Museum Fujiko F. Fujio

Museum tampak belakang
Museum tampak belakang

Profesor Fujiko F. Fujio adalah mangaka dan animator senior yang menelurkan banyak karya yang dikenal hampir di seluruh dunia. Pastinya kenal dengan serial Doraemon, P-Man, dan Kiteretsu Daihyakka kan? Nah, Profesor Fujiko inilah pembuatnya.

Tiket masuk ke Museum Fujiko F. Fujio hanya bisa dibeli melalui mesin yang tersedia di beragam toko Lawson di Tokyo. Sayangnya tak ada pilihan bahasa Inggris di mesin ini. Jadi akan butuh bantuan seseorang yang bisa membaca huruf kanji yang bisa memesankannya. Tinggal tentukan tanggal dan jam kedatangan ke museum. Mesin tersebut akan memberi tahu apakah pada tanggal dan jam tersebut kuota masih tersedia. Harga per tiketnya 1.000 Yen, yang bisa langsung dibayarkan di kasir Lawson. Selain untuk membeli tiket masuk Museum Fujiko F. Fujio, melalui mesin ini pula, kita bisa memesan tiket masuk ke Museum Ghibli, juga dengan harga sama, 1.000 Yen.

Tiket ke museum, dibeli di Lawson
Tiket ke museum, dibeli di Lawson

Setiba di stasiun Noborito carilah bus mini berwarna biru dengan gambar karakter Doraemon di sisinya. Bus mini ini akan mengantar langsung ke tujuan.  Museum Fujiko F. Fujio berlokasi tak jauh dari stasiun, di tepian kota Tokyo, dengan biaya 200 Yen. Di depan museum sudah menunggu beberapa petugas perempuan dengan seragam yang lucu sekali. Ipi bilang kalau seragamnya mengingatkan akan seragam yang dikenakan oleh salah satu karakter di serial Doraemon.

Bus mini ke museum
Bus mini ke museum

Kami pun antri masuk dan menunjukkan tiket. Di dalam tiket ini akan ditukar dengan sebuah alat dengan keypad  dan layar kecil. Alat yang mereka sebut dengan Ohanashi Denwa ini akan menjadi pemandu setiap pengunjung museum.  Tersedia dalam bahasa Jepang, Inggris, Korea, dan China. Saya memilih bahasa Inggris karena jelas saya tidak paham bahasa lainnya.

Ketika saya menemukan nomor yang menempel di dekat sebuah karya, saya cukup mengetikkan nomor tersebut di Ohanashi Denwa. Tempelkan Ohanashi Denwa di dekat telinga seperti saat mendengarkan telpon, maka akan terdengar suara pemandu yang menjelaskan tentang karya tersebut.

Kelebihan Ohanashi Denwa tidak hanya itu. Ada beberapa video dipamerkan di museum. Saat saya mengetikkan angka sesuai yang tertera di dekat layar video, maka Ohanashi Denwa akan melakukan sinkronisasi waktu sehingga suara yang terdengar pun mengikuti video yang diputar. Menarik sekali konsep Ohanashi Denwa ini. Pengunjung bisa mendengarkan dengan privat dan jelas setiap informasi, tanpa perlu mengganggu kenikmatan pengunjung lain.

Ohanashi Denwa
Ohanashi Denwa

Tidak diizinkan untuk memotret karya-karya yang dipajang di dalam museum. Kebetulan pula, saat ini museum masih merayakan ulang tahun yang ke-2. Beberapa karya yang biasanya dipajang merupakan hasil reproduksi, namun tidak kali ini. Khusus selama masa perayaan ulang tahun, hampir semua yang dipajang adalah karya asli Profesor Fujiko.

Museum menampilkan banyak lembaran kertas artwork asli Profesor Fujiko. Manga yang dibuat benar-benar manual. Dengan pensil, tinta, tone, dan pena putih. Untuk teks masih ditempel di atas balon yang digambar manual. Pewarnaan sampul manga masih dikerjakan dengan menggunakan cat air.

Ada salah satu bagian museum yang menceritakan tentang proses pengerjaan manga. Uniknya, lembaran kertas dengan coretan manga ini dikombinasikan dengan tembakan proyektor karakter Doraemon dan Nobita. Mereka berdua seakan-akan menjadi narator proses penggambaran manga. Elemen digital dikombinasikan dengan analog untuk membantu penceritaan.

