Nostalgia Melalui WhatsApp Group

Kini WhatsApp sudah menjadi aplikasi lumrah untuk berkomunikasi dengan banyak orang, menggantikan BBM yang pernah populer. Saya sendiri lebih banyak menggunakannya untuk berkomunikasi urusan pekerjaan.

Seiring digunakan makin banyak orang, group di WhatsApp saya pum bertambah. Setelah group pekerjaan, kini ada group keluarga dan alumni. Jujur hampir semua group itu tidak saya baca setiap saat. Group alumni apa lagi. Kontennya terlalu berisik. Saya bergabung demi menjalin silaturahmi saja. Ngobrol di sana pun sangat jarang.

Buat saya yang dihujani banyak konten dari banyak kanal social media, saya memang harus memilih mana yang lebih diutamakan. Namun tentunya ini berbeda dengan kedua orang tua saya. Baik Bapak dan Ibu saya bisa dibilang aktif di group WhatsApp keluarga dan alumninya masing-masing. Bagi mereka, komunikasi di group benar-benar mendekatkan mereka yang sudah lama terpisah oleh jarak dan waktu.

Lanjut dengerin cerita tentang Bapak saya

Bermula dari Nol

Saya lahir belum bisa apa-apa. Saya belajar dari awal. Awalnya dipilihkan oleh orang tua saya, apa yang harus saya pelajari, hingga akhirnya bisa memilih sendiri. Saya yakin teman-teman saya pun seperti itu. Yang mempengaruhi mungkin bisa berbeda-beda. Bisa keluarga, sekolah, lingkungan pergaulan, televisi, internet, ata apapun. Semua selalu mulai dari tak bisa apa-apa, lalu melalui proses belajar, menjadi sesuatu yang lebih baik.

Saat saya bergabung dalam suatu lingkungan, misalnya sekolah atau kuliah, saya berkenalan dengan orang yang berbeda, yang mendapatkan pengalaman belajar berbeda-beda pula. Tak ada yang lebih baik, tak ada yang lebih buruk. Landasan yang mempengaruhi kita selama perjalanan hidup sudah pasti berbeda, tak ada yang bisa memaksakan itu.

Di lingkungan yang sama itu pastinya kita mencoba kenal satu dengan lain. Apalagi saat kuliah saat saya semakin banyak kenal dengan teman-teman dari luar daerah, termasuk dari luar Pulau Jawa. Saya belajar untuk mengenal mereka. Mengenal perbedaan dan mencoba bertoleransi. Ada yang menyenangkan memang, meski ada juga yang menyebalkan.

Seperti biasanya masuk dalam suatu lingkungan, saya hanya berkumpul dengan teman-teman yang saya kenal di awal. Beberapa teman yang dari luar daerah pun cenderung berkumpul dengan teman lainnya dari daerah asal sama. Setiap orang mencoba mencari teman melalui kesamaan akan suatu hal. Nggak ada yang salah dengan itu.

Berbulan-bulan berlalu, sampai akhirnya beberapa dari kami menyadari kalau kami ingin lebih kompak dan kenal lebih dekat satu sama lain, kami semua harus bikin acara ke luar kota bareng. Camping. Bikin kegiatan bareng di luar kampus. Bikin kegiatan yang memaksa kami untuk bisa saling membantu satu sama lain, dan akhirnya semakin kenal dengan yang lain. Bikin kegiatan yang membantu kami mengenal keahlian dan kelebihan teman-teman kami masing-masing.

Acara 3 hari camping di Ranca Upas ini yang mulai mengubah kebiasaan kami. Pertemanan mulai melebar, tidak hanya kumpul dengan kelompok tertentu. Sesuatu yang rasanya canggung di awal, kini sudah tidak terlalu terasa lagi. Kelompok-kelompok pertemanan kecil yang dulu muncul semakin lama terkikis menjadi kelompok yang lebih besar yang saling beririsan satu dengan lainnya.

Apakah kami bersaing satu sama lain? Tentu saja. Saya sendiri pernah merasa iri dengan teman yang nilai tugasnya lebih baik. Saya juga pernah kesal dengan seorang teman tidak melakukan apa-apa saat kerja dalam grup. Iri dan kesal tidak lalu membuat saya menjatuhkan mereka. Justru sebaliknya, saya tetap terbuka dan mau membantu kalau mereka, atau teman lainnya butuh bantuan. Persaingan boleh terjadi, namun tidak berarti harus menjatuhkan teman lainnya. Justru kalau bisa saling berbagi ilmu, bukankah akhirnya kita punya landasan pengetahuan yang sama untuk bersaing dengan tantangan lebih hebat?

