KOWAWA! (´▽`)/

“Akhirnya kamu menetas juga,” si ibu menatap kendi yang mulai pecah.

Air mata si ibu menetes dari badannya. Terlihat senyum bahagia terpancar di paruhnya. Sudah berabad-abad ia menanti kelahiran putrinya. Si ibu mengepakkan sayapnya yang berwarna cerah, pertanda ekspresi bahagia.

Si ibu bergerak menyeret badannya. Ekor hijaunya merapat pada tanah yang keras. Perlahan ia mendekati kendi tanah liat di hadapannya.

Putrinya sungguh terlihat cantik. Si putri mengangkat lehernya, merayap keluar dari rumah kendi yang telah mengeraminya selama seratus tahun. Matanya langsung tertuju pada si ibu.

KOWAWA! (´▽`)/” ujar si putri saat ia menatap mata ibunya untuk pertama kali.

Dua makhluk yang saling berbahagia, meski membutuhkan masa satu abad untuk mempertemukannya.

64-KOWAWA

Misteri Negeri Khayangan

Sekelebat cahaya bersinar terang cepat, lalu memudar. Di balik cahaya seorang figur pria terlihat. Ia lalu mengamati sekitar dengan waspada. Si pria lalu berjalan mengendap di permukaan sebuah bukit hijau.

Si pria telah tiba di negeri khayangan. Batu ajaib yang ia temukan di gua berhasil membawanya ke negeri impian ini. Seperti dugaannya, langit negeri ini cerah berwarna biru, dengan rumput hijau luas terbentang. Pepohonan rindang terlihat banyak bertumbuhan di sekitar bukit. Negeri surga bagi para penghuninya. Si pria memandang ke kaki bukit dan melihat telaga warna yang dicarinya.

Si pria mengencangkan tali yang mengikat sandalnya. Ia pun segera berlari menuruni bukit. Tak lama ia pun sampai di tepian telaga yang terlihat sangat bening ini. Ia menatap air telaga. Bayangan tubuh si pria tercermin sempurna saat ia melihat permukaan airnya. Telaga ini sungguh ajaib. Setiap detiknya berubah nuansa warnanya, terkadang biru sebiru langit, terkadang berubah menjadi hijau sehijau rumput di sekitarnya.

Si pria mengagumi telaga ini. Ia akan sangat menyayangkan tindakan yang akan ia lakukan, namun ini harus ia laksanakan agar tujuan hidupnya terlaksana. Si pria mengeluarkan kembali batu ajaib yang ia telah simpan sebelumnya di balik kantung celananya. Ia mengelus-elus batu itu, memejamkan mata, dan mengucapkan mantra.

Si pria lalu menyelupkan batu ke dalam telaga indah ini. Air telaga sedikit demi sedikit terlihat menyurut. Seakan batu ajaib yang ia pegang menyerap semua air. Si pria terus mencelupkan baru hingga air telaga terkuras. Ia berdecak kagum melihat kekuasaan batu yang dipegangnya. Kini yang tersisa hanyalah sebidang luas tanah kering. Ikan-ikan dan makhluk air terlihat menggelepar-gelepar menunggu ajal. Si pria berhasil mengeringkan telaga, dan tak menyisakan setetes air pun.

Tiba-tiba di kejauhan terdengar beberapa suara perempuan mendekat. Si pria berpikir, hmm mereka datang tepat pada waktunya. Para putri khayangan ini pasti akan terkejut saat menemukan tempat pemandiannya telah kering kerontang. Ia pun mengangkat batu ajaib tersebut, kembali mengelus-elusnya sambil mengucapkan mantra. Sinar terang kembali berkelebat cepat membawa si pria meninggalkan negeri khayangan.

Si pria pun mendapatkan dirinya kembali di tanah bumi. Ia berada persis di tepi sungai pemandian yang tak kalah indahnya dengan yang baru saja ia lihat di khayangan. Si pria mencari posisi yang tepat untuk bersembunyi. Pohon tinggi dengan batang lebar merupakan tempat yang tepat untuk menghalangi badannya dari pandangan arah sungai.

Si pria tersenyum. Ia bergumam dalam hati, para putri khayangan pasti akan memilih sungai indah miliknya untuk mandi, setelah mereka kini tak bisa lagi memakai telaga warna. Saat mereka nanti sampai ke bumi, si pria akan mencuri salah satu selendang penutupnya, supaya tak bisa kembali lagi ke khayangan.

Bukan Ki Jaka Tarub namanya, kalau ia tak punya ide brilian untuk mendapatkan pasangan abadi.

Surat dari Ujung Dunia

Teman, aku kirimkan surat ini dari ujung dunia. Sudah seminggu putaran siang dan malam di sini, dan aku mulai menikmati nafasku di sini.

