Jalan Kaki Malam Hari ke Taman Bungkul

Hari Sabtu minggu lalu saya kebetulan lagi berada di Surabaya. Saat itu memang sedang ada event Hemaviton Jawara Jempol di Maspion Square, yang aplikasi interaktifnya dikerjakan oleh kantor saya. Saya bukan mau cerita soal itu sih. Saya mau berbagi cerita usai event.

Usai acara, saya sempat kopdaran dulu dengan seorang warga Surabaya yang cantik di Jatim Expo yang berlokasi tak jauh dari Maspion Square. Bagian ini nggak usah diceritain lah ya. Bagian setelahnya aja (lah elo mau cerita apa sih Pit?).

Naaah, ini yang mau saya ceritain. Kalau kata saya sih, nggak akan kenal dengan sebuah kota kalau kita belum ngerasain menjelajah jalan kaki di dalamnya. Kali ini saya meniatkan diri, sekitar jam 9 malam, dari Jatim Expo saya berjalan kaki hingga Taman Bungkul. Kalau di Google Maps sih katanya hampir 3 kilometer. Ok, nggak jauh sih. Lagian kan kota Surabaya katanya cukup terkenal dengan trotoarnya yang lebar dan nyaman. Mari kalau begitu kita coba.

Saya pun menyusuri Jalan Ahmad Yani yang sangat ramai. Sisi trotoar yang nyaman cuma ada di satu sisi jalan, sementara saya ada di sisi seberangnya. Di sisi seberang ini, nggak ada sama sekali trotoar. Saya melewati tanah basah, yang nggak enak banget lah buat jalan. Akhirnya saya memutuskan untuk menyeberang saja. Huh, ternyata itu pun bukan langkah yang baik, karena kendaraan bermotor bergerak sangat cepat di Ahmad Yani, padahal saya menyeberang di zebra cross loh. Hihi ya agak gila sih, saya akhirnya menyeberang sambil berharap mobil yang lewat ngerem aja sih (mohon ini tidak dicontoh ya teman-teman).

Trotoar nyaman yang berada di depan kompleks Angkatan Laut ini (nggak tau isinya kompleks apa) memang enak dipakai jalan. Pejalan kaki juga nggak perlu naik turun trotoar, malah sebaliknya jalan kendaraan bermotor yang menyesuaikan dengan ketinggian trotoar saat terjadi persimpangan. Cuma ya nggak beda dengan Jakarta, suka ada pedagang kaki lima dan motor parkir di atas trotoar.

Saya berjalan terus hingga menyeberang rel, melewati kolong jembatan layang, melewati pasar yang sudah gelap gulita, melewati jembatan dengan kali di bawahnya. Beberapa kali melewati jembatan penyeberangan, ingin memotret jalan raya dari atas, namun niat langsung urung setelah melihat gelapnya tangga untuk naik ke atas jembatan. Akhirnya saya pun sampai di daerah Darmo. Memasuki daerah ini, jalan terlihat lebih rapih dan teratur. Trotoar lebar terlihat di seluruh bagian jalan. Kalau kata orang Surabaya sih, memang trotoar ini akan terus terlihat hingga Tunjungan Plaza. Sayangnya, hal ini tidak berlaku sebaliknya, dari arah Darmo ke Ahmad Yani dan terus ke selatan.

Saya terus berjalan menyusuri jalan Darmo Raya sampai saya menemukan Taman Bungkul di kanan saya. Taman ini terlihat ramai, banyak sekali pengunjung yang bersantai dan melepas lelah. Mungkin karena taman ini dibangun dengan bantuan dana Telkom, makanya banyak sekali ornamen logo Telkom menghiasi taman ini, dari bangku dan hiasan taman. Taman ini pun terlihat terang, dengan lampu yang menyala di seluruh bagian taman. Ada area khusus untuk permainan anak-anak dan ada pula area untuk bermain skateboard.

Taman Bungkul juga dilengkapi dengan pusat jajanan yang berada di sisi timurnya, berhadapan langsung dengan Rumah Sakit Umum Soemitro. Di sini ada Rawon Kalkulator yang katanya terkenal. Saat itu saya sudah terlalu kenyang, sehingga terpaksa melewatkan mencoba. Saya lalu terus berjalan ke arah belakang taman hingga sampai ke Darmo Kali. Hotel yang saya inapi memang di Darmo Kali. Melihat jam, ternyata saya berjalan kaki hampir 1 jam. Agak pelan sih, soalnya kan saya berjalan kaki sambil motret dan melihat-lihat.

Esok paginya usai sarapan, saya masih punya waktu sebelum berangkat menuju bandara untuk pulang ke Jakarta. Saya pun berjalan kaki kembali ke Taman Bungkul. Lokasi hotel ke Taman Bungkul sekitar 10 menit berjalan kaki. Jadi nggak jauh.

Saya sempat nongkrong lama di sana, melihat aktivitas pagi hari di taman. Belum banyak orang yang duduk-duduk di sana. Beberapa petugas terlihat membersihkan taman dan mencuci tegel-tegel taman. Saya berjalan ke arah utara, tempat bermain anak. Ternyata di hari Minggu ini, sudah cukup banyak anak-anak (bersama orang tua mereka) yang bermain ayunan di sana. Seorang bapak terlihat pula menyalakan notebook di sana. Ternyata Taman Bungkul pun menyediakan akses wifi gratis bebas pakai. Saya pun ikut mencoba, meski ternyata aksesnya tak secepat yang diharapkan.

Kali ini saya menyempatkan mampir mencoba Rawon Kalkulator yang berada di pusat jajanan di belakang Taman Bungkul. Meski sudah agak kenyang dengan sarapan, tapi sayang rasanya kalau nggak sempat mencoba. Rasanya lumayan sih, meski dibilang enak banget juga nggak. Namun khas Surabaya, dengan warna hitam pekatnya. Jangan tanya kenapa ada embel-embel kalkulator di nama rawonnya. Soalnya saya aduk-aduk isi rawonnya, saya nggak menemukan kalkulator di dalamnya (ya kali aja ada).

Asyik juga sih ada taman seperti ini di tengah kota Surabaya. Taman yang hidup dengan aktivitas penggunanya, bukan sekedar area hijau miskin nyawa dan jiwa. Semoga saja pemkot Surabaya memperluas dan memperbanyak taman-taman seperti ini di seluruh kotanya. Oh ya, kalau bisa sih program trotoarnya diperluas lagi hingga selatan kota. Jadi setidaknya orang bisa nyaman melewati jalan protokol Surabaya dengan berjalan kaki.