Penguasa

Hari ini persis setahun ia berkuasa. Tahun-tahun penuh kekejaman dan penuh siksaan. Potongan tangan bertaburan di tepi jalan. Potongan kaki bertumpuk menggunung. Kami, korban-korban yang tersisa hanya bisa menatap sedih. Banyak dari kami yang kini hidup tanpa indra.

Sesekali sang penguasa melepas peliharaannya yang menakutkan, seekor monster cokelat berbulu raksasa. Giginya tajam. Sekali mengoyak, nyawa kami pun melayang. Penguasa yang mengerikan, monster yang menakutkan. Kami bahkan tak sempat berlari. Mungkin keberuntungan saja yang memisahkan nasib kami semua.

Kami ingin keamanan. Kami ingin kenyamanan. Kami ingin penguasa yang baru, yang merawat dan melindungi kami. Bukan malah memburu dan menghancurkannya. Apakah ada yang sanggup menyelamatkan negeri kami, negeri boneka, dari ancaman manusia?

Kebahagiaan Semu

Aku tertawa keras di pagi hari. Guyonan seorang teman membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Kopi pagiku hampir tumpah karenanya.

Aku tersenyum kala seorang temanku bercerita tentang pengalamannya. Ia menyampaikannya dengan cara yang tak biasa. Bermain kata seolah kamus padanan indah selalu mengisi pikirannya.

Aku menyeringai lebar saat tengah malam teman-teman memberiku ucapan selamat ulang tahun. Sungguh kegembiraan hati tak terbendung. Semua tak lupa akan hari setahun sekaliku ini.

Semua tawa, senyuman, dan kegembiraan memang menyenangkan. Aku akui itu semua. Meski setitik ruang dalam hati ini masih tetap merasa sepi. Ada kepingan yang terasa kurang untuk pelengkap kebahagiaan.

Apakah ini rasa karena semua temanku hanyalah maya?

Mungkin aku memang butuh sosialisasi nyata, yang lebih daripada sekedar menatap linimasa Twitter-ku setiap saat.

Terkekung Diam

Sudah lama aku terkekung diam. Bertahun-tahun tangan-tanganku tak bisa bergerak. Tak terhitung berapa malam kaki-kakiku tertanam keras. Aku selalu dalam kurungan, tak bisa menggoyangkan tubuh, tak bisa melirik, tak bisa bersuara. Duniaku hanya sekitarku. Imajinasi untuk berkelana menyentuh seluruh permukaan dunia hanya mimpi. Tak bisa terwujud. Tak akan pernah bisa terwujud.

Cerita tentang dunia hanya bisa kudengar dari para teman mungilku. Mereka yang berkelana ke langit luas, dan berbagi perjalanannya kepadaku. Tak jarang aku sedih, tak jarang aku menangis, tak terhitung berapa kali aku iri mendengarnya. Para teman kecilku yang baik. Mereka selalu menemaniku setiap hari dan malam. Nyanyian mereka setiap pagi menyejukkan batinku. Temanku, sahabatku, keluargaku, peneman hidupku seutuhnya. Sejak aku masih berukuran tunas hingga kini aku menjadi sebuah beringin raksasa.