Menulis di Dalam Bus Trans Jakarta

Hampir setiap hari saya menggunakan bus Trans Jakarta dari rumah ke kantor, dan sebaliknya. Lumayan waktu yang dibutuhkan, antara 30-45 menit tergantung keberadaan si bus sendiri. Kalau saat pulang malah lebih lama karena bus harus mengalah dengan para mobil dan motor yang ikut mengambil jalurnya.

Waktu itu sebetulnya cukup lumayan untuk dipakai melakukan hal produktif. Seandainya saya bisa membuka laptop, saya pasti akan memanfaatkannya untuk bekerja. Sayangnya nggak mungkin melakukan itu. Akhirnya waktu dipakai untuk membaca keseruan di social media, group chat, hingga artikel berita melalui ponsel. Namun itu semua bersifat pasif. Artinya saya hanya jadi penerima materi saja.

DSCF3736

Apa yang biasa saya lakukan di perjalanan?

Menjadi Pengguna Metro Mini atau Kopaja

Siapa yang masih menjadi pengguna Metro Mini atau Kopaja?

Saya sendiri sudah jarang menggunakan jasa mereka. Kebetulan memang trayek yang saya tempuh setiap hari sudah tergantikan dengan bus Trans Jakarta. Namun tetap ada kalanya saya terpaksa menggunakan Metro Mini atau Kopaja. Biasanya saat antrian bus Trans Jakarta terlalu panjang sementara di luar jalur sana terlihat banyak Kopaja lalu lalang. Demi efisiensi waktu, saya pun terpaksa beralih ke Kopaja.

Ada kalanya juga saya pakai Metro Mini atau Kopaja untuk menyusuri jalur yang memang tidak dilewati bus Trans Jakarta. Itu sih mau nggak mau. Sekarang memang ada pilihan bagi saya untuk menggunakan Go-jek atau Grab Bike, tapi tentu dengan konsekuensi ongkos yang lebih mahal. Ada bagusnya juga sih sekarang Pemda DKI mulai mengakomodir pengelola Kopaja untuk ikut meramaikan trayek bus Trans Jakarta. Pilihannya jadi lebih banyak, meski belum bisa menjawab kebutuhan semua trayek.

DSCF3605

Hal menyebalkan saat menggunakan mini bus tersebut

Taman di Bintaro Jaya Xchange

Hari Minggu siang kemarin saya memang meniatkan diri untuk pergi ke Bintaro Jaya Xchange Mall, untuk melihat/memotret event Japan Festival 2015. Ini pertama kalinya saya pergi ke sana. Saya mendengar info dari teman, kalau akses menuju mall ini mudah dicapai melalui Commuter Line. Daripada saya membuang tenaga menyetir mobil ke Sektor 7 Bintaro yang pastinya jauh, lebih baik saya coba naik Commuter Line.

Saya menggunakan kereta dari Tanah Abang menuju Serpong. Saya naik dari Palmerah, yang paling dekat dengan rumah saya. Stasiun terdekat Bintaro Jaya Xchange Mall adalah Jurang Mangu, yang hanya berbeda 3 stasiun dari Palmerah. Cukup 15 menit dari Palmerah. Cepat kan?

Keluar dari stasiun tinggal mengikuti jalur pejalan kaki yang sudah disediakan. Melewati jembatan kayu di atas sungai bening (untung nggak bau ya), lalu lanjut melewati jalur yang sudah dipasang paving. Tempat jalannya menyenangkan, meski saya kurang tahu apakah cukup terang dilewati saat malam ya. Tidak sampai 5 menit saya langsung berada di seberang mall tersebut. Wah, ini enak banget. Kalau ke sini beneran nggak perlu pusing nyetir mobil, karena berkereta jauh lebih nyaman.

IMG_0463
Jalur pejalan kaki dari stasiun Jurang Mangu

Sedikit lagi sampai di tujuan nih…

Pengguna Grab Taxi

Sudah dua kali naik taksi Express gw melihat pak supir ternyata pengguna aplikasi Grab Taxi. Gw sendiri belum pernah pakai, meski pernah dengar mekanismenya app-nya sebelumnya. Kesempatan ini nggak gw lewatkan dong untuk ngobrol-ngobrol dengan si pak supir, untuk dapet insight dari sudut pandang mereka.