Teman, kamu tahu kalau langit senja berwarna hijau kelabu di sini. Sesekali rona merah dan jingga bermunculan di kaki langit Sungguh nuansa warna yang tak biasa. Seakan-akan sang pencipta asyik bermain dan bereksperimen dengan kanvas baru. Cantik sekali.

Teman, udara di sini menyegarkan. Setiap hirupan, aku selalu merasa segar kembali. Paru-paruku serasa dipompa dan diisi dengan oksigen baru. Kabut kuning tipis selalu berada di udara, menggelitik kulit, dan membersihkannya setiap saat.

Teman, aku sampaikan bahagiaku dari sini. Kamu tak perlu lagi khawatir menjagaku. Aku kini telah menemukan pasangan sejatiku. Ia begitu cantik. Kulitnya cokelat muda dan selalu terlihat bersinar. Kupingnya lancip seakan peri dari negeri dongeng. Matanya sungguh indah, hijau penuh kerlingan, menatapku selalu dalam cinta. Ia menyayangiku meski kami datang dari dunia yang berbeda.

Teman, terima kasihku untuk kamu yang telah membantuku tiba di dunia ini. Kalau saja pisau belatimu tak menusukku waktu itu, aku mungkin tak akan pernah bisa menemukan kebahagiaan abadiku.

Teman, aku ucapkan selamat berpisah. Kalau nanti saatnya kamu telah tiada, mudah-mudahan kamu akan tiba di dunia cantik ini pula, dan tidak dibuang ke dunia panas membara di sebelah sana.

Berjalan ke Masa Depan

“Pak Tua, apakah benar di tempat ini, saya bisa melihat masa depan?” tanya Andina memandang kolom granit raksasa setinggi 10 meter berdiameter 1 meter di hadapannya.

“Lebih tepatnya, kamu bisa berjalan hingga ke masa depan. Tidak hanya sekedar melihatnya.” seorang lelaki berjenggot putih panjang menjawab. Ia duduk di salah satu batu raksasa di dekat kolom granit raksasa itu. Asap rokok tebal mengepul dari mulutnya.

“Wah, bagaimana caranya itu, Pak Tua?” senyum lebar terbentuk di bibir Andina. Sudah lama Andina tertarik untuk tahu masa depannya. Apakah ia akan sukses menjalankan bisnisnya? Siapakah yang nanti akan menjadi pasangan hidupnya? Dan masih banyak pertanyaan lain yang menghantuinya sejak lama.

“Sederhana,” jawab Pak Tua sambil berdiri. “Kamu cukup berjalan mengelilingi kolom granit raksasa ini sebanyak 10 kali. Lakukanlah sembari menanggalkan seluruh pakaian kamu.”

“Eeng… haruskah saya menanggalkan pakaian? Udara di sini kan sangat dingin, Pak Tua.”

“Terserah kamu sebetulnya. Tak ada yang memaksa,” si Pak Tua lalu kembali duduk dan merokok.

Andina berpikir dan berpikir. Akhirnya ia pun memutuskan.

“Baiklah, Pak Tua. Saya akan menanggalkan seluruh pakaian saya. Saya sudah mendaki ratusan kilometer untuk bisa sampai ke sini. Bertelanjang dalam suhu dingin tentu bukanlah hal yang sulit.”

Andina pun membuka jaket tebal berbulunya. Ia menanggalkan baju tebal di baliknya. Udara dingin menyentuh perutnya. Andina menggigit bibirnya menahan dingin. Ia lalu mencopot cepat sepatu tebalnya, kaus kaki di baliknya. Terakhir ia melepas celana tebalnya.

“P-P-Pak Tua, a-a-apakah s-saya harus pula melepas d-daleman saya?” tanya Andina menggigil hebat. Ia menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.

“Tidak perlu,” mata Pak Tua terlihat berbinar melihat Andina kedinginan. “Ayo segera berjalan mengelilingi kolom granit raksasa ini sebanyak 10 kali. Jalan loh ya, bukan lari!”

Sambil menggigil, Andina menapakkan kakinya di tanah yang sangat dingin ini. Ia pun berjalan, sambil menggosok-gosokkan telapak tangannya, menjaga agar tetap hangat. Berputar 10 kali terasa seumur hidup. Dalam benaknya, ia terus berpikir, masa depan seperti apa yang akan dilihatnya.

Lima menit kemudian, tantangan pun selesai. Andina tak bisa berkata apa-apa. Semua bagian tubuhnya menggigil. Sambil gemetar, ia mengenakan seluruh pakaiannya kembali. Pak Tua menghampiri Andina. Tangannya sudah menggenggam segelas kopi panas.

“Silakan diminum, supaya badan kamu tetap hangat.”

“T-terima k-kasih, Pak Tua,” kopi mulai menghangatkan tenggorokan Andina. “Pak Tua, katanya saya bisa berjalan ke masa depan? Kok saya masih di sini?”

