serius dan mendatangkan pendapatan bagi warga sekitarnya.

20120822-141240.jpg

20120822-141309.jpg

20120822-141333.jpg

20120822-141357.jpg

20120822-141426.jpg

20120822-141443.jpg

20120822-141458.jpg

Peselancar

32 peselancar

Diambil di pantai Kuta hari Rabu sore kemarin. Sayang langit mendung dan cahaya kurang baik. Memang beberapa hari ini kondisi Bali selalu berangin dan mendung. Sempat hujan deras juga katanya beberapa hari sebelumnya. Akhirnya saya berupaya untuk mencari objek yang tidak terlalu banyak menunjukkan langit atau laut. Kebetulan ada peselancar yang sedang asyik memandang laut. Mungkin ia sedang beristirahat sejenak sebelum lanjut menantang laut kembali. f 6.3, 1/250, ISO 400. Galeri foto lainnya bisa dilihat di sini.