Hingga sekarang persaingan selalu ada. Bedanya malah lebih besar, konteksnya industri. Kantor saya bersaing dengan kantor lainnya demi mendapatkan sebuah proyek adalah hal yang biasa. Namun saya mencoba sebisa saya untuk berbagi lebih, atau setidaknya menyediakan sarana untuk berbagi. Tujuannya? Supaya semua yang berada di industri yang saya geluti ini mendapatkan pandangan dan pengetahuan yang selalu baru. Semua bisa belajar dari yang lain, meski kami tetap bersaing satu sama lain.

Saya mulai dari nol. Kamu pasti juga mulai dari nol. Mereka semua juga mulai dari nol. Yang membedakan saya, kamu, dan mereka adalah kesempatan. Bisa jadi saya dapat kesempatan lebih dahulu. Bisa jadi untuk suatu hal, saya malah belum mendapat kesempatan sama sekali. Saling berbagi dan belajarlah satu dengan lainnya. Tidak sombong. Tidak tinggi hati. Selalu ingat bahwa setiap orang lahir dengan pengalaman dan kesempatan yang berbeda. Selalu ingat kalau saya, kamu, dan mereka adalah teman juga, yang harus saling membantu satu sama lain, bukan menjatuhkan.

Baca juga tulisan Mas Bukik di tautan ini.

Menemukan Koleksi Masa Lalu

Siapa di sini yang suka menyimpan barang klasik? Minggu lalu ceritanya di rumah lagi dipasang lemari baru. Kalau tahu kebiasaan nyokap, itu artinya akan ada perombakan isi lemari lainnya secara besar-besaran. Yang diganti satu lemari, tapi efeknya ke banyak lemari lainnya. Haha ya jadi PR bersama satu rumah bongkar-bongkar.

Nah gara-gara bongkaran itu, jadi nemu beberapa barang masa lalu yang lupa pernah disimpan di situ. Bukan, bukan foto bekas pujaan hati. Namun koleksi mainan dan barang berbau teknologi nan klasik. Kayak gini nih sukaannya om @pinot. Makanya saya waktu itu jadi foto barang-barang yang saya temukan.

Yang paling banyak ditemukan adalah koleksi kaset lama saya, dan nyokap saya. Eh tau kan yang namanya kaset? Jadi ya adik-adik, dulu itu jauh sebelum kenal dengan MP3, ada yang namanya Compact Disc. Sebelumnya lagi ada yang namanya kaset. Lagunya direkam di atas pita analog. Ada dua sisi, Side A dan Side B. Jadi satu album kaset itu akan dikasih keterangan lagu-lagu apa yang direkam di masing-masing sisi.

20120330-091827.jpg

Selain kaset untuk audio, ada yang namanya juga kaset video. Format yang dulu terkenal ada dua: VHS dan Betamax. Ada yang bisa dipakai merekam selama 30 menit hingga 120 menit. Dulu saya suka merekam ke video dari Laser Disc. Tau gak Laser Disc? Itu adalah DVD era masa lalu. Bentuknya juga cakram tapi besar. Ada dua sisi juga, jadi bisa diputar bolak-balik. Dulu adalah eranya penyewaan film Laser Disc. Biasanya beberapa film bagus, saya rekam dulu dari Laser Disc ke video VHS. Sekarang kaset-kaset rekaman itu teronggok begitu saja karena saya sudah tak punya video player-nya.

Selain itu saya juga menemukan dus-dus program yang masih menggunakan disket. Adik-adik pasti gak kenal yang namanya disket. Seperti kaset, disket menyimpan data digital dalam bentuk pita yang berbentuk cakram. Satu disket ukuran 3.5 inci itu cuma muat 1.44 Megabytes. Haha bayangkan saja dengan USB flash disk yang sekarang bisa menyimpan sampai 8 Gigabytes.