Museum juga menampilkan beragam benda yang menjadi inspirasi Profesor Fujiko, sejarah manga yang dikerjakan olehnya, hingga kehidupan keluarganya. Salah satu yang sempat menarik perhatian adalah, Profesor Fujiko bersama seorang rekan pernah membuat manga indie saat beliau masih di SMA. Digambar manual, dijadikan buku, dan diedarkan untuk dibaca oleh teman-temannya. Manga ini yang katanya sempat ditunjukkan ke mangaka senior, Osamu Tezuka, yang langsung kagum melihat karya yang sudah terlihat matang untuk ukuran seorang pelajar. Osamu Tezuka ini pula yang menjadi inspirasi bagi Profesor Fujiko untuk terus berkarya hingga akhir hayat.

Museum bukan sekedar tempat menikmati karya. Museum yang menarik adalah bisa mengajak pengunjung untuk terlibat lebih aktif lagi. Taman bacaan manga, tempat bermain dan berinteraksi anak, taman terbuka dengan ikon-ikon Doraemon, hingga kafe dan toko yang menjadi pelengkap aktivitas. Museum Fujiko F. Fujio juga menyajikan pemutaran anime yang khusus disajikan hanya di tempat ini. Ceritanya apalagi kalau bukan seputar Doraemon dan Nobita, yang masuk ke dalam televisi dan berpetualang bersama dengan P-Man dan teman-temannya.

Taman bacaan
Taman bacaan
Interaktivitas untuk anak
Interaktivitas untuk anak

Saya bisa belajar banyak dari Museum Fujiko F. Fujio ini. Memamerkan karya manga yang berbasis kertas pun bisa disajikan dengan cara modern. Setiap pengunjung bisa menikmati penjelasan audio yang privat sesuai keinginannya masing-masing. Yang tak kalah penting adalah, museum tidak diciptakan untuk membosankan. Aktivitas pelengkap menjadi penting. Bahkan museum bisa mendapatkan keuntungannya sendiri melalui penjualan di kafe dan merchandise khas museum. Jumlah pengunjung yang bisa masuk ke museum dalam suatu periode pun dibatasi, sehingga saya tetap merasa nyaman di dalamnya.

Pintu ke mana saja
Pintu ke mana saja
Taman di luar museum
Taman di luar museum

 

Doraemon
Doraemon

(Tulisan ini merupakan potongan dari ebook perjalanan ke Jepang, yang kini masih dalam proses penyusunan. Tunggu tanggal rilisnya ya!)

JKT48 Team KIII

Hari Selasa, 25 Juni 2013, sekali lagi saya mendapat kesempatan menonton theater Boku no Taiyou dari para member Trainee. Ini pertama kalinya pula saya memanfaatkan kartu OFC saya dan berhasil tembus verifikasi.

Sebelumnya melalui beberapa tweet di timeline, ada issue kalau ada nada kejutan di theater malam ini. Entahlah apa. Sebagai orang yang sangat jarang dapat theater, buat saya bisa menonton saja sudah beruntung. Kejutan? Ya kita lihat saja nanti.

Hehehe, namun saya iseng sih menulis tweet seperti ini biar yang lain ikutan penasaran. Padahal namanya juga issue, kan belum tentu benar ya?

Saya nonton Boku no Taiyou seperti biasa. Dapat tiket Biru 9, mendapat panggilan Bingo di tengah-tengah, dan kembali lagi saya dapat duduk di tempat yang itu-itu lagi, di perbatasan antara biru dan hijau deretan kedua dari belakang.

Untuk live report show bisa cek juga postingnya @anakdekan di tautan ini. Di show kali ini (perasaan saya) ada yang beda dari sisi pengaturan sound system. Saat Overture kok lebih gaung dan keras ya, sampai yang chant pun nggak kedengeran. Lalu di beberapa lagu awal, sepertinya salah satu kanal audio ada yang nggak muncul, plus mic dimatikan. Jadi agak konyol melihat member terlihat menggerakkan mulut, tapi tak ada suara apapun yang terdengar.

