Arah Kisah Kita

Hari Jumat minggu lalu, saya dan beberapa rekan blogger diundang ke event Opera Indonesia. Brand ini baru saja merilis film pendek di YouTube berjudul Arah Kisah Kita. Pemerannya Genrifinadi Pamungkas (Okta Andromedha, penulis buku) dan Clairine Clay (Olivia Samudera, pencinta sejarah). Film pendek yang disutradarai Salman Aristo, dan ditulis oleh Gina S. Noer dan Diva Apresya ini terasa banget digarap serius. Meski sudah muncul di YouTube sejak beberapa minggu, namun saya baru sempat lihat di hari itu.


Lanjut lihat sekuelnya

Juwita Band

Juwita Band

Juwita yang dimaksud ini bukan musuhnya si Sirik loh. Emangnya majalah Bobo masa lalu? Juwita ini ceritanya adalah girl band yang belakangan ini cukup beken di YouTube.

Pas pertama kali lihat mereka dulu, yang teringat pertama kali adalah Bangles. Itu loh yang pertama kali banget nyanyi Eternal Flame. Cari di YouTube dulu sana. Bangles itu semuanya cewek, semuanya main instrumen, dan cukup disegani dulu pada eranya (tebak sendiri tapi tahun berapa).

Kembali lagi ke Juwita. Saya pertama kali tahu tentang mereka pas mereka bikin cover lagunya JKT48. Seiring dengan populernya JKT48 memang mulai banyak musisi (baik itu sekedar iseng ataupun serius) yang bikin cover-nya. Namun pas lihat lagu Aitakatta yang dibawakan Juwita, terasa banget ada sesuatu yang beda. Mereka punya keunikan sendiri. Lagu sih sama, tapi gaya dan aransemen tetap ciri khas mereka sendiri.

Baru baca-baca juga kalau ternyata personilnya muda-muda banget. Yang paling senior, yang sepertinya lebih banyak terlibat aktif di akun social medianya @juwitaband, adalah Nora. Nora ini yang main keyboard. Lalu ada Dela dan Vega yang pegang gitar akustik. Ada Risa yang pegang gitar elektrik. Lalu ada Angga di bass dan Dynda di drum. Yang nyanyi siapa? Semuanya nyanyi!

Gimana kalau kalian menyimak beberapa cover lagu Juwita ini dulu?

Aitakatta! (JKT48)

Baby! Baby! Baby! (JKT48)

Separuh Aku (Noah)

Get Up Move On (Bexxa)

Brand New Day (Cherrybelle)

Mereka juga baru saja manggung di program The Comment di .NET.

Lalu Juwita ini juga baru saja mengeluarkan single mereka sendiri loh. Judulnya Rahasia Hati. Hihi saya sudah dengar lagunya, keren banget. Mereka pernah juga bawain lagu ini di TVRI. Berikut ini rekamannya.

Jadi menurut kalian, Juwita keren nggak?
Lalu untuk para cowok, yang paling cakep di antara mereka yang mana?

Menikmati Musik Goose House

Gara-gara banyak memutar video AKB48 di YouTube, saya jadi menemukan band indie ini. Namanya Goose House. Mereka berdelapan, 4 cowok dan 4 cewek. Mereka suka bermain akustikan di depan webcam. Banyak banget videonya di YouTube. Umumnya mereka menyanyikan cover lagu-lagu lain, lagu Jepang dan Amerika. Tentunya setiap lagu itu dibawakan dengan kekhasan mereka sendiri.

Mereka juga suka menggelar pertunjukan live streaming. Untuk jadwalnya coba buka situs mereka. Pertunjukan berikutnya nanti pada tanggal 18 Februari 2012.

Saya belum sempat menonton semua pertunjukan mereka sih. Saya baru klik-klik video yang memang saya sudah familiar dengan lagunya. Untuk perbandingan, saya tampilkan di bawah ini, 10 lagu versi asli dan versi cover yang pernah mereka lakukan. Dengarkan deh, pasti kalian takjub karena Goose House bisa membawakannya dengan unik sesuai gaya mereka sendiri.

ポニーテールとシュシュ (versi AKB48)

ポニーテールとシュシュ (versi Goose House)

First Love (versi Utada Hikaru)

First Love (versi Goose House)

Prisoner of Love (versi Utada Hikaru)

Prisoner of Love (versi Goose House)

Chocolate Disco (versi Perfume)

Chocolate Disco (versi Goose House)

La La La Love Song (versi Toshinobu Kubota)

La La La Love Song (versi Goose House)

Go Go Summer! (versi Kara)

Go Go Summer! (versi Goose House)

Top of the World (versi The Carpenters)

Top of the World (versi Goose House)

歩いて帰ろう (versi Kazuyoshi Saito)

歩いて帰ろう (versi Goose House)

I Wish for You (versi Exile)

I Wish for You (versi Goose House)

車輪の唄 (versi Bump of Chicken)

車輪の唄 (versi Goose House)

Video Pembela Hak Pejalan Kaki

Lihat dulu deh video di atas!

Sungguh salut bener saya melihat sikap si ibu itu! Ia dengan cueknya menyuruh semua pengemudi motor roda dua untuk minggir dari atas trotoar. Si ibu niat. Ia terus menyusuri trotoar, menegur satu persatu setiap pengemudi motor untuk turun. Seperti biasa, ada pengemudi motor yang nggak mau terima disuruh-suruh, tapi akhirnya mengalah juga dan turun.