20120330-092045.jpg

Jadi dulu kalau saya main game itu saya harus bolak-balik ganti disket, karena satu jenis game itu bisa punya 3-10 disket, tergantung kompleksitas game-nya. Apalagi dulu hard disk adalah barang mewah. Ukuran 20 Megabytes saja bisa dibilang mahal. Beruntunglah kala itu untuk mereka yang punya hard disk, game bisa dikopi dulu ke situ, jadi nggak perlu bolak-balik ganti disket.

Ngomong-ngomong disket, saya menemukan disket original Windows 3.1 dan DOS 6.2 Upgrade. Saya juga menemukan game klasik Rex Nebular dan Quest for Glory I dan II. Game original ini dulu dibelikan di Singapura. Dulu ingin tahu juga sih apa bedanya beli game bajakan dan original versi disket. Ya sama aja sih sebetulnya. Bedanya yang original lebih mahal aja. Jadi? Lebih murah beli bajakan. Hahaha apalagi dulu modelnya sistem copy game. Per copy-nya bayar Rp.1.000,00. Murah ya?

20120330-091914.jpg

20120330-091937.jpg

20120330-092007.jpg

Benda klasik lain yang saya temukan saat bongkar lemari adalah koleksi komik lokal lama. Saya nemu lengkap satu seri Putri Ular karya Djair. Gambar sampulnya aduhai sekali. Susah ngedapetin komik lama yang lengkap seperti ini. Saya dulu membelinya di sebuah pameran buku, lupa tapi persisnya kapan dan di mana.

20120330-091755.jpg

Tahun 2000-an saya bersama beberapa teman pernah membuat serangkaian komik, ada yang independen, ada yang bekerja sama dengan penerbitan. Dari puluhan komik yang pernah kami buat, tidak semuanya saya masih punya komik versi cetaknya. Bersyukurlah saya, karena saat bongkar-bongkar ini, saya bisa menemukan sebagian komik-komik tadi. Suatu kenangan tersendiri bisa memegang komik-komik karya sendiri ini lagi.

Akhir kata, semua koleksi ini saya pisahkan. Yang memang sudah tak terpakai, namun memiliki rasa sentimentil yang kuat, tentu saya simpan. Selebihnya, akan bersatu dengan sampah-sampah lainnya.

Kalau kamu, benda nostalgia dan sentimentil apakah yang dari masa lalu yang masih kamu simpan?

20120330-091723.jpg

20120330-091701.jpg

Berkat Ngeblog Sejak Tahun 2005

Hari ini Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2011, hari yang “dirayakan” oleh para blogger semenjak dicanangkan oleh Pak Mohammad Nuh saat Pesta Blogger pertama kali diselenggarakan tahun 2007. Waktu Pesta Blogger pertama kali itu saya masih termasuk golongan yang cupu di semesta blog Indonesia. Hanya kenal sedikit blogger lain, karena kala itu yang namanya kegiatan kumpul-kumpul (kopdar) masih sangat jarang.

Awalnya saya ngeblog di blog Media-Ide.com karena saya terinspirasi oleh beberapa suhu blogger seperti Enda dan Priyadi. Saya waktu itu nggak kenal mereka berdua. Saya mengikuti dari dua blog ini, siapa-siapa saja sih yang suka berkomentar, lalu berkunjung (blogwalking) ke masing-masing blog pengomentarnya. Saya lalu tahu ada beberapa komunitas blog dari blogwalking ini. Menarik, meski saya malu juga untuk ikut bergabung karena saya belum kenal siapa-siapa.

Yang saya bahas di blog Media-Ide.com memang bukan hal yang biasa orang lain tulis. Karena pada dasarnya saya nggak bisa menulis cerita pribadi, akhirnya yang saya tulis adalah pengamatan saya terhadap dunia yang saya gemari dan terjuni, yakni dunia kreatif dan interaktif. Saya terkesan dengan tulisan-tulisan di AdRants dan Adverblog, lalu berniat membuat hal yang serupa, tapi versi Indonesia.

Saya akhirnya sempat bergabung dengan komunitas blog Merdeka, sejak diundang oleh dedengkotnya Andry Huzain. Melalui komunitas inilah saya akhirnya bertemu dengan blogger-blogger senior yang juga saya kagumi setiap tulisannya, Ndoro Kakung dan Paman Tyo.