Di akhir show 16 member yang ada di atas panggung tumben-tumbennya mengundang sisa member Trainee lain naik ke panggung. Jadi lengkap deh di panggung ada 28 member. Mereka yang tidak show saat itu naik ke panggung mengenakan kaos JKT48 merah yang biasa mereka pakai dulu saat lagu terakhir Pajama Drive.

Selanjutnya layar di belakang panggung turun, menandakan pengumuman. Layar menampilkan teaser video konser JKT48 di 5 kota yang ditutup di Jakarta. Pembelian tiket konser Jakarta bisa dilakukan pula di theater setiap harinya. Ini sih tidak ada yang baru ya, tidak bisa dibilang juga sebagai kejutan.

Lalu yang tak terduga, General Manager JKT48, Jiro, berjalan ke hadapan panggung sambil membawa kotak pos besar. Ia bergerak ke arah Rona. Rona menjulurkan tangannya untuk mengambil surat di dalamnya, namun tiba-tiba Jiro bergerak ke arah kanan menuju tempat Lidya berdiri. Jiro meminta Lidya untuk mengambil surat.

Lidya mengambil surat, membukanya, dan terlihat ekspresi cemas di wajahnya. Ia lalu berkata kalau ternyata masih ada satu pengumuman video lagi. Semua member pun terlihat menampilkan ekspresi cemas. Sudah pasti mereka tidak tahu-menahu tentang pengumuman ini.

Kembali lagi layar di belakang panggung turun. Inilah kejutan sebenarnya di show malam itu. Sebuah video kembali ditampilkan. Dari intronya, semua sudah langsung menduga apa yang terjadi. Video menceritakan tentang tanggal dibentuknya Team K dari AKB48, lalu SKE48, dan saat itu pula, tanggal 26 Juni 2013 dibentuk Team K dari JKT48!! Lebih tepatnya disebut dengan Team KIII JKT48, setelah sebelumnya Team KII dari SKE48.

Semoga saja fans HKT48 nggak kesal dan marah terhadap manajemen JKT48, karena mereka yang muncul lebih dahulu daripada JKT48 malah belum punya Team ke-2. Nama Team KIII disabet duluan oleh JKT48, dan bukan oleh HKT48.

Layar menampilkan video shuffle para member Trainee, lalu berhenti di salah satu nama, selama 18 kali. Dari total 28 member Trainee, ternyata hanya 18 orang yang dipilih masuk ke dalam Team KIII. Daftar nama-namanya bisa dilihat di website JKT48. Namun pengumuman ini belum selesai. Seharusnya langsung dipilih siapa yang akan menjadi Kapten Team KIII, namun ini belum dimunculkan. Dugaan saya, pengumuman ini akan dilakukan nanti saat konser di Jakarta.

Langsung saja panggung dipenuhi oleh para member yang menangis, berpelukan, antara bahagia karena mereka terpilih, dan sedih karena belum terpilih. Sepertinya yang belum terpilih adalah mereka yang lebih banyak menjadi member backup di setlist Boku no Taiyou. Menurut saya sendiri, ada yang sebetulnya bagus tapi tidak terpilih. Sebaliknya, ada yang menurut saya masih belum punya performa bagus, tapi terpilih. Entahlah, landasan apa yang mendasari kebijakan manajemen untuk memilih member yang masuk ke dalam Team KIII.

Sambil menangis, mereka pun berpamitan. Masih akan ada sesi handshake untuk para fans saat keluar.

Tentu saja di saat sesi handshake ini terlihat sekali ekspresi bahagia dan sedih bagi mereka yang berhasil dan tidak. Saya hanya mengucapkan selamat saja kepada mereka yang berhasil masuk ke Team KIII. Mata mereka masih merah, Viny bahkan masih menangis. Menangis bahagia tentunya karena berhasil masuk Team KIII.

Namun saat melewati Saktia (Via), yang justru terlihat keren di show saat itu, namun belum berhasil tembus masuk Team KIII, saya melihat kekecewaan yang luar biasa di wajahnya. Saya hanya bisa berucap untuk tetap semangat dan jangan bersedih. Fans-fans lain yang antri di belakang saya pun berucap hal yang sama. Berbeda dengan Novinta (Nobi) yang juga tak terpilih masuk. Meski wajahnya terlihat sedih, ia berusaha semaksimal mungkin untuk tetap tersenyum. Semangat juga ya Nobi!