Salut saya. Kalau yang di video itu saya, paling saya cuma bertahan menegur 1-2 motor pertama. Kalau terlalu banyak seperti di atas, saya sudah pasti menyerah. Meski pasti hati ini akan dongkol pisan.

Sebenarnya kenapa sih para pengemudi motor banyak yang bandel seperti ini? Padahal mereka sudah dapat jalan raya. Jalan yang mereka kuasai sendiri bersama mobil roda empat. Jalan yang biaya pembangunannya saja jauh lebih mahal daripada untuk para pejalan kaki.

Saya duga, alasannya adalah karena memang pada dasarnya mereka punya kebiasaan buruk.

  • Kebiasaan ingin cepat kesana kemari, sampai jalur bus Trans Jakarta ikutan dibabat.
  • Kebiasaan nggak sabar saat berada dalam antrian lampu merah, dan tak memberi kesempatan orang lewat menyeberang jalan.
  • Kebiasaan mengambil jalan pintas lewat gang kampung.
  • Kebiasaan ingin cepat berputar arah, lalu seenaknya naik jembatan penyeberangan.
  • Kebiasaan naik trotoar lalu bergerak berlawanan arah dengan laju pergerakan kendaraan lain.
  • Kebiasaan parkir sembarangan di trotoar.
  • Kebiasaan mengklakson siapa saja yang menghalanginya (meskipun si motor sedang berada di trotoar atau jembatan penyeberangan).

Ada yang mau memberi masukan tambahan?

Saya yang kemana-mana suka berjalan kaki terus terang sebal dengan kelakukan para pengemudi motor di atas. Dengan kemampuan yang terbatas, yang bisa saya lakukan biasanya hanya:

  • Menghalangi motor yang berjalan di trotoar dengan berjalan santai berbelok ke kiri dan ke kanan.
  • Kalau trotoar sempit, saya suka berjalan di tepiannya. Pasti ada bagian tubuh saya yang menghalangi motor yang berusaha lewat. Namun saya cuek saja. Biarin saja si motor yang bersabar.
  • Kalau sampai si pengemudi motor mengklakson, adalah kesempatan bagi saya untuk teriak, “Emang elo kira ini jalan siapa?”
  • Kalau naik ojek, ingatkan si supir ojek untuk nggak naik ke atas trotoar, demi memotong jalan pintas. Kalau memang harus berputar untuk sampai ke tujuan, ya berputarlah.
  • Saya suka menyiapkan kamera kalau naik jembatan penyeberangan. Begitu ada motor yang naik sembarangan, potretlah.

Nah kalau kamu sendiri bagaimana? Sebagai pejalan kaki, apakah kamu gusar dengan pengemudi motor tak bertanggung jawab seperti di atas?

Hiburan Motion Comic

Apa itu motion comic? Ini sebenarnya genre yang agak banci, dibilang komik ya terlalu kompleks, tapi dibilang animasi ya terlalu sederhana. Motion comic itu biasanya menggunakan elemen-elemen gambar dari suatu komik, lalu dianimasikan, diberi efek suara dan grafis. Karena geraknya yang biasanya sederhana, kekuatan utamanya adalah pada pengisi suaranya. Anggap saja, kita jadi melihat komik yang dihidupkan dalam format gerak (masih menggunakan desain artwork asli dari komik).

Saya sendiri antara suka dan tidak suka melihat motion comic. Ada yang gerak animasinya lumayan bagus, pengisi suaranya jelas, maka hasilnya pun enak dinikmati. Namun tetap saja, saya cuma bisa menikmatinya dalam waktu pendek. Alias, kalau yang saya tonton itu sampai berdurasi lebih dari 15 menit, saya pasti langsung bosan.

Mungkin itu juga, para produser motion comic ini selalu menayangkannya dalam durasi pendek, dan dibagi menjadi beberapa episod. Supaya nggak terlalu jenuh menontonnya.

Saya pertama kali tahu genre motion comic ini sewaktu melihat Spider Woman diadaptasi dari komiknya menjadi potongan film pendek, dan ditayangkan di situs Marvel.com. Marvel pernah pula mengadaptasi komik Captain America: Reborn, Astonishing X-Men, dan Iron Man: Extremis menjadi motion comic. Yang paling keren sih Iron Man: Extremis karena animasinya menambahkan animasi 3D baru sebagai pelengkap elemen di dalamnya. Semua seri motion comic Marvel ini cuma bisa dinikmati dengan mengunduhnya di iTunes.

Yang baru saya lihat (tepatnya mengunduh sih beberapa hari lalu) adalah serial motion comic Batman: Black & White dan Superman: Red Son dari DC. Sebelumnya, DC pernah pula mengeluarkan seri Batgirl: Year One dalam versi motion comic. Cukup menarik, setidaknya saya bisa menonton seluruh episod Superman: Red Son tanpa ketiduran. Hahaha…

Ada yang menggunakan motion comic sebagai teaser akan dikeluarkannya film yang diadaptasi dari suatu komik. Seperti motion comic Walking Dead, yang meskipun berwarna hitam putih tetap bisa menarik untuk disimak cerita animasinya.

Salah satu channel populer di YouTube, Machinima, bahkan kini menayangkan motion comic yang diadaptasi dari serial komik John Woo’s 7 Brothers. Serinya masih tayang hingga saat ini.

Genre motion comic ini juga banyak penggemarnya. Coba saja cari di YouTube, banyak banget buatan para fan. Mereka mengambil elemen komik asli lalu mereka olah ulang dengan grafis dan pengisian suara. Meski nggak semuanya bagus buat disimak sih. 🙂