Berkat ngeblog ini, blog saya ternyata terpilih sebagai salah satu finalis blog kategori marketing di Pesta Blogger 2007, dan akhirnya menang. Dari beragam kategori award di Pesta Blogger 2007, yang dianggap sebagai best of the best waktu itu adalah blognya Enda. Namun karena Enda juga adalah ketua Pesta Blogger 2007, maka dengan ikhlas Enda meneruskan hadiahnya ke terbaik kedua, yaitu blog Media-Ide.com. Lumayan, dapat hadiah lah yang jelas.

Perjalanan selanjutnya biasa-biasa saja. Saya mencoba untuk konsisten berbagi informasi seputar hal yang sama di blog Media-Ide.com. Dalam perjalanannya saya pun akhirnya berkenalan dengan banyak komunitas blog lainnya, seperti BHI (Jakarta), Cah Andong (Jogja), Loenpia (Semarang), dll. Komunitas yang bloggernya tidak hanya asyik menulis, tapi juga aktif bekontribusi terhadap lingkungan sekitarnya. Yang jelas, teman saya di dunia online ini semakin banyak.

Tahun 2008 saya iseng-iseng mengirimkan blog saya untuk berpartisipasi dalam The BOBs Award yang diadakan oleh Deutsche Welle, Jerman. Sejak tahun itu mulai dimasukkan kategori blog berbahasa Indonesia. Salah satu jurinya juga dari Indonesia, Budi Putra, blogger senior yang banyak membahas teknologi. Kebetulan pula, dari sekian banyak blog berbahasa Indonesia yang ikut dalam kompetisi itu, blog saya terpilih sebagai pemenangnya. Hadiahnya sih nggak seberapa penting, radio internet, yang pada masa itu sulit digunakan karena keterbatasan koneksi internet yang saya miliki.

Yang jadi kejutan adalah saat Deutsche Welle menyelenggarakan Global Media Forum di Bonn, Jerman di tahun 2009. Saya tiba-tiba mendapat undangan untuk hadir, karena di event ini pula, para pemenang dari berbagai negara akan menerima penghargaannya. Tentunya semua tiket dan akomodasi selama 3 hari ditanggung oleh panitia (meski ternyata untuk tiket pulang pergi saya harus membayarnya terlebih dahulu). Saya pun berkenalan dengan blogger berbagai bangsa yang berbagi cerita tentang kondisi kebebasan berekspresi di negara mereka masing-masing. Selama 8 hari akhirnya saya habiskan di Jerman. Perjalanan ke Jerman ini pun saya rangkum semua dalam ebook 8 Hari di Jerman yang bisa dibaca dan diunduh gratis. Lagi pula, apa sih yang bisa dibawa oleh seorang blogger kecuali cerita dan foto?

Di penghujung tahun 2009, saya ternyata masih mendapat kesempatan untuk berjalan-jalan lagi. Saya diundang untuk mengikuti Blogfest Asia di Hong Kong. Saya pun merangkum perjalanan ini melalui ebook Hong Kong yang bisa dibaca dan diunduh gratis pula. Kesempatan untuk menghadiri event internasional yang mengundang blogger dari berbagai negara ini memberikan saya masukan kalau negeri kita ini benar-benar sangat beruntung dalam kebebasan berekspresi. Miris rasanya kalau mendengar pengalaman teman-teman blogger di luar sana yang tak boleh berkumpul dalam jumlah banyak, mendapat tekanan dari Pemerintahnya, hingga ada yang pernah dipenjara.

Berkat ngeblog pun belum berakhir. Di akhir tahun 2009 saya bersama beberapa blogger lain diundang oleh Acer untuk mengikuti workshop (dan jalan-jalan, banyak jalan-jalannya sih) ke Lombok dan Gili Trawangan. Rekor bagi saya bisa menuliskan 3 ebook pada tahun 2009, dengan ebook terakhir bercerita tentang wisata ke Lombok dan Gili Trawangan ini.

Saat itu cukup banyak teman-teman blogger yang akhirnya menelurkan buku baru. Salah satu yang saya kagumi adalah Ollie, yang entah sudah berapa puluh buku yang ia tulis. Rasanya nggak afdol juga ya kalau nggak pernah bikin buku. Tahun 2010 pun saya akhirnya berhasil membuat 3 buku, semuanya berhubungan dengan yang pernah saya tuliskan di blog. Ada E-narcism, F-Marketing, dan Twitter/Plurk. Dibilang sukses sih nggak juga ya, karena yang laku pun sebetulnya nggak banyak. Namun setidaknya saya punya portfolio baru di sini.