Suasana handshake saat itu benar-benar berbeda rasanya dibanding hari-hari show biasanya. Sampai saya lupa titipan salam dari teman-teman saya. Lagi pula bagaimana mau titip salam, kalau kondisinya tidak memungkinkan seperti itu?

Selain show mengejutkan semalam, ada hal lainnya yang menyenangkan buat saya pribadi, yang lalu saya tweetkan semalam.

Hihihi, maaf ya kalau terdengar egois. Namun ini baru pertama kalinya ada member yang kenal saya. Jadi khusus untuk di blog ini kayaknya perlu saya catat. Oh iya, saya nggak pernah kirim-kirim fanletter atau gift atau semacamnya ya. Cuma suka mention member yang bersangkutan di Twitter saja.

Akhir kata, semoga Team KIII bisa menjadi team yang lebih baik. Masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Untuk teman-teman fans yang member favoritnya belum berhasil masuk Team KIII, mohon tetap semangati mereka. Kesempatan selalu ada, hanya butuh waktu lebih. Lagi pula, belajar untuk menjadi lebih baik tidak mengenal durasi waktu bukan?

Sekedar Usulan untuk Sistem Tiket Theater JKT48

Sistem tiket theater JKT48 yang menggunakan booking online sudah berlangsung beberapa bulan. Sejak saat itu rasanya.. rasanya loh ya, ada yang selalu beruntung, ada yang selalu gagal mendapatkan undian tiket. Saya sempat melihat screenshot seseorang di Twitter yang lebih dari 90% menang undian tiket selama lebih dari 20 kali booking. Beberapa orang ada yang memang mencoba mencurangi sistem dengan menggunakan identitas ganda, namun tidak orang tersebut. Ia menang undian dengan jujur.

Sebaliknya ada beberapa orang yang berulang kali booking, tapi tidak pernah menang undian. Hahaha, jujur saja saya termasuk di dalam kategori ini. Hari minggu kemarin akhirnya saya menang undian menonton setlist Boku no Taiyou setelah merasakan kalah undian sebanyak 14 kali berturut-turut. Ini adalah keberhasilan saya menonton setlist Boku no Taiyou yang ketiga. Dua kali melalui undian, dan satu kali dulu adalah show spesial Dareko no Tame ni yang menggunakan sistem pengundian manual. Saya sendiri bukan anggota OFC. Saya mengikuti undian kategori umum setiap kali melakukan proses booking tiket.

Saya tidak tahu di belakang layar mekanisme seperti apa yang dilakukan untuk proses pengundian. Apakah murni acak? Ataukah ada bobot tertentu?

Saya juga tidak tahu bagaimana pengaturan presentase jumlah penonton umum dan OFC. Apakah jatah OFC lebih banyak? Atau malah lebih sedikit? Apakah kesempatan OFC mendapatkan tiket lebih besar daripada umum saat pengacakan undian?

Beberapa pertanyaan lain yang mengganggu saya:

  • Apakah kesempatan orang lain yang belum pernah menonton suatu setlist theater JKT48 lebih besar daripada yang sudah pernah menonton?
  • Apakah kesempatan orang lain yang sudah lama tidak menonton suatu setlist theater JKT48 lebih besar daripada mereka yang baru menonton dalam 7 hari terakhir?
  • Apakah kesempatan perempuan dan anak-anak lebih besar daripada mereka yang pria dewasa?
  • Apakah kesempatan mereka yang datang dari luar negeri lebih besar daripada yang dari dalam negeri?
  • Apakah kesempatan mereka yang datang dari luar Jabodetabek lebih besar daripada yang tinggal di Jabodetabek?
  • Apakah manajemen JKT48 sudah bersikap adil dengan memastikan bahwa tidak ada fans yang melakukan registrasi ganda?

Saya yakin manajemen JKT48 pun ingin membuka kesempatan agar mereka yang belum pernah datang ke theater bisa merasakan pertunjukan keren yang disajikan oleh JKT48. Saya sempat mengajak beberapa teman saya untuk mendaftar dan booking tiket, namun mereka sampai sekarang banyak yang belum pernah mendapatkannya, padahal mereka sangat ingin merasakan suasana di dalamnya.