Pada kesempatan pertama dulu, gw sempat dapet cerita dari pak supir mengenai mekanisme ordernya. Gw pesan melalui aplikasi Grab Taxi. Lalu nanti taksi terdekat yang berada di posisi gw akan merespon. Si supir akan memencet tombol terima order. Bila ada banyak supir yang mencet bersamaan, maka akan dipilih taksi yang paling dekat dengan posisi gw. Si supir yang dapet order ini nanti akan dapat bonus Rp.20.000 dari Grab Taxi, sementara supir-supir lain yang masih di area dekat dan ikut memencet tombol terima order, namun gagal dapet, masih menerima bonus Rp.5.000. Hmmm, lumayan banget kan?

Lalu gw juga tanya ke si pak supir, ikutan program Grab Taxi sesulit apa? Katanya nggak susah. Tinggal apply ke kantor Grab Taxi, periksa dokumen, foto, maka akan langsung jadi partner Grab Taxi. Kalau si pak supir nggak punya hape android, maka ia bisa menyicil ke Grab Taxi android Acer seharga 1 juta rupiah. Si pak supir harus bayar Rp.100.000 di awal, lalu di bulan kedua, setiap harinya akan dipotong Rp.10.000 dari komisi selama 3 bulan. Kalau sudah punya hape android sih, tinggal minta diinstalkan aplikasinya saja.

Si pak supir juga cerita tentang Easy Taxi, yang saat ini bisa dibilang kompetitornya Grab Taxi. Model bisnisnya serupa, tapi bonus yang diberikan Easy Taxi berupa sembako di akhir bulan bila mencapai target rupiah tertentu.

Yang saya bingung adalah, kalau Grab Taxi memberikan kemudahan untuk konsumen, dan juga untuk supir taksi, lalu dari mana aplikasi ini mendapatkan revenue? Supir taksi yang menjadi pengguna aplikasi Grab Taxi tidak ada kewajiban menyetor apapun (kecuali kalau beli hape android di atas ya). Mereka malah dapet bonus.

Si pak supir sepertinya juga memikirkan hal yang sama. Saat ia menanyakan ini ke pihak Grab Taxi, jawaban yang ia terima adalah klise. “Bapak nggak usah memikirkan Grab Taxi dapet profit dari mana. Bapak juga nggak pusing bertanya dari mana Facebook dapet uang kan?”

Pengalaman bertemu kedua kalinya dengan supir taksi pengguna Grab Taxi adalah pagi tadi. Saat saat masuk, si pak supir langsung memberikan kartu dengan nomor kode unik Grab Taxi. Si pak supir nanya apakah gw sudah menginstall aplikasi ini belum. Gw jawab belum, tapi bolehlah gw install sambil jalan.

Namun karena ukuran file yang cukup besar (hampir 10 MB), ternyata hape android ini nggak mengizinkan gw untuk mengunduhnya melalui jaringan 3G. Harus di wi-fi. Tanpa gw duga, si pak supir malah menawarkan, “Pak, pake wi-fi saya aja nih untuk download-nya.” Lalu dia menyalakan modem Bolt-nya.

“Eh buset, niat amat sih ni supir taksi,” pikir gw. Lalu gw pun men-download app-nya. Si pak supir lalu terus memandu pengisian, termasuk di mana harus mengisi kode voucher yang tadi ia berikan ke gw saat masuk.

Lalu ia meminta gw untuk mensimulasikan order taksi. Ia pun meminggirkan taksinya dulu supaya gw bisa mendapatkan posisi GPS yang tetap. Setelah 3 kali mencoba, akhirnya yang keluar adalah taksi dengan kode yang gw tumpangi. Setelah saya approve dan booking (ceritanya booking, padahal sih sudah di dalam taksi), baru saya tanya lagi ke pak supir.

“Pak, emang dapet bonus apa sih? Kok kayaknya niat banget minta saya registrasi?”

“Buat penumpang kan bonus Rp.15.000 dari voucher. Nah, buat saya dapet bonus Rp.20.000,” katanya.