Tahun 2011 sebagai blogger, saya pun diajak oleh Acer menjadi salah satu Acer Friendsnya. Berkat ngeblog ini juga, saya pun menjadi salah satu orang yang pertama merasakan memegang Acer Iconia Tab, yang masih saya pakai hingga saat ini. Beberapa kali juga saya diminta untuk berbagi cerita di seminar dan workshop, membahas tentang topik yang sering saya ceritakan di blog. Beberapa kali sebagai blogger, saya diundang untuk hadir dalam beragam acara yang bisa membantu memperluas networking saya. Yang paling penting, berkat ngeblog, teman-teman saya pun semakin banyak.

Hingga saat ini saya masih mencoba untuk terus ngeblog, meski sejujurnya semangat ngeblog ini kadang ada, kadang menghilang. Apalagi blog Media-Ide.com ini membahas hal yang niche, yang kadang membuat saya sering kehabisan bahan ulasan.

Saya kini punya 3 blog lain di luar Media-Ide.com. Masing-masing blog ini menyalurkan obsesi saya menulis di bidang yang berbeda-beda. Blog mataku.media-ide.com lebih membahas tentang kecintaan saya terhadap fotografi. Blog laindunia.media-ide.com berisikan cerita-cerita pendek, yang kebanyakan bergenre flash fiction. Lalu yang baru saya hidupkan adalah blog ini, pitra.media-ide.com, yang berisikan cerita personal yang saya alami. Saya juga masih menulis ebook, dan ebook terakhir saya bercerita tentang perjalanan saya ke negeri Shenzhen, Hong Kong, dan Macau.

Berkat ngeblog, saya pun bisa eksis di dunia online (plus berkat Twitter juga sih). Terima kasih untuk teman-teman blogger yang terus menginspirasi saya (dan memaksa saya) untuk menulis hingga saat ini. Semoga blog Media-Ide.com dan anak-anaknya masih bisa eksis hingga tahun-tahun mendatang.

Rambut Gondrong Masa Lalu

Hari ini (sejak kemarin sih) para kaum adam di Twitter kembali bernostalgia. Banyak loh dari kita (termasuk saya sendiri) yang penah berambut gondrong. Halah, masa lalu banget ini sih.

Petualangan saya berambut gondrong dimulai semenjak saya ikutan OS MAD (Masa Adaptasi Diri) di IMA-G ITB (Ikatan Mahasiswa Arsitektur Gunadharma – ITB), himpunan tempat saya bernaung kala kuliah dulu. Saat OS MAD, rambut saya sempat diacak-acak, hancur lah pokoknya. Mau nggak mau, setelah acara berakhir, saya harus membotakkan diri. Plontos. Banget.

Mumpung masih kuliah, saya juga ingin dong merasakan enak/nggak enaknya berambut gondrong. Selama dua tahun saya pun nggak memotong rambut saya, kecuali sekedar merapihkan saja. Hasilnya, rambut saya pun panjang hingga sepunggung. Anehnya, rambut saya ini aslinya lurus. Namun begitu memanjang hingga leher, mulai mengikal.

Jadi kalau dulu di jurusan ada “pertempuran” antara para pria berambut lurus dan berambut keriting, maka saya pun hanya bisa terjebak di tengah-tengah. Untunglah saya baik hati dan tidak sombong, dan tidak membeda-bedakan teman berdasarkan panjang dan bentuk rambutnya. Ini apaan sih?

Masa-masa keemasan berambut gondrong pun berakhir menjelang saya memasuki Tugas Akhir. Ya iyalah, bisa digeplak dosennya kalau pas sidang tugas akhir rambut saya masih gondrong. Sebelum saya dan teman-teman saya berpisah dengan rambut kami masing-masing, maka kami pun mengambil sebuah keputusan yang sangat penting. Kami harus berfoto bersama di Jonas Photo!!

Kalau ingat dulu melihat ekspresi mbak fotografernya saat memotret kami semua… Sungguh priceless.

Postingan ini sungguh penting sekali ya?

Oh ya, cek juga ini nih, kumpulan avatar gondrong se-Twitter.