Saya juga yakin manajemen JKT48 pun ingin isi theater tetap ramai dengan chant mix yang umumnya lebih banyak dimengerti para fans lama. Kalau isinya terlalu banyak penonton baru pun theater terasa kurang menarik. Ini saya rasakan waktu saya mendapat undangan menonton show spesial Demi Konser JKT48 dari IM3. Agak kurang terasa “gereget”-nya karena hanya sedikit yang tahu chant mix lagu yang saat itu dibawakan JKT48.

Saya juga yakin kalau manajemen JKT48 tentu ingin theater tidak terlalu berkesan macho dengan banyaknya fans pria di theater. Langkah yang dilakukan manajemen JKT48 dengan membuat show khusus untuk perempuan dan anak-anak. Mudah-mudahan ini bisa rutin setiap bulan, atau malah mungkin bisa seminggu sekali.

Lalu bagaimana supaya keinginan di atas bisa terwujud? Apakah mekanisme pengundian acak murni sudah memadai? Apakah masih bisa diatur dengan lebih baik lagi supaya setiap segmen di atas bisa lebih terakomodasi?

Tentu saja bisa. Caranya pun sederhana. Hal yang paling awal dilakukan pastinya adalah melakukan pembersihan data ganda. Pastikan setiap orang punya satu kesempatan yang sama. Ini memang paling sulit, karena setiap orang bisa menggunakan KTP/SIM/kartu identitas lain untuk setiap email yang berbeda.

Tak ada cara lain selain memang memverifikasinya manual:

  • Nomor KTP setiap daerah punya format berbeda. Ada yang menggunakan titik, strip, garis miring, dsb. Semua tanda baca ini harus diabaikan saat pengisian, memaksa pendaftar harus mengisi angka saja.
  • Lebih baik peserta diminta untuk mengirimkan juga hasil scan atau foto dari kartu identitas. Registrasi form bisa memanfaatkan fitur webcam untuk memudahkan pendaftar. Verifikasi ini dilakukan manual memang, dengan mencocokan data yang dimasukkan dan hasil foto. Bila tidak cocok, pendaftar bisa ditolak.
  • Pengaturan filter bisa dilakukan, misalnya kalau usia sudah 18 tahun harus menggunakan KTP. Kalau di bawah 18 tahun harus kartu pelajar. Kalau warga negara asing harus passport. Jadi tidak ada kesempatan bagi setiap orang untuk punya identitas kartu ganda saat pendaftaran.

Setelah memisahkan antara proporsi kuota tiket untuk OFC dan umum, langkah berikutnya adalah menentukan bobot antara segmen penonton untuk setiap kuota. Angka pembobotan mungkin yang lebih tahu pihak manajemen JKT48, namun gambaran kasarnya, sebagai contoh bisa disimulasikan sebagai berikut:

  • Yang dari Jakarta dan sudah pernah menonton dalam 7 hari terakhir: 1
  • Yang dari Jakarta dan terakhir menonton lebih dari 7 hari terakhir: 2
  • Yang dari Jakarta dan belum pernah menonton sama sekali: 5
  • Yang datang dari luar kota dan sudah pernah menonton: 3
  • Yang datang dari luar kota dan belum pernah menonton: 6
  • Yang datang dari luar negeri dan sudah pernah menonton: 4
  • Yang datang dari luar negeri dan belum pernah menonton: 7

Pada setiap kali penarikan undian, mereka yang berasal dari Jakarta dan belum pernah menonton theater punya 5x kesempatan lebih besar daripada yang sudah pernah menonton dalam 7 hari terakhir. Atau untuk mereka yang datang dari luar negeri dan belum pernah merasakan theater mendapatkan kesempatan 7x lebih besar daripada orang Jakarta yang sudah pernah menonton.

Kalau memang mekanisme semacam ini sudah dilakukan dalam proses pengundian theater tentunya menyenangkan. Namun kalau memang ternyata belum, akanlah lebih baiknya kalau usulan seperti ini bisa diakomodasi. Berikan kesempatan lebih banyak untuk mereka yang belum pernah menonton, namun tetap jaga supaya atmosfer theater yang menjadi kekhasan tidak pula hilang.

Menurut saya, adil bukan berarti setiap orang punya kesempatan yang sama persis. Namun adil adalah memberi kesempatan lebih untuk mereka yang belum pernah merasakan, agar di akhir kisah semua orang bisa saling berbagi cerita dan pengalaman yang sama.