“Hahaha..,” si Pak Tua tertawa hebat. “Bukankah kamu sekarang sudah berjalan ke masa depan? Lima menit yang lalu kamu kan belum menerima tantangan?”

“Maksud Pak Tua?” wajah Andina terlihat bingung.

“Nak, masa depan itu akan selalu bisa dilihat, akan selalu bisa dirasakan, karena kita yang menjalaninya sendiri. Tak ada yang bisa meramal masa depan kita. Yang ada, kitalah yang menghidupinya sendiri. Apa yang kita lakukan saat ini yang menentukan keberhasilan atau kegagalan kita meraih masa depan yang kita inginkan.”

“Err..” Andina terdiam. Ia mencoba merenungi perkataan Pak Tua, sebelum bertanya, “Lalu apa hubungan perkataan Pak Tua dengan saya harus jalan keliling kolom granit raksasa ini sambil telanjang?”

“Hahaha, berkeliling kolom granit raksasa ini untuk memberi kamu pengertian tentang waktu,” ujar Pak Tua tersenyum. “Kalau permintaan agar kamu menanggalkan pakaian ya, agar saya senang saja melihatnya.”

Pak Tua terus tertawa sambil meninggalkan Andina yang diam tak bisa berkata apa-apa lagi.

Nasib Makhluk Kerdil

Aku bersembunyi dalam gelap, merapat erat ke dinding. Denyitan kayu terdengar saat aku bersandar. Lubang terang menganga di hadapanku. Menggodaku untuk keluar mencari makanan. Sudah cukup lama aku berada dalam gelap. Makanan kini sudah tak tersisa. Paling-paling remah kecil tercecer di lantai, bercampur basah genangan, sisa-sisa yang tak layak untuk dimakan.

Aku berjalan mendekati cahaya. Merayap perlahan, mencoba mendengar bunyi di luar, berharap para raksasa itu sedang pergi. Suasana kali ini terdengar tenang. Mungkin kini saatnya aku memberanikan diri.

Aku mengintip ke luar lubang. Aku keluarkan kepalaku. Mataku menyusuri ruang luar. Ke kiri, kanan, atas, bawah. Aman, tak terlihat satupun raksasa. Para raksasa itu selalu menyimpan makanan lezat. Melihatnya sungguh mengundang selera. Sayangnya, mereka tak peduli akan kami, makhluk yang kerdil di mata mereka. Makhluk yang dianggap sampah, selalu dikejar dan dimatikan. Kami tak pernah mendapat makan. Demi kelangsungan hidup, kamipun terpaksa mencuri makanan mereka.

Baiklah, saatnya aku beraksi. Mataku menatap lurus ke tempat penyimpanan makanan. Aku bisa mencapainya cepat dalam hitungan detik. Aku mengambil ancang-ancang, dan berlari kencang. Mataku bergerak cepat melirik ke sekitar ruangan. Waspada, karena para raksasa bisa saja datang sewaktu-waktu.

Tiba-tiba hentaman keras mengguncang terdengar di belakang. Aku sempat terlompat kaget. Astaga, salah satu raksasa itu muncul! Aku mulai panik. Pilihanku tinggal dua. Mempercepat lariku ke tempat makanan, atau berbalik arah, kembali ke tempat persembunyian. Mungkin ini pilihan yang salah, tapi akhirnya dengan cepat aku putuskan. Aku lapar. Aku harus makan. Aku pun menambah kecepatan dan bergerak ke tempat penyimpanan makanan.

Hentaman demi hentaman terdengar. Si raksasa melihatku, dan kini langsung mengejarku. Langkahnya yang besar semakin mendekatiku. Secepat-cepatnya aku berlari, si raksasa bisa mengejarku. Ia cukup melangkahkan kakinya beberapa kali sebelum akhirnya berdiri di hadapanku. Jalanku tertutup. Aku pun kembali panik. Rasa laparku mendadak hilang, berganti dengan rasa takut luar biasa.

Aku benar-benar tak bisa berpikir. Pikiranku hanya satu, menghindar, menghindar, dan menghindar, saat si raksasa mulai berusaha menginjakku. Setiap hentaman kakinya membuat permukaan bergoyang, membuatku kadang terlempar. Ampun, akankah aku menjemput kematianku di sini? Aku benar-benar takut luar biasa.

Hingga akhirnya bayangan besar jatuh persis di atasku. Aku tak lagi bisa berkutik. Seketika saja semuanya gelap.

“PREEEK…”

“Akhirnya, kecoak busuk ini berhasil juga kubunuh. Sejak kemarin kecoak brengsek ini selalu mengotori makanan kita,” sayup-sayup suara si raksasa terdengar sebelum aku akhirnya pergi selamanya meninggalkan dunia.