Owalah, pantesan aja. Sambil jalan dia juga cerita kalau ada temannya yang bahkan punya tabungan komisi di Grab Taxi sampai 9 juta rupiah. Edun, bisa jadi bonus tambahan ini sih. Pantesan banyak supir taksi yang pengin ikutan.

Gw tanya, selain Express, supir taksi mana lagi yang ikutan program Grab Taxi? Dia jawab, yang paling banyak sih memang Express dan Gamya. Supir Blue Bird juga ada sih, tapi ngumpet-ngumpet. Mereka nggak boleh pakai karena kan Blue Bird sudah punya sistem order digitalnya sendiri.

Si pak supir taksi yang ini juga merasakan kebingungan serupa dengan pak supir taksi yang dulu gw temui. Dari mana Grab Taxi dapat keuntungannya ya kalau setiap saat selalu ngasih bonus ke konsumen dan supir taksi? Ya gw cuma bisa jawab, paling ya selama ini dari investornya dulu. Nggak tau deh tapi bisa sampai kapan ya bertahan. Oh iya, si pak supir juga cerita kalau Easy Taxi ternyata sudah nggak ada lagi. Jadi pilihannya sekarang tinggal Grab Taxi (atau Uber Taxi, tapi ini sih beda kategori ya).

Kalian pernah punya pengalaman dengan Grab Taxi juga?

Tulisan ini juga bisa ditemukan di Google Plus.

Bermain dengan Cahaya di Waktu Malam

Jumat malam kemarin, sekitar pukul 20:00 – 24:00, saya bersama teman-teman berkumpul di tempat pembuangan mobil (jual/beli/apalah itu namanya yang bahasa Inggris-nya “junkyard”). Yang datang saat itu ada si pengajak utama, @goenrock, lalu ada pula @wennythok, @aMrazing, @nurinuriii, @mozta_, @ifnhr, dan beberapa lainnya (nggak tau ID twitter-nya).

Di lokasi itu kami berekspermen dengan hal baru di fotografi yang belum pernah kami coba sebelumnya, yaitu light painting. Intinya adalah, kami memanfaatkan lampu dan senter untuk menerangi objek di tengah gelap gulita malam. Selama proses itu, shutter kamera dibiarkan membuka selama 15-30 detik untuk merekam sinar yang masuk. Objeknya sebetulnya bisa apa saja, tapi sepertinya kalau menggunakan mobil rongsokan atau puing-puing terasa lebih misterius.

Untuk memotret seperti ini, apa saja sih yang dibutuhkan?

  1. Tripod, ini pasti banget. Nggak mungkin dong shutter kamera dibuka lama-lama tanpa ada penyagga.
  2. Lampu LED. Sebetulnya nggak harus lampu LED sih. Kalau punya emergency lamp juga bisa. Intinya carilah lampu yang bisa menyala terus-menerus secara kontinu. Nanti lampu ini ditaruh di bagian mobil yang ingin mendapat penerangan terus-menerus. Kalau untuk kasus foto yang kemarin dibuat, si lampu ditaruh di dalam interior mobil, atau di dalam kap mobil, atau di bawah mobil.
  3. Beli plastik mika transparan (mau warna biru, kuning, hijau, apapun bebas), lalu lapisin lampu di atas dengan mika ini. Tujuannya supaya si lampu jadi berwarna. Kalau bisa punya 2 sih lebih baik.
  4. Bawa senter. Sepanjang shutter kamera dibuka, senterin bagian dari objek yang mau dikasih cahaya. Senterin dengan merata di daerah yang memang diinginkan. Lebih enak kalau saat memotret barengan dengan teman, supaya ada yang bantuin menyenter di bagian yang berbeda.
  5. Kamera yang bisa diset manual. Gunakan f 8 atau f 11, supaya kalau ada lampu di belakang objek bisa terlihat spark-nya. Karena ini gelap, dan fokus cenderung sulit, paling aman memang pakai f ukuran di atas, supaya depth of field-nya bisa lebar.

Terus hasilnya kayak gimana? Ini saya share 6 foto final yang sudah saya edit tone-nya dan sedikit olah digital.

IMG_5246

IMG_5217

IMG_5226

IMG_5233

IMG_5261

IMG_5262