Belajar dari Konsep JKT48

Sudah beberapa kali saya menulis tentang JKT48 di blog ini, baik itu murni sebagai fans, atau karena memang kagum dengan pemasarannya yang unik. Bulan Februari dulu saking penasarannya dengan reaksi para fans, akhirnya saya mencoba membuat survei singkat dengan mereka sebagai respondennya. Detil tentang survei ini bisa dibaca di blog satunya.

Setelah survei itu berakhir, pembelajaran saya terhadap strategi yang mereka lakukan masih berlanjut. Saya sempat berdiskusi juga dengan beberapa teman yang berlatar belakang advertising, yang juga mengikuti perkembangan JKT48. Berikut ini beberapa poin yang saya tangkap dari apa yang telah mereka lakukan, dan hal-hal yang pernah kami diskusikan.

Storytelling

Hal menarik dari AKB48 dan diadaptasi di JKT48 adalah membangun cerita, yang dilengkapi dengan kejutan. Di AKB48 misalnya. Cerita tentang member terpopuler mereka, Maeda Atsuko, terlihat banget dibangun. Mulai dari pengumuman kalau ia akan lulus, yang bikin member lain kaget dan menangis, karena mereka tidak ada yang tahu. Hingga konser terbesar AKB48 di Tokyo Dome dengan satu hari terasa banget dikhususkan untuk Maeda.

Di JKT48 sendiri, meski skalanya tidak semasif AKB48, cerita seperti itu sudah mulai terasa dibangun beberapa bulan belakangan ini. Kejutan diberikan di akhir setiap pertunjukan yang dianggap khusus. Isu dihembus dengan adanya single baru, tapi dibuat tetap misterius single apa yang dimaksud. Fans dibiarkan penasaran supaya pembicaraan di social media terus berlangsung.

Saat konser spesial Heavy Rotation akhirnya disebutkan kalau yang dimaksud adalah single River, misalnya. Atau saat tiba-tiba diumumkan show JKT48 Trainee akan berakhir. Seketika saja booking tiket di show terakhir di hari Minggu kemarin meningkat tajam mencapai 5.000 pemesanan. Padahal sebelumnya, kalau mau nonton JKT48 Trainee bisa dibilang sangat gampang, karena tak banyak yang melakukan booking.

Cerita akan selalu dimunculkan di setiap eventnya, demi memancing rasa penasaran fans untuk melihat show-show dan kejutan berikutnya. Semakin penasaran, semakin ramai dibicarakan di social media.

Everlasting Brand

Ada yang pernah bertanya ke saya, apakah grup JKT48 ini bisa bertahan lama? Apa yang terjadi kalau member yang paling populer keluar, apakah grup ini bubar? Hal yang lumrah memang mendengar kalau ada grup musisi yang cekcok, tak lama kemudian grup itu bubar jalan. Atau saat vokalis sebuah grup hengkang, meski grup itu sudah digantikan dengan vokalis lain, tetap terasa ada rasa yang berbeda. Grup ini memang sangat tergantung dengan individunya. Lalu apakah JKT48 akan demikian juga?

Saya belum bisa menjawabnya ya. Namun kalau saya amati brand AKB48 di Jepang sana tetap bisa hidup sejak dibentuk pertama kali tahun 2005. Bahkan sampai member paling populernya (yang saya duga juga ikut mendukung popularitas AKB48 belakangan ini), Maeda Atsuko lulus (atau keluar), ternyata brand AKB48 tetap hidup. Tidak ada tanda-tanda ditinggalkan oleh fans-nya.

Menjelang Maeda Atsuko lulus, Team 4 AKB48 yang sudah mandiri tiba-tiba dibubarkan dan dilebur dalam 3 team utama. Beberapa member muda tiba-tiba diangkat dan dikenalkan dengan banyak cara. Ada Paruru (Haruka Shimazaki) yang tiba-tiba didaulat jadi center, muncul di banyak video klip, dan bahkan bersama generasi muda lainnya main di film seri Majisuka Gakuen 3. Wajah-wajah mereka ditampilkan sesering mungkin, untuk menggaet fans-fans baru. Akhirnya brand AKB48 pun bisa tetap hidup dengan wajah-wajah muda dimunculkan.

Saya yakin JKT48 akan melakukan hal serupa bila suatu waktu nanti Melody, Nabilah, Kinal, Shania, atau member lainnya harus lulus dan mencari kesempatan lain. Manajemen pasti sudah akan menyiapkan antisipasi member-member generasi berikutnya untuk menggantikannya.

Gimmicks

Saya dulu termasuk yang nggak pernah percaya kalau jualan merchandise resmi itu bisa laku di Indonesia, karena ujung-ujungnya orang akan cari bajakannya. Sampai akhirnya saya mengalami sendiri sistem penjualan yang dilakukan oleh manajemen JKT48.

Melihat sendiri fans meramaikan booth merchandise di teater saja sudah luar biasa. Melihat fans bertukar koleksi merchandise photo pack, dan bahkan menjualnya dengan harga tinggi, demi bisa menonton teater juga sudah hal yang biasa. Hal ajaib seperti merchandise kaos dengan desain oleh member sendiri (yang jujur saja menurut saya desainnya nggak banget ituh) pun laku dibeli oleh fans.

Di tulisan sebelumnya saya cerita kalau saya antri membeli CD single River yang rilis minggu lalu. Antrian yang nggak diduga ternyata berlangsung selama hampir 5 jam. Melelahkan dan menyebalkan pastinya. Namun semua orang yang antri pada saat itu sudah nggak peduli lagi. Semua dilakukan demi gimmick tiket handshake 1 Juni mendatang. Demi handshake pula ada yang membeli 5 CD, 10 CD, bahkan 50 CD.

Tujuan membeli CD bukan lagi untuk menikmati lagu, namun untuk mengumpulkan gimmick. Karena kalau untuk sekedar menikmati lagu, tak lama setelah single rilis, MP3-nya sudah langsung beredar di jagad internet. Fans nggak lagi membeli CD karena suka dengan lagunya, namun karena ada hal menarik lainnya yang jadi perhatian fans.

Organic Fans

Seorang teman ada yang pernah bertanya juga, itu fans-nya beneran bukan sih? Fans-nya dibentuk oleh Dentsu sebagai agency-nya JKT48 bukan? Saya jelaskan ke teman saya itu, kalau setahu yang saya kenal, fans JKT48 benar-benar asli dan terbentuk secara organik. Banyak dari mereka yang benar-benar mendukung member dengan beragam cara. Baik itu sekedar datang nonton pertunjukan live-nya, nonton di teater, beli merchandise, atau bahkan memberikan gift dan fan letter sebagai bukti dukungannya.

Awalnya saya menduga kalau mayoritas fans JKT48 adalah penyuka AKB48 juga sebelumnya. Ternyata dari survei yang saya sebar waktu itu, malah kebanyakan dari mereka nggak terlalu tahu apa itu AKB48. Kalau pun tahu, nggak pernah dengar lagu mereka juga.

Keberadaan teater tetap di FX-lah yang menjadi penarik utamanya. Fans-fans baru bermunculan karena mendengar cerita menarik dari teman-temannya yang sudah pernah berkunjung ke teaternya. Teater menjadi sanctuary bagi mereka. Kafe dan food court di FX menjadi tempat berkumpul menjelang dan setelah teater. Yang dibicarakan? Ya tentang JKT48.

Saya awalnya mengira perkembangan fans yang organik ini hanya terjadi di Jabodetabek, karena kedekatan aksesnya ke teater. Namun hal luar biasa terjadi saat JKT48 beberapa bulan lalu manggung di Jogja. Saya tidak di sana, namun dari video rekaman fans yang beredar di YouTube, antusias fans JKT48 di sana luar biasa. Ratusan lightstick menyala memenuhi stadion yang dipakai konser. Mereka pun kompak meneriakkan chant mix saat lagu dibawakan. Luar biasa.

Saya yakin di luar hasil survei dan pengamatan yang saya tulis di postingan ini, akan banyak hal luar biasa lagi yang akan mereka lakukan di masa datang. Sesuatu yang mengejutkan, yang membuat para fans hanya bisa berdecak kagum. Saya akan masih terus mengikuti perkembangan JKT48 dan strateginya. Bila ada temuan baru, pastinya akan saya tulis kembali di blog ini.

Baca juga tulisan Widi Asmoro yang membahas pemasaran JKT48 di blognya.